Solidaritas Perempuan Dorong Pemberdayaan Berbasis Lingkungan

Solidaritas Perempuan Dorong Pemberdayaan Berbasis Lingkungan

Suara Pecari, Palembang – Kerusakan lingkungan memberikan dampak yang tidak proporsional terhadap perempuan, mengingat peran mereka dalam pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. Hal ini menjadi perhatian serius Komunitas Solidaritas Perempuan Palembang yang terus mendorong keterlibatan aktif perempuan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ketua Badan Eksekutif Komunitas Solidaritas Perempuan Palembang, Mutia Maharani, menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber dalam acara Pengarusutamaan Gender dan Inklusi di Studio Pro 1 RRI Palembang pada Senin, 29 Juni 2026.

Latar Belakang dan Urgensi

Peringatan Hari Lingkungan Hidup setiap tahunnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif akan pentingnya merawat lingkungan. Namun, bagi perempuan, isu lingkungan bukan sekadar seremonial. Menurut Mutia, kerusakan tanah, hutan, dan sumber air secara langsung mengurangi ruang hidup masyarakat dan memengaruhi kualitas kehidupan, terutama bagi perempuan yang kerap menjadi penanggung jawab utama urusan domestik.

“Kaum perempuan lebih merasakan dampak kerusakan lingkungan seperti ketika air rusak, artinya dia tidak bisa memasak dan tidak bisa menyajikan makanan buat keluarga karena air bersih yang tidak tersedia dengan baik,” tegas Mutia. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana degradasi lingkungan mengancam ketahanan pangan dan kesehatan keluarga, yang ujungnya membebani perempuan.

Dampak Kerusakan Lingkungan terhadap Perempuan

Kerusakan lingkungan tidak hanya mempersulit akses terhadap air bersih, tetapi juga berdampak pada sektor lain. Berikut adalah beberapa dampak utama yang dirasakan perempuan:

AspekDampak pada Perempuan
Air BersihWaktu dan tenaga ekstra untuk mencari air, mengurangi produktivitas ekonomi.
KesehatanPeningkatan penyakit akibat polusi dan sanitasi buruk, beban ganda merawat anggota keluarga sakit.
EkonomiHilangnya mata pencaharian berbasis sumber daya alam (pertanian, perikanan).
SosialMeningkatnya kerentanan terhadap kekerasan domestik akibat stres ekonomi.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa 70% masyarakat miskin di Indonesia bergantung pada sumber daya alam, dan mayoritas adalah perempuan. Dengan demikian, kerusakan lingkungan memperparah ketimpangan gender yang sudah ada.

Inisiatif Komunitas Solidaritas Perempuan

Komunitas Solidaritas Perempuan tidak hanya menyuarakan keprihatinan, tetapi juga melakukan aksi nyata. Program pendampingan difokuskan di wilayah pedesaan, seperti di Sri Bandung, Sumatera Selatan. Di sana, kelompok perempuan telah mengembangkan arisan produk berbasis lingkungan dan berbagai kegiatan pemberdayaan sebagai bentuk solidaritas.

  • Pendampingan Kelompok Perempuan: Memberikan pelatihan tentang hak-hak perempuan, manajemen sumber daya alam, dan keterampilan ekonomi.
  • Arisan Produk Lingkungan: Anggota kelompok menabung dan bergiliran mendapatkan produk ramah lingkungan, seperti kompos, bibit tanaman, atau kerajinan daur ulang.
  • Kampanye Kesadaran: Mengadakan diskusi dan sosialisasi tentang pentingnya menjaga lingkungan untuk ketahanan keluarga.

Mutia menekankan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya isu perempuan, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Kolaborasi dengan pemerintah, swasta, dan organisasi masyarakat sipil diperlukan untuk mencegah kerusakan lingkungan dan memperkuat ketahanan masyarakat.

Implikasi dan Harapan ke Depan

Inisiatif seperti ini memiliki implikasi luas. Pertama, secara langsung meningkatkan kesejahteraan perempuan melalui akses ekonomi dan pengetahuan. Kedua, menciptakan model pemberdayaan yang dapat direplikasi di daerah lain. Ketiga, mendorong perubahan kebijakan yang lebih responsif gender dalam pengelolaan lingkungan.

“Diharapkan melalui kelompok solidaritas ini kaum perempuan bisa saling mendengar, membantu, dan saling menguatkan sehingga kaum perempuan lebih kuat, lebih peduli dengan lingkungan, dan lebih berdaya,” pesan Mutia. Harapan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin kesetaraan gender (SDG 5) dan aksi iklim (SDG 13).

Di tengah krisis iklim global, peran perempuan sebagai agen perubahan lingkungan menjadi semakin krusial. Komunitas Solidaritas Perempuan Palembang telah membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Langkah kecil di Sri Bandung bisa menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di seluruh Indonesia. Saatnya perempuan tidak hanya menjadi korban, tetapi juga garda terdepan dalam menjaga bumi untuk generasi mendatang.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *