Aceh Tamiang Apresiasi Bantuan Pemko Medan Pascabanjir November 2025

Aceh Tamiang Apresiasi Bantuan Pemko Medan Pascabanjir November 2025

Suara Pecari, Medan – Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang secara resmi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kota Medan atas bantuan kemanusiaan yang diberikan pasca bencana banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Kunjungan silaturahmi yang berlangsung di Rumah Makan Pagi Sore, Jalan Kejaksaan, Kecamatan Medan Petisah, Kamis, 9 Juli 2026, menjadi momentum penuh haru yang menandai eratnya hubungan persaudaraan antara kedua daerah.

Latar Belakang Bencana: Banjir Dahsyat Akhir 2025

Pada akhir November 2025, Indonesia dihadapkan pada bencana hidrometeorologi yang melumpuhkan sejumlah wilayah di Sumatera. Kota Medan sendiri tidak luput dari amukan banjir yang merendam 19 dari 21 kecamatan dan berdampak pada sedikitnya 85.000 warga. Namun, di tengah kondisi yang memprihatinkan tersebut, Pemerintah Kota Medan justru tergerak untuk membantu daerah tetangga, Kabupaten Aceh Tamiang, yang mengalami dampak lebih parah. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang mencatat bahwa lebih dari 60% wilayah kabupaten terendam banjir, dengan ketinggian air mencapai 3 meter di beberapa titik. Kerusakan infrastruktur, rumah warga, dokumen penting, hingga aset pemerintah membuat Aceh Tamiang harus memulai dari nol untuk membangun kembali.

Solidaritas Tanpa Batas: Medan Bergerak Cepat

Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, dalam sambutannya menceritakan momen ketika dirinya memutuskan untuk mengirimkan bantuan. “Kami mendengar kabar bahwa kondisi di Aceh Tamiang sangat fatal. Betul-betul terendam, dan masyarakat serta Pak Bupati sendiri saat itu sangat membutuhkan bantuan,” ucap Rico. Keputusan untuk bergerak diambil pada momentum Hari Bela Negara, yang bagi Rico memiliki makna mendalam: membela negara berarti membela sesama anak bangsa yang tertimpa musibah. “Saat itu saya bilang, ‘Oke kita ke Tamiang. Ayo kita bantu Tamiang. Apa yang kita punya sekarang? Apa yang dibutuhkan oleh Aceh Tamiang? Pembersihan.’ Maka pemadam kebakaran dan alat berat dari Dinas SDABMBK langsung kita turunkan. Kami tidak mencari penghargaan atau timbal balik apa pun. Ini murni bicara tentang kemanusiaan dan persahabatan,” tegas Rico.

Bantuan yang Dikirimkan: Personel, Alat Berat, dan Stimulus Anggaran

Pemerintah Kota Medan tidak hanya mengirimkan bantuan logistik, tetapi juga personel dan alat berat untuk membantu proses evakuasi dan pembersihan. Berikut adalah rincian bantuan yang dikerahkan:

Jenis BantuanJumlahKeterangan
Personel Damkar50 orangBertugas selama lebih dari 4 bulan
Alat Berat (ekskavator, buldoser)10 unitDigunakan untuk pembersihan infrastruktur vital
Stimulus AnggaranRp 5 miliarDialokasikan untuk percepatan pemulihan

Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, mengungkapkan rasa haru atas dedikasi tim dari Medan. “Yang pertama datang membantu kami adalah dari Pemko Medan. Petugas Damkar dan alat berat PU sangat membantu membersihkan infrastruktur vital kami yang hancur akibat bencana dahsyat tersebut. Hebatnya, mereka bekerja di Tamiang selama lebih dari empat bulan,” ucap Armia. Koordinasi yang fleksibel dan penuh empati dari Wali Kota Medan membuat masa tugas tim penyelamat terus diperpanjang demi memastikan Aceh Tamiang benar-benar siap bangkit.

Dampak dan Implikasi: Lebih dari Sekadar Bantuan Fisik

Bantuan yang diberikan Pemko Medan tidak hanya berdampak pada pemulihan infrastruktur, tetapi juga membangkitkan semangat masyarakat Aceh Tamiang. Kehadiran tim penyelamat dari Medan menjadi simbol bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Implikasi jangka panjang dari solidaritas ini adalah memperkuat hubungan bilateral antardaerah yang dapat menjadi model kolaborasi penanggulangan bencana di Indonesia. Selain itu, stimulus anggaran sebesar Rp5 miliar membantu mempercepat rehabilitasi fasilitas umum seperti jalan, jembatan, dan gedung pemerintahan yang rusak parah.

Kronologi Peristiwa: Dari Banjir hingga Apresiasi

  • 27 November 2025: Banjir besar melanda Aceh Tamiang dan Medan. Medan merendam 19 kecamatan, Aceh Tamiang lebih dari 60% wilayah terendam.
  • 28 November 2025: Wali Kota Medan memerintahkan pengiriman tim damkar dan alat berat ke Aceh Tamiang.
  • Desember 2025 – April 2026: Tim dari Medan bertugas di Aceh Tamiang selama lebih dari 4 bulan, melakukan evakuasi dan pembersihan.
  • 9 Juli 2026: Pemkab Aceh Tamiang mengadakan kunjungan ke Medan untuk menyampaikan apresiasi secara langsung.

Harapan ke Depan: Bangkit Bersama Lebih Kuat

Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menyatakan optimisme bahwa Aceh Tamiang di bawah kepemimpinan Bupati Armia Fahmi akan segera bangkit dan jauh lebih jaya. “Meskipun kerusakan massal membuat mereka harus start from zero, kami percaya semangat gotong royong dan dukungan dari berbagai pihak akan mempercepat pemulihan,” ujarnya. Sementara itu, Bupati Armia Fahmi menegaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk komitmen untuk terus menjalin kerja sama yang erat dengan Pemko Medan dalam berbagai bidang.

Di tengah keterbatasan, solidaritas yang ditunjukkan oleh Pemko Medan menjadi bukti bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas administrasi. Aceh Tamiang dan Medan telah menuliskan babak baru dalam sejarah persaudaraan antardaerah yang patut dicontoh. Semoga semangat ini terus menyala, tidak hanya saat bencana, tetapi juga dalam pembangunan berkelanjutan ke depan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *