FGD Ekonomi Sirkular di Unimal: Merumuskan Strategi Nasional Pengelolaan Limbah Plastik
Suara Pecari, Lhokseumawe – Persoalan limbah plastik yang semakin mengkhawatirkan tidak lagi dipandang sekadar isu lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berangkat dari semangat tersebut, Katahati Institute bekerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh (Unimal) dengan dukungan Pegadaian Area Banda Aceh menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pengelolaan Lingkungan dan Pengolahan Limbah Plastik Berbasis Ekonomi Sirkular untuk Mendukung Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan Green Community” di Aula Cut Meutia, Kampus Bukit Indah, Kota Lhokseumawe. Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, organisasi masyarakat, dan pegiat lingkungan untuk merumuskan langkah kolaboratif dalam membangun sistem pengelolaan limbah plastik berbasis ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Paradigma Baru Ekonomi Sirkular
Ketua Dekranasda Aceh, Marlina Muzakir, yang dibacakan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Aceh, menyebutkan bahwa FGD tersebut merupakan ruang strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dalam menghadapi persoalan sampah plastik yang kian kompleks. Menurutnya, konsep ekonomi sirkular menawarkan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya melalui pengurangan timbunan sampah, penggunaan kembali, daur ulang, hingga pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah. Pendekatan tersebut diyakini mampu menciptakan peluang usaha baru, membuka lapangan kerja, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri kreatif.
Ancaman Serius Limbah Plastik
Pada sesi diskusi, Guru Besar Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ichwana M.P, mengingatkan bahwa limbah plastik telah berkembang menjadi ancaman serius bagi lingkungan. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah menyebabkan meningkatnya pencemaran lingkungan, masuknya mikroplastik ke dalam rantai makanan, pembakaran sampah yang menghasilkan zat berbahaya, hingga penyumbatan saluran drainase yang memicu banjir di kawasan perkotaan. Meski demikian, ia menilai limbah plastik masih memiliki nilai ekonomi apabila dikelola melalui pendekatan ekonomi sirkular sebagai bahan baku industri maupun produk kreatif yang mampu membuka lapangan kerja baru.
Peta Jalan SDGs dan Ekonomi Sirkular
Ia juga menjelaskan bahwa Indonesia telah memiliki arah kebijakan yang jelas melalui Peta Jalan SDGs Indonesia dan Peta Jalan Ekonomi Sirkular 2025-2045. Pemerintah menargetkan tercapainya Nol Sampah Plastik pada 2040 serta Nol Sampah dan Nol Emisi pada 2050 melalui penerapan strategi 9R, yakni Refuse, Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture, Repurpose, dan Recycle. Menurut Prof. Ichwana, penerapan ekonomi sirkular berkontribusi terhadap pencapaian berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan, mulai dari pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pembangunan kota berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, hingga aksi nyata dalam menghadapi perubahan iklim.
| Target | Tahun | Strategi |
|---|---|---|
| Nol Sampah Plastik | 2040 | 9R |
| Nol Sampah dan Nol Emisi | 2050 | Ekonomi Sirkular |
Inovasi Plastik Ramah Lingkungan dari Unimal
Sementara itu, peneliti Center of Excellence (CoE) TechnoPlast Universitas Malikussaleh, Dr. Ir. Rozanna Dewi M.Sc IPM, memaparkan hasil riset yang telah dikembangkan tim peneliti Unimal terkait inovasi plastik ramah lingkungan. Melalui penelitian tersebut, Universitas Malikussaleh berhasil mengembangkan plastik degradable berbahan dasar pati sagu yang berpotensi menjadi alternatif pengganti plastik konvensional berbasis petrokimia. Inovasi itu kemudian dikembangkan melalui perusahaan rintisan PT Plastik Sago Teknologi (PST) dan mendapat dukungan kerja sama dari berbagai lembaga nasional, termasuk Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat dan Industri
Inovasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada plastik konvensional yang sulit terurai, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani sagu dan pelaku UMKM. Dengan bahan baku lokal yang melimpah, produksi plastik degradable dapat menjadi industri padat karya yang menyerap tenaga kerja. Bagi pemerintah, keberhasilan riset ini mendukung target nasional pengurangan sampah plastik dan pencapaian SDGs. Namun, tantangan masih ada dalam hal skala produksi, biaya, dan penerimaan pasar.
Langkah Awal Membangun Ekosistem Ekonomi Sirkular
Ketua Badan Pengurus Katahati Institute, Chairul Muslim, mengatakan forum tersebut menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular di Kota Lhokseumawe. “Pengelolaan limbah plastik tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi baru yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu diperlukan kolaborasi semua pihak agar ekosistem ini dapat tumbuh secara berkelanjutan,” tuturnya. Rabu 8 Juli 2026.
Rekomendasi Strategis FGD
Menurut Chairul, FGD menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain:
- Penyusunan rencana bisnis ekonomi sirkular di Kota Lhokseumawe
- Penyusunan rekomendasi kebijakan bagi Pemerintah Kota Lhokseumawe
- Penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha
- Pembentukan sekretariat bersama sebagai wadah koordinasi untuk memastikan keberlanjutan program
FGD tersebut juga menjadi momentum istimewa bagi Katahati Institute karena bertepatan dengan peringatan 25 tahun berdirinya lembaga tersebut. “Di usia ke-25 tahun, kami bersyukur dapat mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas persoalan limbah plastik yang selama ini belum memperoleh perhatian secara optimal. Kami berharap forum ini menjadi awal gerakan bersama menuju lingkungan yang lebih bersih, ekonomi yang lebih inklusif, serta masyarakat yang semakin peduli terhadap keberlanjutan,” kata Chairul.
Penutup Naratif
Di tengah krisis sampah plastik yang mendunia, inisiatif seperti FGD Ekonomi Sirkular di Unimal menjadi secercah harapan. Bukan sekadar diskusi, forum ini telah merumuskan langkah konkret yang melibatkan semua elemen. Dari laboratorium Unimal lahir plastik sagu yang ramah lingkungan; dari ruang diskusi lahir rekomendasi kebijakan dan rencana bisnis. Kini, tugas bersama adalah memastikan bahwa setiap rekomendasi tidak hanya menjadi dokumen, melainkan aksi nyata yang mengubah tumpukan sampah menjadi berkah ekonomi. Masa depan bersih dan sejahtera ada di tangan kolaborasi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










