TNI AD Kedatangan Heli Mi-35 M Bisa Angkat Beban 5 Ton, Untuk Bantu Warga Papua
Suara Pecari – TNI Angkatan Darat (AD) memperkuat kemampuan armada helikopternya dengan kedatangan helikopter serbu Mi-35 M asal Rusia yang mampu mengangkut beban hingga lima ton. Penambahan alutsista ini diharapkan mendukung berbagai kebutuhan operasi TNI AD sekaligus membantu masyarakat di wilayah sulit dijangkau, khususnya di kawasan pegunungan Papua.
Helikopter Multifungsi untuk Operasi dan Bantuan Masyarakat
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, menjelaskan bahwa helikopter Mi-35 M tidak hanya berfungsi sebagai helikopter tempur, tetapi juga dapat digunakan untuk mengangkut personel dan membawa beban berat. Spesifikasi helikopter ini memungkinkan angkut beban hingga lima ton, meskipun dalam pelaksanaan di medan tinggi seperti Papua, beban yang diangkut biasanya dibatasi sekitar tiga ton demi keamanan.
“Selama ini kami hanya bisa menyewa helikopter dari pihak luar untuk wilayah Papua. Kini, dengan adanya helikopter Mi-35 M, kami memiliki armada sendiri yang lebih siap dan bisa dioperasikan sesuai kebutuhan,” ujar Maruli.
Dukungan untuk Wilayah Pegunungan Papua
Wilayah pegunungan Papua dikenal sulit dijangkau, sehingga distribusi bantuan kepada masyarakat setempat sering terkendala. Dengan kemampuan Mi-35 M mengangkut beban berat dan personel, TNI AD berharap dapat memperbaiki akses logistik dan bantuan sosial di daerah tersebut.
Maruli menambahkan, “Helikopter ini dapat mendukung personel kami sekaligus membantu masyarakat yang selama ini kesulitan menerima bantuan karena keterbatasan penerbangan.” Rencananya, operasional helikopter jenis Kamov untuk membantu masyarakat di Papua akan dimulai pada bulan Oktober.
Pengembangan Fungsi Helikopter untuk Penanganan Karhutla
Selain fungsi tempur dan pengangkutan, TNI AD juga mengembangkan kemampuan helikopter untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui metode water bombing, yaitu pemadaman api dari udara dengan menjatuhkan air ke titik kebakaran.
“Saat ini kami sudah memiliki tujuh helikopter yang dipersiapkan untuk water bombing. Pelatihan pengoperasian dilakukan selama hampir satu bulan untuk memastikan personel menguasai teknik mengambil dan menyemprotkan air dari udara,” jelas Maruli.
Tantangan Geografis dalam Pengoperasian Helikopter
Indonesia memiliki kondisi geografis yang beragam dan sulit, terutama di wilayah dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter seperti di Papua. Hal ini menuntut keahlian pilot dan kru helikopter agar operasi dapat berjalan aman dan efektif.
“Pengoperasian helikopter di medan tinggi memerlukan keterampilan khusus dari para pilot dan kru. Kami terus meningkatkan kemampuan mereka agar dapat menghadapi tantangan ini,” tambah Maruli.
Persiapan dan Penampilan Alutsista Baru
Menjelang HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober mendatang, beberapa helikopter baru sudah mulai tersedia dan dipersiapkan untuk mengikuti defile. Namun, tidak semua helikopter baru dapat langsung tampil karena beberapa masih dalam proses persiapan teknis yang cukup rumit.
Helikopter yang difokuskan untuk penanganan karhutla kemungkinan besar tidak akan mengikuti defile karena masih menjalankan tugas operasional di lapangan.
Kesimpulan
<pDengan kedatangan helikopter Mi-35 M yang mampu mengangkut beban hingga lima ton, TNI AD memperkuat kemampuan operasionalnya sekaligus meningkatkan pelayanan bantuan kepada masyarakat di wilayah sulit dijangkau seperti Papua. Selain itu, pengembangan fungsi helikopter untuk penanganan karhutla juga menunjukkan komitmen TNI AD dalam mendukung berbagai tugas kemanusiaan dan operasi di Indonesia.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










