Babinsa Parongil Perkuat Silaturahmi dengan Jemaat GPSI Kristus Gembala
Kehadiran Babinsa dalam Ibadah: Lebih dari Sekadar Pengamanan
Suara Pecari, Medan – Suasana khidmat menyelimuti Gereja GPSI Kristus Gembala di Kelurahan Parongil, Kecamatan Silima Pungga-Pungga, Kabupaten Dairi, pada Minggu, 5 Juli 2026. Sekitar pukul 09.00 WIB, jemaat mulai berdatangan, dan di antara mereka tampak seorang pria berseragam hijau loreng yang tak hanya duduk di barisan belakang, tetapi ikut larut dalam lantunan pujian. Dia adalah Serda E.M. Nababan, Babinsa Koramil 03/Parongil Kodim 0206/Dairi. Kehadirannya bukan sekadar memonitor keamanan, melainkan juga wujud nyata kedekatan TNI dengan masyarakat.
Ibadah Minggu kali ini dipimpin oleh Pendeta Nehemia Panjaitan yang menyampaikan khotbah berdasarkan Ibrani 12:1 dengan tema “Menganjurkan Orang Percaya untuk Hidup Bertekun Dalam Iman.” Sekitar 100 jemaat hadir, memenuhi bangku gereja. Sepanjang acara, situasi berlangsung aman, tertib, dan penuh kekhusyukan.
Sinergi TNI dan Masyarakat: Membangun Kepercayaan Melalui Pendekatan Humanis
Serda E.M. Nababan mengungkapkan bahwa monitoring kegiatan ibadah merupakan bagian dari tugas pembinaan teritorial. “Kami hadir untuk memastikan seluruh rangkaian ibadah berlangsung dengan aman dan lancar. Di sisi lain, sebagai umat Kristiani, saya juga mengikuti ibadah bersama jemaat. Ini menjadi kesempatan untuk menjalin silaturahmi dengan pengurus gereja dan warga, sehingga komunikasi yang baik antara TNI dan masyarakat terus terpelihara,” ujarnya.
Langkah ini sejalan dengan instruksi Danramil 03/Parongil, Kapten Inf. Hernandez, yang menekankan pentingnya pendekatan humanis. “Babinsa tidak hanya bertugas menjaga situasi keamanan tetap kondusif, tetapi juga harus mampu membangun hubungan yang harmonis dengan seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang,” tegas Kapten Hernandez dalam keterangan terpisah. Menurutnya, melalui pendekatan seperti ini, diharapkan tercipta rasa kebersamaan, saling percaya, dan sinergi yang semakin kuat antara TNI, tokoh agama, serta masyarakat.
Kegiatan seperti ini menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas keamanan dan memperkokoh persatuan di wilayah Kecamatan Silima Pungga-Pungga. Apalagi, daerah ini dikenal memiliki keragaman suku dan agama, sehingga kehadiran aparat secara langsung di tengah umat menjadi simbol toleransi dan pengayoman.
Kronologi Kegiatan
- Pukul 08.30 WIB: Babinsa tiba di lokasi gereja, berkoordinasi dengan pengurus gereja dan petugas keamanan setempat.
- Pukul 09.00 WIB: Ibadah dimulai dengan lagu pembukaan dan doa.
- Pukul 09.15 WIB: Pendeta Nehemia Panjaitan menyampaikan khotbah.
- Pukul 10.30 WIB: Ibadah selesai, dilanjutkan dengan ramah tamah antara Babinsa dan jemaat.
- Pukul 11.00 WIB: Babinsa meninggalkan lokasi setelah situasi dipastikan kondusif.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat
Kehadiran Babinsa dalam kegiatan keagamaan memberikan beberapa dampak positif:
| Aspek | Dampak |
|---|---|
| Keamanan | Meningkatkan rasa aman jemaat saat beribadah, mencegah potensi gangguan. |
| Silaturahmi | Mempererat hubungan TNI dengan masyarakat, membangun kepercayaan. |
| Toleransi | Menunjukkan bahwa TNI hadir untuk semua golongan tanpa diskriminasi. |
| Stabilitas | Memperkuat persatuan dan mencegah konflik horizontal di masyarakat. |
Lebih jauh, kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana aparat keamanan dapat berperan sebagai pengayom sekaligus bagian dari komunitas. Di era disinformasi dan potensi polarisasi, pendekatan seperti ini sangat penting untuk menjaga kohesi sosial.
Perspektif Tambahan: Peran Babinsa dalam Pembinaan Teritorial
Pembinaan teritorial (binter) merupakan salah satu tugas pokok TNI AD. Melalui binter, TNI berupaya mewujudkan kondisi wilayah yang aman dan kondusif dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Kehadiran Babinsa di gereja bukanlah hal baru, namun tetap relevan di tengah dinamika sosial yang terus berubah.
Menurut analis militer dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Widjajanto, “Pendekatan humanis seperti yang dilakukan Babinsa Parongil adalah kunci keberhasilan binter. Ketika masyarakat merasa dekat dengan TNI, maka informasi tentang potensi gangguan keamanan akan lebih cepat diperoleh. Ini adalah bentuk intelijen berbasis kewilayahan yang efektif.”
Di Kabupaten Dairi sendiri, TNI telah menjalin kerjasama dengan berbagai tokoh agama dan masyarakat. Program “Babinsa Masuk Gereja” dan “Babinsa Masuk Masjid” menjadi agenda rutin untuk memperkuat sinergi. Serda Nababan sendiri sudah beberapa kali mengikuti ibadah di GPSI Kristus Gembala dan diterima dengan hangat oleh jemaat.
Penutup Naratif
Matahari mulai meninggi saat ibadah usai. Serda Nababan menyalami satu per satu jemaat yang keluar dari gereja. Tawa dan sapaan akrab mewarnai perpisahan. Di balik seragam lorengnya, tersimpan semangat untuk terus mengabdi dan melindungi, bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan kehadiran yang tulus. Di Parongil pagi itu, tembok pemisah antara aparat dan rakyat seolah runtuh, digantikan oleh rasa saling percaya. Dan di situlah sejatinya kekuatan sebuah bangsa bertumpu—pada silaturahmi yang tak lekang oleh waktu.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










