IHSG Masih Melemah, Berpotensi Uji Support 6.250-6.300
Suara Pecari | IHSG diperkirakan masih melemah pada perdagangan Rabu, berpotensi menguji level support 6.250-6.300 setelah sehari sebelumnya anjlok 3,46 persen ke level 6.370,68.
Pasar menanti pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027, yang pertama kali disampaikan langsung oleh presiden.
Selain itu, investor juga mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 5 persen untuk meredam pelemahan rupiah.
Kenaikan BI rate diharapkan menstabilkan nilai tukar, namun berpotensi menekan likuiditas pasar sementara pertumbuhan kredit April 2026 diprakirakan mencapai 9,7 persen year-on-year, naik dari 9,49 persen pada Maret.
Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN April 2026 turun menjadi Rp164,4 triliun dari Rp240,1 triliun pada Maret, ditopang keseimbangan primer yang kembali surplus Rp28 triliun.
Pendapatan negara meningkat menjadi Rp918,4 triliun dan belanja negara naik menjadi Rp1.082,8 triliun, memberikan sedikit optimisme di tengah tekanan pasar.
Tim Analis Phintraco Sekuritas menyatakan IHSG berpotensi uji level support 6.250-6.300 akibat tekanan jual yang masih berlangsung di Bursa Efek Indonesia.
Penurunan tajam IHSG dipicu kekhawatiran investor terhadap rencana pemerintah membentuk badan khusus untuk mengatur ekspor batu bara, CPO, dan mineral logam.
Rencana tersebut menimbulkan kekhawatiran potensi pengendalian harga jual yang dapat menurunkan margin laba perusahaan, sehingga memperberat prospek IHSG jangka pendek.
Pelaku pasar mencermati perkembangan kebijakan ekspor karena dapat mengubah struktur industri komoditas dan menambah ketidakpastian di pasar modal.
Perbaikan defisit APBN dan surplus keseimbangan primer menjadi angin segar, namun pelemahan rupiah dan ekspektasi kenaikan suku bunga masih menjadi beban utama IHSG.
Dengan berbagai sentimen yang ada, IHSG diperkirakan masih volatil dengan kecenderungan melemah, dan level support 6.250-6.300 menjadi target uji selanjutnya jika tekanan jual berlanjut.
Kondisi pasar saham Indonesia masih rentan terhadap pelemahan lanjutan seiring ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter, serta kekhawatiran dampak regulasi ekspor terhadap kinerja emiten.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.
















