Shoim Haris: Pemerataan Ekonomi Indonesia Masih Belum Optimal di Tengah Pertumbuhan Stabil
Suara Pecari | Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar, M. Shoim Haris, mengemukakan bahwa pemerataan ekonomi di Indonesia masih jauh dari harapan meskipun pertumbuhan ekonomi menunjukkan stabilitas. Dalam sesi diskusi FOSTA DPR RI, Shoim menegaskan bahwa meskipun sejumlah indikator makroekonomi memberikan sinyal positif, distribusi kesejahteraan masyarakat masih sangat tidak merata.
“Meskipun pertumbuhan terlihat stabil, kenyataannya adalah ketimpangan dalam distribusi kekayaan yang masih tinggi,” ungkap Shoim. Dia menilai kondisi ini mencerminkan tingginya kompleksitas sistem yang ada, yang sering disebut sebagai ‘entropi politik’, yang menghambat optimalisasi potensi besar yang dimiliki Indonesia.
Shoim menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keunggulan seperti sumber daya alam yang melimpah, populasi muda yang besar, dan posisi strategis di kawasan, tetapi semua itu terhambat oleh masalah dalam tata kelola birokrasi dan penegakan hukum. Praktik regulasi yang bersifat tumpang tindih dan kebijakan pembangunan yang tidak konsisten menjadi tantangan yang perlu segera diperbaiki.
Selain itu, Shoim juga menyoroti perlunya perbaikan dalam sistem birokrasi yang sering kali berbelit-belit, yang berkontribusi pada tingginya biaya ekonomi dan munculnya korupsi sistemik. “Kesadaran kolektif kita terfragmentasi, dan tidak ada visi yang kuat untuk mendorong perubahan yang signifikan,” tambahnya.
Dia juga menyatakan bahwa reformasi yang seharusnya menjadi pendorong percepatan pembangunan belum berjalan efektif, sehingga berbagai program sering terhenti di tengah jalan. Shoim mengilustrasikan perbandingan antara Indonesia dan Vietnam, yang dinilai berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonominya melalui reformasi yang lebih terarah dan konsisten.
Ketua Umum FOSTA, Nur Wahyu Satrio Wibowo, menambahkan bahwa generasi muda politik harus menyadari pentingnya mendorong perubahan sistem untuk menjaga stabilitas politik nasional. Dia menekankan bahwa kesadaran politik adalah kunci agar Indonesia tidak terjebak dalam stagnasi pembangunan.
Dari forum diskusi ini, diharapkan muncul gagasan-gagasan baru yang dapat memperkuat stabilitas politik dan mendorong pemerataan ekonomi yang lebih adil di seluruh Indonesia. “Jika generasi FOSTA tidak memiliki kesadaran, kita akan membiarkan kekacauan berlanjut,” tutup Satrio.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












