Chatib Basri Bongkar Alasan Rupiah Tembus Rp 18 Ribu per Dolar AS: Bukan Cuma Geopolitik, tapi Risiko Fiskal
Suara Pecari | Ekonom senior sekaligus anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Chatib Basri membongkar alasan rupiah tembus Rp 18 ribu per dolar AS. Dalam pemaparannya di acara Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6), ia mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah tidak semata-mata akibat perang Iran-Israel atau gejolak geopolitik global, melainkan lebih dipengaruhi oleh risiko fiskal dalam negeri.
Mengawali penjelasannya, Chatib Basri bongkar alasan rupiah tembus Rp 18 ribu per dolar AS dengan menyoroti data Credit Default Swap (CDS) Indonesia. Menurutnya, CDS yang merupakan indikator persepsi risiko investor terhadap kemampuan pemerintah membayar utang, telah memburuk sebelum konflik Timur Tengah memanas. “Hasilnya cukup menarik karena 23% dari pelemahan rupiah itu sebetulnya bisa dijelaskan oleh CDS,” ujar Chatib. Ia menegaskan, “Kalau kemudian dibilang bahwa penyebabnya adalah perang, that’s not true.” Depresiasi rupiah yang lebih dalam dibanding negara lain yang juga terdampak geopolitik menjadi bukti bahwa faktor domestik memegang peran penting.
Dalam kesempatan yang sama, Chatib Basri bongkar alasan rupiah tembus Rp 18 ribu per dolar AS dengan membandingkan kondisi fundamental ekonomi. Meski pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61% dan inflasi terkendali, rupiah tetap tertekan. Ia menekankan bahwa risiko fiskal, termasuk kekhawatiran terhadap defisit anggaran dan efektivitas program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi faktor utama yang memicu pelemahan. “Kami menyampaikan salah satu isu penting yang harus diperhatikan adalah kemungkinan risiko kenaikan harga akibat pelemahan rupiah, yang akan berdampak pada masyarakat menengah bawah,” jelas Chatib saat melaporkan kondisi ekonomi kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan.
Sebagai respons, Bank Indonesia (BI) pada hari yang sama menaikkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Langkah ini diambil untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah gejolak global. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan suku bunga ini juga bertujuan meningkatkan imbal hasil investasi portfolio asing. Namun, Chatib Basri mengingatkan bahwa kebijakan moneter saja tidak cukup tanpa perbaikan fundamental fiskal.
Di sisi lain, pertemuan Chatib Basri bersama Ketua DEN Luhut Binsar Panjaitan dan anggota DEN lainnya dengan Presiden Prabowo pada Selasa (9/6) dikonfirmasi oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad sebagai forum pembahasan strategi ekonomi. Dasco menjelaskan, DEN akan menyampaikan masukan terkait efisiensi anggaran dan langkah-langkah pemulihan kepercayaan pasar.
Pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp 18.188 per dolar AS pada awal pekan, kemudian menguat tipis ke Rp 18.058 per dolar AS setelah pengumuman kenaikan suku bunga BI. Meski demikian, Chatib Basri bongkar alasan rupiah tembus Rp 18 ribu per dolar AS sebagai sinyal bahwa pemerintah harus serius mengelola risiko fiskal. Ia juga menyoroti pentingnya membangun kepercayaan (trust) publik dan investor melalui kebijakan yang kredibel.
Dalam konteks yang lebih luas, Chatib juga mengingatkan bahwa era kecerdasan buatan (AI) menuntut kemampuan bertanya yang tepat, bukan sekadar mencari jawaban. Namun, isu utama yang mengemuka adalah bagaimana Indonesia dapat keluar dari tekanan nilai tukar tanpa mengorbankan stabilitas harga dan pertumbuhan. Dengan data CDS yang menjadi sorotan, langkah BI menaikkan suku bunga diharapkan dapat menahan arus keluar modal asing dan memperkuat rupiah.
Kesimpulannya, Chatib Basri telah membuka tabir penyebab sesungguhnya di balik pelemahan rupiah yang tembus Rp 18 ribu per dolar AS. Bukan semata perang, melainkan risiko fiskal yang harus segera diatasi melalui kebijakan anggaran yang prudent dan komunikasi yang efektif kepada pasar. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu bergerak sinergis untuk memulihkan kepercayaan dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












