Pemerintah Kawal Pemulihan Harga Ayam Peternak Rakyat Lewat Komitmen PINSAR dan Program MBG
Suara Pecari | Jakarta – Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengambil langkah strategis untuk mengawal pemulihan harga ayam broiler di tingkat peternak. Langkah ini diambil di tengah kondisi kelebihan pasokan ayam hidup yang telah menekan harga jual peternak. Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, menyatakan bahwa pemerintah mendukung penuh komitmen yang disepakati oleh Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia) dalam rapat koordinasi di Semarang, Jawa Tengah.
Latar Belakang Kelebihan Pasokan
Kelebihan pasokan ayam broiler menjadi momok bagi peternak rakyat dalam beberapa bulan terakhir. Produksi yang melimpah tidak diimbangi dengan permintaan pasar yang stabil, sehingga harga di tingkat peternak anjlok. Data Bapanas menunjukkan bahwa pada awal Juni 2026, harga live bird di beberapa sentra produksi sempat berada di bawah biaya produksi, yang diperkirakan sekitar Rp16.000 per kilogram. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan keberlanjutan usaha peternak kecil dan menengah.
Komitmen PINSAR dan Target Harga
Melalui rapat koordinasi di Semarang, PINSAR Indonesia bersama pelaku usaha perunggasan menyepakati kenaikan harga live bird secara bertahap. Pada 12 Juni 2026, harga di Jawa Tengah mencapai Rp17.000 per kilogram, sementara di Jawa Barat dan Jawa Timur sebesar Rp17.500 per kilogram. Target ambisius PINSAR adalah mencapai harga Rp19.500 per kilogram pada 15 Juni 2026. Pemerintah berperan sebagai pengawal komitmen ini, memastikan seluruh rantai pasok mematuhi kesepakatan.
| Wilayah | Harga Live Bird (12 Juni 2026) | Target Harga (15 Juni 2026) |
|---|---|---|
| Jawa Tengah | Rp17.000/kg | Rp19.500/kg |
| Jawa Barat | Rp17.500/kg | Rp19.500/kg |
| Jawa Timur | Rp17.500/kg | Rp19.500/kg |
Peran Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Selain pengawasan harga, pemerintah juga menggenjot penyerapan ayam dan telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa konsumsi ayam dan telur dalam program MBG akan ditingkatkan menjadi tiga hingga lima kali per minggu. Langkah ini diharapkan dapat menyerap kelebihan pasokan dan memberikan kepastian pasar bagi peternak. Pemerintah juga berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional untuk memastikan distribusi produk peternak ke berbagai daerah.
Dampak dan Implikasi
Kebijakan ini memiliki dampak luas tidak hanya bagi peternak rakyat, tetapi juga bagi konsumen dan industri perunggasan secara keseluruhan. Berikut beberapa implikasi yang perlu dicermati:
- Bagi Peternak: Kenaikan harga diharapkan dapat menutup biaya produksi dan memberikan margin keuntungan yang layak. Namun, keberhasilan sangat bergantung pada disiplin seluruh pelaku rantai pasok dalam mematuhi kesepakatan harga.
- Bagi Konsumen: Kenaikan harga live bird berpotensi mendorong kenaikan harga daging ayam di pasar ritel. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak inflasi pangan.
- Bagi Industri: Program MBG menjadi instrumen stabilisasi yang efektif dengan menciptakan permintaan institusional. Namun, keberlanjutan program perlu dijamin agar tidak terjadi gejolak pasokan setelah program berakhir.
- Bagi Pemerintah: Keberhasilan pengawalan harga akan menjadi indikator kredibilitas Bapanas dalam menjaga stabilitas pangan. Kegagalan dapat memicu krisis kepercayaan.
Distribusi Stok ke Daerah
Pemerintah juga menyiapkan langkah distribusi stok ayam ke berbagai daerah untuk menjaga keseimbangan pasokan. Langkah ini penting mengingat disparitas harga antara daerah produsen dan konsumen. Dengan distribusi yang merata, diharapkan harga di tingkat peternak dapat terjaga tanpa membebani konsumen di daerah non-produksi.
Penutup Naratif
Di tengah tantangan kelebihan pasokan yang berkepanjangan, sinergi antara pemerintah, asosiasi peternak, dan pelaku usaha menjadi kunci pemulihan. Komitmen yang ditegaskan di Semarang bukan sekadar janji di atas kertas, melainkan panggilan untuk aksi kolektif. Program MBG yang digenjot memberikan harapan baru bagi peternak rakyat, namun konsistensi pengawasan dan eksekusi di lapangan akan menentukan apakah harga ayam benar-benar kembali ke tingkat yang wajar. Peternak rakyat, yang selama ini menjadi tulang punggung produksi unggas nasional, layak mendapatkan kepastian pasar yang adil dan berkelanjutan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












