Bitcoin Price Tertekan: Arus Keluar ETF dan Krisis Likuiditas Pasar Kredit Swasta Picu Kekhawatiran Risiko
Suara Pecari, Bitcoin price kembali menjadi sorotan setelah mengalami tekanan signifikan pada kuartal kedua tahun ini. Harga bitcoin turun sekitar 14% sepanjang April hingga Juni, menembus level $60.000 dan mencatatkan kerugian kuartalan ketiga berturut-turut. Penurunan ini terjadi di tengah arus keluar besar-besaran dari dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) bitcoin spot di Amerika Serikat, yang mencapai hampir $5 miliar. Data dari SoSoValue menunjukkan bahwa ETF Bitcoin BlackRock, IBIT, memimpin arus keluar pada bulan Juni. Para analis mengaitkan fenomena ini dengan rotasi modal menuju saham-saham kecerdasan buatan (AI) dan peluang investasi bergengsi lainnya, seperti IPO SpaceX yang fenomenal.
Meski arus keluar ETF bitcoin tergolong besar, jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan tekanan likuiditas yang melanda pasar kredit swasta senilai $2 triliun. Menurut data yang dilacak oleh Fitch Ratings, permintaan penebusan di sektor tersebut melonjak hingga $15,6 miliar pada kuartal kedua, melampaui batas kuartalan standar sebesar 5% yang diterapkan oleh sebagian besar perusahaan pengembangan bisnis (BDC). Akibatnya, banyak investor hanya menerima sebagian dari dana mereka dan harus mengantre untuk penebusan di kuartal-kuartal mendatang. Rata-rata permintaan penebusan mencapai 10,3% dari saham, naik dari 9,7% pada kuartal pertama, dengan kisaran yang lebar antara 1,3% hingga 38,1% di Blue Owl’s OTIC. Aliran masuk baru juga turun sekitar 56% secara rata-rata, sehingga sebagian besar dana mengalami arus keluar bersih sekitar 3% dari nilai aset bersih kuartal sebelumnya.
Fenomena simultan ini—arus keluar dari ETF bitcoin yang likuid dan penebusan besar-besaran di pasar kredit swasta yang tidak likuid—menimbulkan kekhawatiran akan erosi penyangga keuangan dan fisik di berbagai pasar. Ditambah lagi, Cadangan Minyak Strategis AS berada pada level terendah sejak 1983, semakin memperkuat sinyal risk-off di pasar energi. Bitcoin price yang sensitif terhadap perubahan likuiditas dan kondisi pembiayaan dianggap sebagai indikator awal tekanan makro. Beberapa pihak, seperti CEO Strive Jack Mallers, melihat aksi jual bitcoin sebagai peringatan akan krisis likuiditas fiat makro.
Sementara itu, di pasar derivatif dan tokenisasi, terjadi transformasi struktural. Menurut laporan Seeking Alpha, sejak diperkenalkannya ETF spot, derivatif telah menggantikan spot sebagai pusat penemuan harga dan transfer risiko kripto. Volume perdagangan mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan peran TradFi, dan fase konvergensi berikutnya adalah infrastruktur, bukan sekadar akses. Di sisi lain, model pembiayaan bitcoin melalui saham preferen yang diterbitkan perusahaan seperti Strategy (STRC) dan Strive (SATA) menghadapi uji stres pertamanya pada Juni. Saham preferen tersebut sempat jatuh di bawah nilai par $100, dengan STRC mencapai level terendah $75 akibat margin call dan aksi jual paksa. Namun, keduanya berhasil pulih, memperkuat kepercayaan pada model pembiayaan korporat bitcoin.
Di tengah tekanan ini, TeraWulf (WULF) justru mencatat lonjakan saham lebih dari 17% setelah mengumumkan kesepakatan sewa 20 tahun dengan Anthropic untuk kampus infrastruktur AI di Hawesville, Kentucky, yang diperkirakan menghasilkan pendapatan kontrak sekitar $19 miliar. Langkah ini menandai transformasi TeraWulf dari penambang bitcoin menjadi penyedia infrastruktur AI besar.
Kesimpulannya, bitcoin price saat ini berada di persimpangan antara tekanan likuiditas jangka pendek dan optimisme jangka panjang terhadap adopsi institusional. Arus keluar ETF dan krisis likuiditas kredit swasta menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor, sementara model pembiayaan inovatif dan diversifikasi ke AI memberikan harapan baru. Bitcoin price diperkirakan akan tetap volatil dalam waktu dekat, bergantung pada kondisi makro dan aliran modal global.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










