Kenaikan Harga BBM Membebani Rakyat, Pemerintah Buka Peluang Penurunan Harga Pertamax

Kenaikan Harga BBM Membebani Rakyat, Pemerintah Buka Peluang Penurunan Harga Pertamax

Suara Pecari, Kenaikan harga BBM yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir terus menjadi beban bagi masyarakat, terutama para pekerja dan pelaku usaha kecil. Data terbaru menunjukkan bahwa subsidi BBM yang digelontorkan pemerintah mencapai Rp 116 triliun pada Semester I 2026, namun volume penyaluran BBM bersubsidi justru meningkat 7,8% menjadi 7,99 juta kiloliter. Fenomena ini menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi mendorong masyarakat beralih ke BBM bersubsidi, sehingga beban APBN semakin berat.

Di sisi lain, kenaikan harga BBM juga memicu perubahan perilaku konsumen. Di Solo, seorang karyawan bernama Indri (24) mengaku harus merogoh kocek dua kali lipat untuk membeli Pertamax demi menjaga performa kendaraannya. “Gaji tetap UMR, tapi harga BBM naik. Saya terpaksa mengurangi jajan dan menunda beli kebutuhan lain,” ujarnya. Sementara itu, di Karanganyar, warga seperti Irianto (64) memilih beralih ke motor listrik karena dinilai lebih hemat. Simulasi menunjukkan potensi penghematan biaya operasional mencapai Rp 2,4 juta per tahun.

Menanggapi situasi ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka peluang penurunan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, jika harga minyak mentah dunia terus melemah. “Saya sudah menghitung dan akan melakukan rapat dengan Pertamina serta badan usaha lain. Ketika harga minyak dunia turun, kita akan menyesuaikan,” kata Bahlil di Jakarta, Senin (21/7/2026). Namun, ia menekankan bahwa keputusan masih mempertimbangkan fluktuasi Indonesian Crude Price (ICP) dan keseimbangan antara konsumen dan pelaku usaha.

Kenaikan harga BBM yang berkepanjangan juga berdampak pada sektor energi lainnya. Pemerintah mencatat realisasi subsidi dan kompensasi energi mencapai Rp 233 triliun hingga Juni 2026, termasuk untuk LPG 3 kg dan listrik bersubsidi. Volume LPG 3 kg naik 2% menjadi 3,56 juta ton, sementara pelanggan listrik bersubsidi meningkat 2,1% menjadi 43,1 juta pelanggan. Di sektor nonenergi, subsidi pupuk melonjak 21,4% menjadi 4,5 juta ton.

Dengan berbagai dampak yang dirasakan, pemerintah diharapkan segera mengambil langkah konkret. Penurunan harga BBM nonsubsidi bisa menjadi solusi jangka pendek untuk meringankan beban masyarakat, sekaligus mengurangi tekanan pada APBN. Namun, transisi ke energi alternatif seperti kendaraan listrik juga perlu didorong sebagai solusi jangka panjang. Kenaikan harga BBM memang menjadi tantangan, tetapi juga momentum untuk melakukan perubahan menuju energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *