Kata Ekonom soal Simpanan Emas Warga RI Capai 1.800 Ton
Suara Pecari – Jumlah simpanan emas yang dimiliki masyarakat Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 1.800 ton, dengan nilai sekitar USD 252 miliar atau sekitar Rp 4.470 triliun berdasarkan kurs Rp 17.694 per dolar AS. Data ini disampaikan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebagai gambaran besarnya kekayaan yang tersimpan dalam bentuk emas di tangan warga.
Emas sebagai Bantalan Ketahanan Finansial
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyatakan bahwa tingginya kepemilikan emas oleh masyarakat merupakan refleksi dari peran emas sebagai kekayaan rumah tangga yang berfungsi sebagai lapisan perlindungan terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti. Emas dinilai menjadi instrumen penyimpan nilai yang andal bagi rumah tangga Indonesia.
Namun, Fakhrul menyoroti adanya biaya peluang yang hilang ketika nilai kekayaan besar ini hanya mengendap sebagai aset pasif di luar ekosistem keuangan. Emas yang disimpan secara fisik tidak langsung dapat digunakan untuk penyaluran kredit, modal usaha, atau pembiayaan investasi produktif.
Potensi Pengelolaan Emas dalam Ekonomi
Fakhrul menyarankan agar pemerintah tidak fokus mengurangi minat masyarakat dalam mengoleksi emas, melainkan menyediakan sarana agar aset emas tersebut dapat memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih optimal. Hal ini penting untuk meningkatkan perputaran kekayaan yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Efektivitas Investasi Emas dan Jangka Waktu Optimal
Perencana keuangan Mike Rini menilai bahwa efektivitas investasi emas sangat tergantung pada jangka waktu kepemilikannya. Emas tidak menghasilkan arus kas harian atau bulanan sehingga investasi jangka pendek kurang menguntungkan karena adanya biaya transaksi dan spread harga jual beli.
Menurut Mike, durasi simpan emas yang ideal untuk memperoleh imbal hasil di atas tingkat inflasi adalah antara tiga hingga lima tahun, terutama dalam kondisi ketidakpastian ekonomi atau tren penurunan suku bunga acuan. Dalam jangka waktu lima hingga sepuluh tahun, imbal hasil emas cenderung sedikit lebih tinggi dari inflasi dengan rata-rata sekitar 4,6 persen per tahun.
Untuk investasi jangka panjang di atas lima hingga sepuluh tahun, harga emas historis menunjukkan peningkatan sekitar 5 hingga 6 persen per tahun, menjadikan emas sebagai pilihan untuk apresiasi aset jangka panjang.
Perbandingan dengan Instrumen Investasi Lain
Mike membandingkan emas dengan instrumen lain seperti deposito dan saham. Deposito menawarkan return yang setara atau sedikit di bawah inflasi setelah pajak namun memberikan arus kas berupa bunga. Sedangkan saham, khususnya yang membagi dividen, menawarkan potensi return rata-rata 10 hingga 12 persen per tahun beserta pendapatan dividen, meskipun hasil tersebut tidak dijamin.
Kesimpulan
Kepemilikan emas di Indonesia merupakan bagian penting dari kekayaan rumah tangga dan berfungsi sebagai perlindungan finansial. Pengelolaan yang lebih optimal dari aset emas ini dapat meningkatkan kontribusi ekonomi melalui perputaran kekayaan. Investasi emas paling efektif bila dilakukan dalam jangka menengah hingga panjang dengan durasi minimal tiga hingga lima tahun untuk mengatasi biaya transaksi dan memperoleh imbal hasil yang lebih baik dibandingkan inflasi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










