Topan Dolphin Landa China, Beijing hingga Henan Terendam Banjir

Topan Dolphin Landa China, Beijing hingga Henan Terendam Banjir

Suara Pecari, Beijing – Topan Dolphin telah menyebabkan hujan deras dan banjir di sejumlah wilayah di China, termasuk ibu kota Beijing dan Provinsi Henan. Banjir ini mengganggu aktivitas warga dan transportasi di daerah terdampak.

Fakta Utama Banjir akibat Topan Dolphin

  • Beijing menetapkan peringatan hujan badai tingkat kedua tertinggi.
  • 250 rute bus dihentikan operasional, dan 150 tempat wisata ditutup.
  • 10 jalur kereta bawah tanah beroperasi dengan kecepatan dikurangi.
  • Curah hujan di Distrik Changping mencapai 90,7 milimeter per jam.
  • Rekor curah hujan pecah di beberapa wilayah Zhejiang, Henan, dan Hubei.

Dampak Banjir di Beberapa Wilayah

Hujan deras mengubah jalan raya di Beijing menjadi sungai, mengakibatkan kemacetan lalu lintas dan sebagian kendaraan terendam air. Warga di Luohe, Henan, mengalami kesulitan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk urusan makanan dan transportasi. Puluhan mobil memadati jembatan di Yuhuan untuk menghindari genangan banjir.

Konteks dan Penyebab

Topan Dolphin yang melanda China bagian tengah dan timur membawa uap air tropis yang meningkatkan risiko banjir di daratan. Meskipun badai telah melemah setelah menempuh perjalanan lebih dari 6.000 kilometer dan mendarat di Provinsi Zhejiang, sisa badai masih menghasilkan hujan deras. Beberapa kota mencatat rekor curah hujan harian yang tinggi, seperti Wugang dengan 209,5 milimeter dan Xiangyang dengan 169,1 milimeter.

Dampak terhadap Kehidupan dan Kesiapsiagaan Warga

Warga di wilayah terdampak bersiap menghadapi hujan selama beberapa hari ke depan. Beberapa telah memindahkan kendaraan ke tempat lebih tinggi untuk menghindari kerusakan akibat genangan air. Penggunaan media sosial menjadi sarana untuk berbagi kondisi terkini dan mengingatkan satu sama lain terhadap potensi banjir.

Upaya Mitigasi dan Prakiraan Cuaca

Para ahli meteorologi di China menggunakan model cuaca berbasis kecerdasan buatan untuk meningkatkan akurasi prakiraan dan ketahanan menghadapi cuaca ekstrem. Langkah ini diharapkan dapat membantu pemerintah dan masyarakat dalam menyiapkan respons yang lebih efektif terhadap bencana alam.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *