Ratko Mladic, si Jagal Bosnia Meninggal Dunia di Den Haag
Suara Pecari – Bekas Panglima Angkatan Bersenjata Serbia Bosnia, Ratko Mladic, yang dikenal sebagai pelaku genosida paling mengerikan sejak Perang Dunia II, meninggal dunia di rumah sakit di Den Haag, Belanda, pada Kamis (27/8/2026) waktu setempat. Mladic menjalani hukuman penjara seumur hidup atas kejahatan perang dan genosida terkait pembantaian Srebrenica pada 1995.
Peran Ratko Mladic dalam Perang Bosnia
Ratko Mladic dijuluki ‘Jagal Bosnia’ karena perannya dalam pembantaian pria dan anak laki-laki Muslim di Srebrenica selama perang Bosnia 1992-1995. Pembantaian tersebut merupakan salah satu kekejaman paling terkenal dan mengerikan di Eropa setelah Perang Dunia II, dengan sekitar 8.000 korban dieksekusi oleh pasukan Serbia Bosnia di bawah komandonya.
Perang Bosnia sendiri menewaskan sekitar 100 ribu orang dan menyebabkan 2,2 juta warga mengungsi. Mladic merupakan salah satu tokoh utama Serbia Bosnia, bersama mantan Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic dan mantan pemimpin Serbia Bosnia Radovan Karadzic.
Vonis dan Hukuman
Mladic divonis bersalah oleh Pengadilan Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY) atas tuduhan genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Ia didakwa sejak November 1995, namun berhasil menghindari penangkapan selama 16 tahun. Baru pada Mei 2011, ia ditangkap dan dibawa ke Den Haag.
Pada 2017, Mladic dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Hukuman tersebut dikuatkan dalam proses banding pada 2021. Selama beberapa bulan terakhir, kondisi kesehatannya memburuk, dengan beberapa kali stroke yang dialaminya, namun permintaan pembebasan atas dasar kesehatan ditolak oleh pengadilan.
Reaksi atas Kematian Mladic
Kematian Ratko Mladic mendapat berbagai reaksi di Bosnia. Di Sarajevo, warga Muslim Bosnia menyambut kabar tersebut dengan lega, menganggap Mladic sebagai penjahat perang. Sehida Abdurahmanovic, perwakilan asosiasi Mothers of Srebrenica, menyatakan bahwa nama Mladic akan selalu melambangkan genosida dan kejahatan yang tak terhapuskan.
Sementara di wilayah Republika Srpska yang didominasi warga Serbia Bosnia, kematian Mladic dianggap sebagai kehilangan besar. Mantan pemimpin Serbia Bosnia Milorad Dodik menyatakan kematian itu sangat memukul dan peran Mladic tidak akan dilupakan. Sejumlah warga bahkan menyebutnya sebagai sosok terbesar dan pahlawan bagi rakyat Serbia.
Pemerintah Rusia juga mengkritik ICTY, menilai pengadilan tersebut tidak bersikap netral dan adil, serta menuding proses hukum terhadap Mladic bermotif politik.
Konteks Pembantaian Srebrenica
Pembantaian Srebrenica terjadi pada Juli 1995 ketika wilayah yang telah ditetapkan sebagai zona aman oleh PBB diserbu oleh pasukan Serbia Bosnia yang dipimpin oleh Mladic. Sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim dieksekusi dan jenazah mereka dibuang ke kuburan massal, beberapa di antaranya kemudian dibongkar kembali untuk menyembunyikan bukti.
Para penyintas melaporkan berbagai kekejaman seperti pembunuhan, penyiksaan, dan pemerkosaan selama konflik tersebut. Kejahatan ini menjadi simbol dari kampanye pembersihan etnis yang dilakukan untuk membentuk wilayah Serbia Raya.
Dampak dan Warisan
Peran Mladic dalam perang Bosnia dan pembantaian Srebrenica meninggalkan luka mendalam bagi para korban dan keluarga mereka, serta berdampak pada politik dan hubungan etnis di wilayah tersebut hingga kini. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan menegaskan solidaritas dengan mereka yang menderita akibat kejahatan tersebut.
Meski demikian, warisan Mladic tetap kontroversial. Bagi sebagian warga Serbia Bosnia, ia dipandang sebagai pahlawan yang berjuang untuk rakyatnya. Sedangkan bagi komunitas internasional dan korban, namanya selalu terkait dengan kejahatan kemanusiaan yang tak termaafkan.
Kematian Ratko Mladic menandai berakhirnya salah satu babak kelam dalam sejarah Eropa pasca-Perang Dunia II dan menjadi pengingat penting akan konsekuensi perang yang penuh kekerasan dan kebencian etnis.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










