Momen Pengendara Lempar Molotov ke Pagar Rumah Pengacara di Jaktim Terekam CCTV: Motif Masih Diselidiki
Kronologi Pelemparan Molotov di Ciracas
Suara Pecari, Sebuah aksi kriminal terjadi di Jakarta Timur pada Selasa dini hari, 17 Juli 2026, ketika dua orang tak dikenal melemparkan bom molotov ke rumah seorang pengacara bernama Sulardi (68) di Jalan Mustika Ratu No. 01, RT 05 RW 04, Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas. Peristiwa ini terekam jelas oleh kamera CCTV milik masjid yang berada tepat di depan rumah korban.
Dalam rekaman CCTV, terlihat dua orang pelaku mengendarai sepeda motor mendekati rumah korban sekitar pukul 02.30 WIB. Salah satu pelaku turun dari motor dengan gerakan terburu-buru, melemparkan botol berisi bahan mudah terbakar ke arah pagar rumah, lalu langsung naik kembali ke motor dan melarikan diri. “Saya melihat dari CCTV itu dia agak buru-buru juga. Begitu turun dari motor dia buru-buru ngelempar botolnya itu langsung dia pergi naik motor,” kata Sulardi saat ditemui di kediamannya pada Minggu, 5 Juli 2026.
Akibat pelemparan tersebut, bagian depan pagar rumah Sulardi terbakar. Api sempat merambat ke bagian dalam rumah karena minyak dari molotov merembes masuk. “Di depan pagar tapi karena minyaknya ke dalam ya dalamnya itu termasuk ikut terbakar karena ada minyak itu,” ucap Sulardi.
Upaya Pengamanan dan Respons Tetangga
Setelah kejadian, tetangga sekitar rumah Sulardi bergerak cepat untuk meningkatkan kewaspadaan. Melalui kegiatan ronda malam yang sudah ada, mereka secara sukarela menjaga rumah Sulardi untuk mencegah kemungkinan serangan lanjutan. “Untuk sementara ya pengamanan tambahan itu hanya tetangga-tetangga saja yang membantu malam itu ronda malam,” kata Sulardi. Langkah ini menunjukkan solidaritas warga dalam menghadapi ancaman kriminalitas di lingkungan mereka.
Proses Hukum dan Penyelidikan Polisi
Sulardi telah melaporkan kejadian ini ke Polsek Ciracas dan Polres Metro Jakarta Timur. Polisi saat ini masih dalam tahap penyidikan untuk mengungkap motif dan pelaku di balik pelemparan molotov tersebut. “Ya kalau untuk sampai saat ini siapa pelakunya memang belum bisa disimpulkan, tapi ya intinya penyidik sedang melakukan penyelidikan adanya perkara peristiwa tersebut,” kata Sulardi.
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Timur, AKP Made Budi, membenarkan adanya kejadian tersebut dan menyebutnya sebagai dugaan percobaan pembakaran dan perusakan. “TKP kejadian diduga percobaan pembakaran dan pengerusakaan,” kata Made dalam keterangannya. Polisi telah memeriksa dua saksi bernama Niman dan Dadang untuk mengumpulkan keterangan.
Data Saksi dan Barang Bukti
Berikut adalah data saksi dan barang bukti yang telah dikumpulkan polisi:
| No | Saksi | Keterangan |
|---|---|---|
| 1 | Niman | Melihat dua pelaku naik motor dan melempar botol |
| 2 | Dadang | Mendengar ledakan dan melihat api di pagar rumah korban |
Barang bukti yang diamankan antara lain rekaman CCTV, sisa botol molotov, dan bekas kebakaran di pagar rumah.
Motif dan Implikasi Keamanan
Hingga saat ini, motif pelemparan molotov masih belum diketahui. Sulardi adalah seorang pengacara yang mungkin memiliki konflik dengan pihak tertentu terkait kasus yang ditanganinya. Namun, belum ada pernyataan resmi dari polisi mengenai dugaan keterkaitan dengan profesi korban. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan melaporkan segala aktivitas mencurigakan kepada pihak berwenang.
Peristiwa ini juga menyoroti pentingnya keamanan lingkungan, terutama di pemukiman padat seperti Ciracas. Rekaman CCTV menjadi alat vital dalam mengidentifikasi pelaku, namun pencegahan dini melalui ronda malam dan patroli keamanan menjadi langkah antisipatif yang efektif.
Penutup Naratif
Di tengah teriknya Jakarta Timur, pagar rumah Sulardi yang hangus terbakar menjadi saksi bisu keganasan aksi kriminal yang masih diselidiki. Rekaman CCTV yang beredar luas di media sosial tidak hanya menunjukkan momen pelemparan molotov, tetapi juga menyiratkan pertanyaan besar: siapa dalang di balik aksi ini? Sementara polisi terus memburu pelaku, tetangga dan warga Ciracas menunjukkan bahwa solidaritas bisa menjadi benteng pertahanan terkuat. Malam-malam berikutnya, ronda tetap berjalan, lampu tetap menyala, dan harapan akan keadilan tetap menyala seperti api yang pernah membakar pagar itu.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










