Penggantian Airbus A380 Emirates di Bali: Apa yang Terjadi?
Suara Pecari | Warga sekitar Bandara Ngurah Rai di Denpasar, Bali, belakangan ini tidak lagi menyaksikan kehadiran Airbus A380 Emirates yang sebelumnya melayani rute Dubai-Denpasar. Maskapai asal Uni Emirat Arab ini selama ini menjadi satu-satunya operator pesawat super jumbo yang menghubungkan kedua lokasi. Namun, mulai Januari 2026, Emirates memutuskan untuk mengganti armada tersebut dengan Boeing 777.
Penggantian ini membuat jumlah kursi yang tersedia per penerbangan berkurang sekitar 25 hingga 35 persen. Airbus A380 memiliki kapasitas maksimal 615 kursi, sementara Boeing 777 hanya mampu menampung 421 penumpang. Hal ini memicu spekulasi di kalangan pengamat penerbangan bahwa perubahan ini disebabkan oleh penurunan jumlah wisatawan, terutama dari Eropa.
Pihak berwenang penerbangan di Indonesia mengungkapkan keinginan agar Emirates membangun fasilitas pemeliharaan, memperkerjakan lebih banyak pilot Indonesia, dan menambah rute penerbangan domestik. Namun, sampai saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Emirates mengenai hal tersebut. Menurut pejabat bandara, penggantian armada ini lebih bersifat musiman dan bukan akibat larangan dari otoritas penerbangan Indonesia.
Terakhir kali Airbus A380 mendarat di Bali tercatat pada 16 Januari 2026, sebelum kembali pada 25 Februari 2026. Terdapat dua penerbangan setiap hari dari Dubai ke Bali, dengan satu menggunakan A380 dan lainnya Boeing 777. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menegaskan bahwa ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi oleh Emirates agar A380 bisa terus beroperasi di Bali.
Di antara persyaratan tersebut adalah pembangunan fasilitas MRO di Indonesia, peningkatan jumlah pilot dan awak kabin yang berasal dari Indonesia, serta penambahan rute penerbangan lainnya. Saat ini, hanya enam pilot dan satu awak kabin yang berasal dari Indonesia yang bekerja di Emirates, jauh lebih sedikit dibandingkan maskapai lain yang beroperasi di Bali.
Data menunjukkan, Bali sangat bergantung pada jumlah wisatawan dari Eropa, dengan sekitar 80% lalu lintas penerbangan menuju pulau ini berasal dari benua tersebut. Inggris merupakan pasar terbesar untuk rute penerbangan ke Bali, diikuti oleh Jerman dan Belanda. Selain itu, Bali diperkirakan akan menangani sekitar 24 juta penumpang pada tahun 2024, mendekati angka sebelum pandemi.
Sementara itu, AirAsia telah meluncurkan penerbangan harian dari Melbourne ke Denpasar, menggantikan kekosongan yang ditinggalkan oleh Emirates. Bali terus melakukan pengembangan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan pariwisata jangka panjang, dengan kapasitas Bandara Ngurah Rai ditargetkan mencapai 55 juta penumpang per tahun.
Dengan adanya dua bandara di Bali, diharapkan pulau ini dapat menjadi pusat transit regional yang sebanding dengan hub-hub besar lainnya di Asia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.








