Riset di Rubaru: Pekarangan Bantu Hemat hingga Rp200 Ribu per Bulan, Srikandi KERIS Dorong Kemandirian Perempuan
Suara Pecari, Sumenep, Jawa Timur – Di tengah gempuran belanja online dan tekanan ekonomi yang kian meningkat, sebuah riset internal di Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, memberikan secercah harapan. Srikandi KERIS (Keluarga Emas Remaja Indonesia Sehat) Kabupaten Sumenep berhasil membuktikan bahwa pekarangan rumah yang dikelola dengan baik mampu menekan pengeluaran rumah tangga hingga Rp200 ribu per bulan. Temuan ini menjadi pilar utama dalam program pemberdayaan perempuan yang digagas organisasi tersebut, yang tidak hanya fokus pada pengelolaan keuangan, tetapi juga pada kemandirian pangan berbasis sumber daya lokal.
Latar Belakang: Krisis Belanja Online dan Kemandirian Finansial
Maraknya platform belanja online telah mengubah pola konsumsi masyarakat, terutama di kalangan ibu rumah tangga. Kemudahan akses dan godaan diskon seringkali membuat pengeluaran membengkak tanpa disadari. Koordinator Pengembangan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Srikandi KERIS Sumenep, Sri Mustika Ningsih, menekankan pentingnya literasi keuangan sebagai fondasi awal. “Fondasi awal yang ditekankan adalah kemampuan membedakan antara keinginan dan kebutuhan demi menjaga stabilitas keuangan keluarga dari maraknya belanja online,” ujarnya dalam acara UMKM Bicara Pro 1 RRI Sumenep, Senin, 13 Juli 2026. Kesadaran ini menjadi modal utama menuju kemandirian ekonomi keluarga. Tanpa kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, program pemanfaatan pekarangan pun tidak akan optimal karena kebocoran anggaran tetap terjadi.
Riset di Rubaru: Data dan Metodologi
Riset yang dilakukan oleh Srikandi KERIS di Kecamatan Rubaru melibatkan 50 rumah tangga sebagai sampel. Selama tiga bulan, para peserta didampingi untuk menanam tanaman obat keluarga (Toga) seperti cabai, tomat, jahe, dan kunyit di pekarangan mereka. Hasilnya, rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk bumbu dapur dan obat herbal turun drastis. Tabel berikut merangkum temuan utama riset:
| Indikator | Sebelum Program | Setelah Program | Penghematan |
|---|---|---|---|
| Belanja bumbu dapur (cabai, tomat, dll) | Rp150.000/bulan | Rp50.000/bulan | Rp100.000 |
| Pembelian jahe, kunyit (obat herbal) | Rp100.000/bulan | Rp30.000/bulan | Rp70.000 |
| Lain-lain (sayuran minor) | Rp50.000/bulan | Rp20.000/bulan | Rp30.000 |
| Total | Rp300.000/bulan | Rp100.000/bulan | Rp200.000 |
Data ini menunjukkan bahwa pekarangan rumah tidak hanya memberikan ketahanan pangan, tetapi juga manfaat ekonomi langsung. Sri Mustika menambahkan, “Hasil riset ini mendorong kami mewajibkan seluruh anggota untuk menanam Toga. Penanaman dilakukan dengan memanfaatkan polybag maupun barang bekas yang tersedia di rumah, sehingga tidak membutuhkan lahan luas.”
Dampak dan Implikasi Program
Bagi Masyarakat
Program ini memberikan dampak langsung pada pengurangan beban pengeluaran rumah tangga. Dengan hemat Rp200 ribu per bulan, keluarga dapat mengalokasikan dana tersebut untuk kebutuhan lain seperti pendidikan anak atau tabungan. Selain itu, ketersediaan tanaman obat di pekarangan meningkatkan akses terhadap bahan herbal yang mendukung kesehatan keluarga. Dalam jangka panjang, kebiasaan menanam sendiri juga mengurangi ketergantungan pada pasar dan rantai pasok yang rentan terhadap fluktuasi harga.
Bagi Pemerintah Daerah
Keberhasilan program ini menjadi model yang dapat direplikasi oleh desa-desa lain di Sumenep. Pemerintah daerah melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian telah merespon positif dengan menjalin kerja sama penyediaan bibit. Kolaborasi ini mencakup pengadaan bibit lanjutan seperti alpukat dan padi yang direncanakan terealisasi pada Oktober 2026. “Kerja sama ini diharapkan dapat menjangkau anggota yang memiliki lahan pertanian lebih luas,” kata Sri Mustika. Jika program ini berhasil diadopsi secara massal, Sumenep dapat menjadi daerah percontohan ketahanan pangan berbasis pekarangan di Jawa Timur.
Langkah Lanjutan: Pra-Koperasi dan Pemberdayaan Ekonomi
Tidak berhenti pada ketahanan pangan, Srikandi KERIS juga menyiapkan pembentukan pra-koperasi pada tahun 2027. Program ini ditujukan untuk memperkuat akses permodalan bagi pelaku usaha rumahan, terutama perempuan yang ingin memulai atau mengembangkan usaha kecil. Sistem pra-koperasi akan diawali dengan simpanan pokok dan simpanan wajib anggota. Pengelolaan dana akan dilakukan secara profesional dengan dukungan pelatihan dan penguatan kapasitas pengurus. Langkah ini menjadi krusial karena selama ini akses permodalan menjadi kendala utama bagi usaha mikro perempuan di pedesaan. Dengan adanya koperasi, anggota dapat meminjam dana dengan bunga rendah dan tanpa agunan berat.
Selain itu, organisasi juga merencanakan program pelatihan kewirausahaan yang terintegrasi dengan pemanfaatan hasil pekarangan. Misalnya, jahe dan kunyit dapat diolah menjadi minuman instan, sementara cabai dan tomat dapat diolah menjadi saus atau sambal kemasan. Nilai tambah dari produk olahan ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan keluarga secara signifikan.
Kronologi dan Capaian Program
- Januari-Maret 2026: Riset awal di Kecamatan Rubaru dengan 50 rumah tangga. Peserta mendapat pelatihan menanam Toga dan pengelolaan keuangan.
- April-Juni 2026: Pendampingan intensif dan pemantauan hasil panen. Data pengeluaran dikumpulkan setiap bulan.
- 13 Juli 2026: Sri Mustika Ningsih memaparkan hasil riset dalam acara UMKM Bicara Pro 1 RRI Sumenep. Hasil menunjukkan penghematan Rp200 ribu per bulan.
- Agustus 2026: Srikandi KERIS mewajibkan seluruh anggota menanam Toga. Kerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian dimulai untuk penyediaan bibit.
- Oktober 2026: Rencana realisasi bibit alpukat dan padi untuk anggota yang memiliki lahan lebih luas.
- 2027: Target pembentukan pra-koperasi untuk memperkuat akses permodalan anggota.
Penutup: Menuju Kemandirian yang Berkelanjutan
Di tengah hiruk-pikuk ekonomi modern yang serba instan, langkah Srikandi KERIS mengingatkan kita pada kearifan lokal yang tak lekang oleh waktu. Pekarangan yang selama ini mungkin hanya menjadi tempat menjemur pakaian atau parkir motor, ternyata menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa. Riset di Rubaru membuktikan bahwa dengan perencanaan dan pendampingan yang tepat, perempuan dapat menjadi pilar ketahanan pangan dan keuangan keluarga. Program ini bukan sekadar menanam, tetapi menanam harapan akan masa depan yang lebih mandiri. Dengan sinergi antara organisasi perempuan, pemerintah daerah, dan semangat gotong royong, Sumenep tengah membangun fondasi kemandirian yang kokoh—satu pekarangan, satu keluarga, satu langkah kecil menuju perubahan besar.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










