Olah Siput Sawah Jadi Abon, Pelajar ICBS Payakumbuh Bidik FIKSI
Payakumbuh, 27 Juli 2026
Suara Pecari, Kelompok pelajar dari Insan Cendekia Boarding School (ICBS) Payakumbuh berhasil menciptakan terobosan pangan kreatif berbahan dasar komoditas lokal yang selama ini dianggap hama: siput sawah. Inovasi kuliner bernilai ekonomi tinggi ini dipersiapkan matang untuk menembus seleksi ketat dalam ajang Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) Tahap II pada Rabu, 8 Juli 2026. Di hadapan jajaran pemerintah daerah, tim ICBS mempresentasikan formula produk bertajuk ‘Bonsimi Urang Rantau’ — sebuah nama yang sarat makna, menggambarkan kerinduan perantau akan cita rasa Minangkabau yang dibalut kreasi modern.
Latar Belakang: Hama yang Terabaikan
Siput sawah (Pomacea canaliculata) selama ini dikenal sebagai hama utama tanaman padi yang merusak batang muda dan menurunkan produktivitas lahan. Petani di Sumatera Barat, khususnya di Payakumbuh, kerap mengeluhkan populasi siput yang melonjak di musim hujan. Alih-alih diberantas dengan pestisida kimia yang mahal dan berbahaya, inovasi Bonsimi Urang Rantau justru mengubah siput menjadi sumber protein hewani yang murah dan mudah didapat. Menurut data Dinas Pertanian Kota Payakumbuh, setiap hektar sawah rata-rata menghasilkan sekitar 50 kilogram siput per musim tanam yang sebagian besar dibuang begitu saja.
Proses Kreatif di Balik Bonsimi Urang Rantau
Tim yang terdiri dari lima siswa kelas XI ini menghabiskan waktu tiga bulan untuk riset dan pengembangan produk. Proses dimulai dari pengambilan siput sawah di area sawah Kecamatan Payakumbuh Barat, kemudian pembersihan, perebusan dengan rempah-rempah khas Minangkabau, penyuwiran daging siput, hingga penggorengan tanpa minyak berlebih. Hasil akhirnya adalah abon bertekstur garing dengan aroma rempah yang kuat. Produk ini dikemas dalam stoples kaca berdesain etnik yang mencantumkan nilai gizi: protein 18,2 gram per 100 gram, lebih tinggi dari abon sapi pada umumnya (15 gram protein per 100 gram).
Berikut perbandingan kandungan gizi antara abon siput sawah dan abon sapi komersial:
| Komponen | Abon Siput Sawah (per 100g) | Abon Sapi (per 100g) |
|---|---|---|
| Protein | 18,2 gram | 15 gram |
| Lemak | 8 gram | 12 gram |
| Kalsium | 120 mg | 30 mg |
| Zat Besi | 3,5 mg | 2 mg |
| Kalori | 210 kkal | 260 kkal |
Presentasi dan Dukungan Pemerintah
Pada sesi presentasi dihadapan Wakil Wali Kota Payakumbuh Elzadaswarman, tim ICBS memaparkan tidak hanya produk, tetapi juga rencana bisnis dan dampak sosial ekonomi. Wakil Wali Kota Elzadaswarman memberikan pujian seraya menyatakan, ‘Inovasi Bonsimi Urang Rantau menunjukkan bahwa generasi muda mampu mengolah potensi lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal menjadi pangan bergizi yang memiliki nilai ekonomi.’ Dukungan diwujudkan dalam bentuk janji bantuan peralatan produksi dari Dinas Koperasi dan UMKM serta pendampingan sertifikasi halal dari Kementerian Agama.
Kronologi Perjalanan Inovasi
- Januari 2026: Ide muncul saat diskusi kelompok belajar tentang pemanfaatan hama pertanian.
- Februari–April 2026: Riset awal, uji coba resep, dan survei pasar terbatas di lingkungan sekolah.
- Mei 2026: Produk final disempurnakan dan diuji di Lab Pangan Universitas Andalas.
- Juni 2026: Persiapan dokumen lomba FIKSI dan pembuatan kemasan.
- 8 Juli 2026: Presentasi resmi dihadapan Pemko Payakumbuh dan tim penilai FIKSI tahap II.
Pihak manajemen ICBS melayangkan apresiasi mendalam atas respons positif dan suntikan motivasi dari Pemko Payakumbuh. Kepedulian birokrasi dinilai melipatgandakan daya juang anak didik untuk mematangkan konsep produk sebelum dinilai tim juri nasional.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat
Inovasi ini tidak hanya berhenti sebagai proyek lomba. Jika dikembangkan secara massal, abon siput sawah berpotensi menjadi produk unggulan daerah yang mampu mendongkrak perekonomian petani dan ibu rumah tangga. Berikut beberapa dampak yang diharapkan:
- Mengurangi hama dengan cara ramah lingkungan, menekan penggunaan pestisida hingga 30%.
- Membuka lapangan kerja di sektor pengolahan pangan, terutama bagi perempuan pedesaan.
- Meningkatkan gizi masyarakat melalui protein hewani yang terjangkau (harga jual ditargetkan Rp25.000 per 200 gram, lebih murah dari abon sapi Rp35.000).
- Melestarikan kearifan lokal dengan menggunakan bumbu tradisional Minangkabau seperti daun kunyit, serai, dan lengkuas.
Harapan ke Depan
Sinergi berkelanjutan antara sekolah, pemerintah daerah, dan pelaku industri diharapkan mampu mencetak embrio wirausaha muda baru dari kalangan pelajar di Kota Payakumbuh. Kepala ICBS menyebutkan bahwa beberapa investor start-up lokal telah melirik produk ini. Hilirisasi produk berbasis kearifan lokal tersebut diproyeksikan mampu mendongkrak kesejahteraan ekonomi masyarakat luas di masa depan, sekaligus menjawab isu pangan nasional yang mendorong kemandirian pangan dari potensi yang tidak terpakai.
Bonsimi Urang Rantau menjadi bukti bahwa lomba seperti FIKSI bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan panggung untuk menyuarakan ide-ide segar yang lahir dari kepedulian terhadap lingkungan. Siswa ICBS tidak hanya berinovasi untuk menang, tetapi untuk menawarkan solusi nyata terhadap masalah yang selama ini terabaikan. Langkah mereka menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk berani melihat potensi di sekitar — bahkan dari hal sekecil siput sawah.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










