Kebakaran TPA Jatiwaringin Meluas, BPBD Tangerang Evakuasi 50 Jiwa dan Kerahkan Water Boombing

Kebakaran TPA Jatiwaringin Meluas, BPBD Tangerang Evakuasi 50 Jiwa dan Kerahkan Water Boombing

Suara Pecari | Kebakaran besar melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, sejak Selasa (30/6/2026). Kobaran api yang membakar gunungan sampah terus meluas hingga mencapai area seluas kurang lebih dua hektare per Rabu (1/7/2026). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang terpaksa mengevakuasi puluhan warga dari permukiman sekitar yang terdampak kepulan asap tebal.

Evakuasi Warga dan Dampak Kesehatan

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengonfirmasi bahwa sebanyak 50 jiwa telah dievakuasi ke lokasi aman. “Warga yang dievakuasi mayoritas ibu-ibu dan anak-anak karena rentan terhadap gangguan pernapasan akibat asap,” ujarnya, Rabu (1/7/2026). Para pengungsi sementara ditampung di posko darurat yang didirikan di balai desa setempat.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang turun tangan dengan mengerahkan tim medis dari Puskesmas Kecamatan Mauk dan Rajeg. Kepala DLHK, Ujat Sudrajat, menyatakan bahwa langkah antisipasi dilakukan mengingat hembusan angin kencang yang membawa asap dan partikel sampah ke arah pemukiman. “Petugas medis sudah disiapkan untuk menangani warga yang mengalami sesak napas, iritasi mata, atau keluhan lainnya,” jelasnya.

Kendala Pemadaman dan Upaya Water Boombing

Salah satu tantangan terbesar dalam pemadaman adalah lokasi titik api yang berada di puncak gunungan sampah setinggi puluhan meter. Kondisi ini membuat akses petugas pemadam kebakaran darat sangat terbatas. Hingga Rabu sore, sembilan unit mobil pemadam kebakaran dengan 45 personel masih berjibaku menjangkau area yang bisa didekati.

Untuk mengatasi titik api di ketinggian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengirimkan dua unit helikopter water boombing yang dijadwalkan tiba pada Kamis (2/7/2026) siang. “Helikopter akan menyiram air dari udara secara bertahap hingga api benar-benar padam,” kata Achmad Taufik. Metode ini dinilai paling efektif mengingat medan yang sulit dan risiko longsornya tumpukan sampah.

Kronologi Kebakaran

  • Selasa, 30 Juni 2026: Api pertama kali terlihat di sisi barat TPA sekitar pukul 10.00 WIB. Petugas internal TPA berusaha memadamkan dengan peralatan seadanya, namun api cepat membesar karena angin kencang.
  • Rabu, 1 Juli 2026: Kebakaran meluas hingga dua hektare. BPBD mulai mengevakuasi warga. Sembilan unit damkar dikerahkan, namun terkendala akses ke puncak gunungan sampah.
  • Kamis, 2 Juli 2026: Dua helikopter water boombing dari BNPB tiba siang hari untuk melakukan pemadaman dari udara. Tim medis siaga di posko pengungsian.

Dampak Lingkungan dan Sosial

Kebakaran TPA Jatiwaringin tidak hanya mengancam kesehatan warga, tetapi juga menimbulkan pencemaran udara yang meluas. Asap tebal mengandung partikel berbahaya seperti dioksin dan logam berat yang dapat terhirup hingga radius beberapa kilometer. Warga di tiga desa sekitar, yaitu Desa Jatiwaringin, Desa Mauk, dan Desa Rajeg, diminta menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan.

Selain itu, kebakaran ini mengganggu operasional TPA yang melayani pembuangan sampah dari sebagian besar wilayah Kabupaten Tangerang. Akibatnya, sampah dari beberapa kecamatan terpaksa dialihkan sementara ke TPA lain atau ditampung di tempat penampungan sementara (TPS). Pemerintah daerah masih mengevaluasi kerugian materiil akibat kebakaran ini.

Data dan Fakta Kebakaran TPA Jatiwaringin

Aspek Detail
Luas Kebakaran ± 2 hektare
Jumlah Warga Dievakuasi 50 jiwa (ibu dan anak-anak)
Unit Damkar Dikerahkan 9 unit dengan 45 personel
Helikopter Water Boombing 2 unit dari BNPB (tiba 2 Juli)
Tim Medis Puskesmas Mauk dan Rajeg

Upaya Pencegahan ke Depan

Peristiwa kebakaran di TPA Jatiwaringin bukan yang pertama kali terjadi. Beberapa TPA di Indonesia kerap mengalami kebakaran serupa akibat gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah organik. Pemerintah Kabupaten Tangerang berencana mengevaluasi sistem pengelolaan sampah, termasuk penerapan teknologi pengolahan gas landfill dan peningkatan pengawasan terhadap titik-titik rawan api.

Sementara itu, BPBD mengimbau warga untuk tetap waspada dan segera melapor jika melihat titik api baru. Masyarakat juga diharapkan tidak membakar sampah sembarangan, terutama di musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran.

Hingga berita ini diturunkan, api masih belum sepenuhnya padam. Petugas gabungan dari BPBD, Damkar, DLHK, dan dibantu TNI/Polri terus berupaya mengendalikan situasi. Doa dan dukungan dari seluruh masyarakat diharapkan agar musibah ini segera berakhir tanpa menimbulkan korban jiwa.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan