Lima Hari Kebakaran TPA Jatiwaringin, Warga Mengungsi Mencapai 102 Jiwa
Suara Pecari, Tangerang – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, hingga hari kelima pada Sabtu, 4 Juli 2026, belum sepenuhnya teratasi. Kobaran api baru berhasil dipadamkan sekitar 40 persen, sementara jumlah warga yang terpaksa mengungsi terus bertambah menjadi 102 jiwa. Peristiwa ini tidak hanya memicu krisis lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Kronologi Kebakaran dan Respons Awal
Kebakaran di TPA Jatiwaringin pertama kali terdeteksi pada Selasa, 30 Juni 2026. Api dengan cepat membesar akibat banyaknya material sampah yang mudah terbakar, terutama gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah organik. Pemerintah Kabupaten Tangerang langsung menetapkan status tanggap darurat bencana melalui Keputusan Bupati Tangerang Nomor 609 tahun 2026, yang berlaku sejak 1 hingga 14 Juli 2026. Langkah ini memungkinkan mobilisasi sumber daya secara cepat, termasuk personel dan peralatan pemadam kebakaran dari berbagai instansi.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya pada Sabtu (4/7/2026) menyatakan bahwa petugas gabungan terus berupaya melakukan penanggulangan. “Hingga saat ini, petugas gabungan terus berupaya melakukan penanggulangan,” ujarnya. Operasi pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara, dengan mengerahkan helikopter water bombing untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.
Dampak Terhadap Warga dan Kesehatan
Kepulan asap tebal yang membumbung tinggi dari TPA Jatiwaringin menjadi ancaman serius bagi kesehatan warga di radius beberapa kilometer. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, menjelaskan bahwa evakuasi terus dilakukan secara bertahap. “Sebelumnya warga terdampak asap ada yang dievakuasi sebanyak 50 jiwa. Namun, saat ini sudah bertambah,” katanya. Warga yang dievakuasi mayoritas adalah ibu dan anak-anak, yang merupakan kelompok rentan terhadap gangguan pernapasan.
Berdasarkan data dari posko pengungsian, hingga hari kelima tercatat 102 jiwa mengungsi. Mereka ditempatkan di lokasi aman yang telah disiapkan pemerintah, seperti balai desa dan gedung serbaguna. Tim medis telah disiagakan selama 24 jam untuk mengantisipasi dampak buruk, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). “Warga dari klaster kelompok rentan, seperti balita, lanjut usia, serta penyintas penyakit bawaan menjadi prioritas utama penjagaan medis. Namun, tidak sedikit warga mengalami sesak napas dan muntah,” ungkap Abdul Muhari.
Data Pengungsi dan Fasilitas Kesehatan
| Lokasi Pengungsian | Jumlah Pengungsi | Fasilitas Kesehatan |
|---|---|---|
| Balai Desa Jatiwaringin | 45 jiwa | Posko kesehatan 24 jam |
| Gedung Serbaguna Kelurahan | 32 jiwa | Tim medis dari Puskesmas |
| Rumah Warga Lain | 25 jiwa | Kunjungan dokter keliling |
Selain ISPA, keluhan lain yang dilaporkan meliputi iritasi mata, sakit kepala, dan mual. Petugas medis juga membagikan masker dan vitamin secara gratis kepada pengungsi. Pemerintah Kabupaten Tangerang berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk memastikan ketersediaan obat-obatan dan alat kesehatan di setiap posko.
Upaya Pemadaman dan Kendala di Lapangan
Operasi pemadaman kebakaran TPA Jatiwaringin melibatkan personel dari BPBD, Damkar, TNI, Polri, serta relawan. Hingga hari kelima, baru 40 persen api yang berhasil dipadamkan. Kendala utama adalah kedalaman tumpukan sampah yang mencapai puluhan meter, membuat air sulit menjangkau titik api di bagian bawah. Selain itu, angin kencang turut mempercepat penyebaran api ke area yang belum terbakar.
Pusat Pengendalian Operasi BNPB mengonfirmasi bahwa pemadaman dari udara terus dioptimalkan. Helikopter water bombing melakukan sorti setiap jam untuk menjatuhkan air ke titik-titik api. Di darat, petugas menggunakan alat berat untuk membongkar tumpukan sampah agar air dapat meresap ke dalam. Namun, medan yang tidak rata dan akses jalan yang sempit menjadi tantangan tersendiri.
Dampak Lingkungan dan Sosial
Kebakaran TPA Jatiwaringin tidak hanya berdampak pada kesehatan warga, tetapi juga pada lingkungan sekitar. Asap yang mengandung partikel berbahaya dan gas beracun seperti karbon monoksida dan dioksin berpotensi mencemari udara dalam radius luas. Tanaman dan hewan di sekitar TPA juga terancam. Selain itu, aktivitas pengelolaan sampah di TPA terhenti total, menyebabkan penumpukan sampah di kota-kota sekitarnya.
Dari sisi sosial, warga yang mengungsi kehilangan akses ke rumah dan mata pencaharian. Banyak di antara mereka yang bekerja sebagai pemulung di TPA. Pemerintah berjanji akan memberikan bantuan sembako dan santunan bagi warga terdampak. Namun, belum ada kepastian kapan mereka dapat kembali ke rumah masing-masing.
Penutup
Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi pengingat akan risiko besar yang mengintai di balik pengelolaan sampah yang tidak optimal. Di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung, nasib 102 jiwa yang mengungsi dan ancaman kesehatan yang membayangi warga sekitar menjadi prioritas yang harus segera ditangani. Semoga api segera padam, dan langkah-langkah preventif ke depannya dapat mencegah tragedi serupa terulang kembali.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










