Lilin Ditinggal Tidur Bikin Rumah di Sukabumi Kebakaran, 3 Bocah Tewas
Kronologi Tragedi
Suara Pecari, Petang itu, Kamis (23/7/2026), padamnya aliran listrik di Kampung Babakan Bandung, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, mengubah riwayat hidup sebuah keluarga. Sekitar pukul 18.00 WIB, lampu padam. Seperti biasa, lilin dinyalakan di ruang tamu sebagai penerang darurat. Nahas, tiga anak kandung — dua laki-laki dan satu perempuan — yang masih duduk di bangku SD, PAUD, dan satu lagi belum sekolah, memilih tidur di kamar setelah menyalakan lilin. Api dari lilin yang tak terjaga merambat ke material kayu rumah dan dalam 30 menit meludeskan bangunan. Kapolsek Nyalindung, Iptu M Yanuar Fajar, menyatakan kebakaran terjadi sekitar pukul 19.30 WIB. “Anak pertama menyalakan lilin di ruang tamu karena mati lampu, lalu mereka tidur, dan terjadilah kebakaran,” ujarnya. Warga berusaha memadamkan dengan peralatan seadanya, namun api terlalu cepat membesar. Petugas pemadam kebakaran tiba setelah kobaran api berhasil dipadamkan warga. Jasad ketiga korban ditemukan di antara puing.
Identitas dan Keluarga Korban
Ketiga bocah malang itu tinggal bersama neneknya. Sang ibu bekerja di luar kota, sementara ayah juga sedang berada di luar daerah saat kejadian. Kakak tertua yang juga berada di rumah berhasil selamat bersama nenek. Data korban sebagai berikut:
| Nama | Jenis Kelamin | Usia | Status |
|---|---|---|---|
| Korban 1 | Laki-laki | 7 tahun (SD) | Meninggal |
| Korban 2 | Laki-laki | 4 tahun (PAUD) | Meninggal |
| Korban 3 | Perempuan | 2 tahun | Meninggal |
| Kakak | Laki-laki | 12 tahun | Selamat |
| Nenek | Perempuan | 60 tahun | Selamat |
Jenazah ketiga korban telah disalatkan di masjid dekat lokasi dan dimakamkan di TPU setempat. Keluarga besar berduka, tetangga dan warga sekitar turut merasakan kehilangan.
Penyebab Kebakaran dan Kerugian
Penyebab kebakaran dipastikan akibat lilin yang tidak dimatikan saat tidur. Api menyambar material kayu yang mudah terbakar. Warga menyebutkan listrik padam sejak Magrib dan belum menyala hingga pukul 22.00 WIB. Kapolsek Nyalindung mengimbau masyarakat agar lebih waspada saat menggunakan lilin atau lampu darurat lainnya. Kerugian material diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah, karena rumah ludes beserta isinya. Tidak ada korban lain selain tiga anak tersebut.
Dampak dan Implikasi
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan saat menggunakan sumber api alternatif. Kepala BPBD Kabupaten Sukabumi meminta warga untuk selalu mematikan lilin sebelum tidur dan menjauhkannya dari bahan mudah terbakar. Pemerintah setempat berencana mengintensifkan sosialisasi tanggap darurat kebakaran di tingkat desa. Selain itu, peristiwa ini menyoroti kondisi listrik yang kerap padam di wilayah tersebut. Masyarakat berharap pasokan listrik lebih stabil untuk mencegah kejadian serupa.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan
- Gunakan lampu senter atau lampu darurat bertenaga baterai sebagai pengganti lilin.
- Jika terpaksa menggunakan lilin, letakkan di tempat yang aman, jauh dari tirai, kertas, atau bahan mudah terbakar lainnya.
- Jangan pernah meninggalkan lilin menyala tanpa pengawasan, terutama saat tidur.
- Pastikan lilin ditempatkan di permukaan yang stabil dan tidak mudah terjatuh.
- Siapkan alat pemadam kebakaran ringan (APAR) di rumah.
- Ajarkan anak-anak tentang bahaya api dan cara menggunakannya dengan aman.
Kesaksian Warga
Seorang tetangga, Asep (45), mengaku mendengar teriakan dan melihat kobaran api dari rumah korban. “Saya langsung berteriak kebakaran, warga pada datang bawa ember, tapi api sudah besar. Kami sedih sekali, apalagi anak-anak itu tak bisa diselamatkan,” ujarnya pilu. Warga lain, Yaya, menambahkan bahwa keluarga korban dikenal baik dan ramah. “Ibu mereka sedang merantau, pasti sangat terpukul. Kami akan gotong royong membantu,” katanya.
Kebakaran di Sukabumi ini menambah daftar panjang tragedi serupa di Indonesia. Data dari Kementerian Dalam Negeri mencatat rata-rata terjadi 500 kebakaran rumah per tahun akibat kelalaian penggunaan api. Banyak korban jiwa berasal dari anak-anak yang tinggal sendiri atau bersama lansia. Kejadian ini memicu keprihatinan soal pengawasan anak dan ketersediaan infrastruktur listrik yang handal.
Penutup Naratif
Malam itu, tiga bocah pergi selamanya dalam pelukan api. Tak ada yang sempat berteriak, tak ada yang bisa menolong. Lilin kecil yang seharusnya memberi terang justru menjadi malapetaka. Di tengah duka yang mendalam, kita semua harus merenung: sudahkah kita menjaga rumah dari api, baik nyata maupun simbolis? Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, dan peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi setiap rumah tangga di Indonesia. Jangan biarkan lilin menjadi saksi bisu kepedihan yang tak terungkapkan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










