Telepon Dini Hari Terakhir dari Indah Korban Kebakaran KMP Putri Yasmin yang Tak Pernah Terpenuhi

Telepon Dini Hari Terakhir dari Indah Korban Kebakaran KMP Putri Yasmin yang Tak Pernah Terpenuhi

Suara Pecari, Lombok Barat – Keluarga Indah Dwi Septiani (19), mahasiswi Universitas Mataram semester 3, tengah berduka atas kepergian putri keduanya yang menjadi korban kebakaran kapal KMP Putri Yasmin di perairan Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada Rabu (12/8/2026).

<pPada pukul 01.00 WITA dini hari sebelum musibah terjadi, Indah sempat melakukan panggilan terakhir kepada keluarganya. Dalam percakapan tersebut, ia mengabarkan bahwa dirinya bersama dua teman kuliahnya, Haula Dwi Juliyatri Hasibuan dan Rahdatul Aisy Putri Salsabilla, sedang menunggu kapal di pelabuhan untuk menyeberang kembali ke Lombok usai libur semester di Bali.

Namun, setelah panggilan itu, komunikasi dengan Indah terputus dan keluarga tidak dapat menghubunginya kembali. Kabar duka kemudian menyusul, mengonfirmasi bahwa Indah menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat kebakaran kapal tersebut.

Perjalanan dan Kejadian Sebelum Musibah

Indah dan teman-temannya dalam perjalanan pulang ke Lombok setelah menghabiskan masa libur semester di Bali dengan mengendarai sepeda motor. Ketika tiba di pelabuhan, mereka bersiap menyeberang menggunakan KMP Putri Yasmin.

Kebakaran yang terjadi pada kapal tersebut menyebabkan sejumlah korban jiwa dan hilang. Tim Basarnas dan pihak terkait segera melakukan upaya pencarian dan evakuasi dalam masa golden time tiga hari sejak kejadian.

Duka Keluarga dan Dampak Peristiwa

Indah merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dan panutan bagi adiknya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat. Keluarga telah memakamkan Indah dengan penuh kesedihan di rumah duka.

Peristiwa kebakaran KMP Putri Yasmin ini menjadi peringatan penting mengenai keselamatan penumpang dan pengelolaan transportasi laut, terutama di wilayah perairan yang sering dilalui masyarakat.

Upaya pencarian korban masih berlangsung, dengan laporan terbaru bahwa beberapa korban ditemukan hingga enam mil laut dari lokasi kejadian, bahkan nyaris terbawa arus hingga perairan Australia.

Musibah ini menimbulkan keprihatinan luas dan mendorong evaluasi keselamatan dalam transportasi laut di Indonesia.

Keluarga dan masyarakat berharap agar kejadian serupa tidak terulang dan keselamatan penumpang menjadi prioritas utama dalam pengoperasian kapal penyeberangan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *