BNPB Catat 995 Gempa Susulan di NTT, 53 Korban Meninggal dan 154 Rumah Rusak Berat
Suara Pecari, Nusa Tenggara Timur – Setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 995 kali gempa susulan terjadi hingga 16 Agustus pukul 15.00 WIB. Namun, hanya 46 gempa susulan yang dirasakan masyarakat.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa gempa susulan merupakan proses alami yang membantu struktur patahan gempa kembali stabil. Dengan berlalunya waktu, energi gempa ini diharapkan akan berkurang sehingga gempa susulan berikutnya tidak signifikan dan tidak dirasakan masyarakat.
Korban Jiwa dan Luka-Luka
Hingga Minggu sore, BNPB mencatat 53 orang meninggal dunia akibat gempa ini. Korban tersebar di beberapa wilayah sebagai berikut:
| Wilayah | Jumlah Korban Meninggal (jiwa) |
|---|---|
| Manggarai Barat | 1 |
| Manggarai Timur | 20 |
| Manggarai | 25 |
| Nagekeo | 1 |
| Sikka | 4 |
| Ende | 2 |
Selain itu, terdapat 135 korban luka yang saat ini dirawat di fasilitas kesehatan terdekat dengan rincian luka berat dan ringan di beberapa kabupaten terdampak.
Kerusakan Infrastruktur dan Kondisi Pengungsian
BNPB mencatat 154 unit rumah mengalami kerusakan berat, 49 unit rusak sedang, dan 38 unit rusak ringan akibat gempa. Kerusakan ini menyebabkan banyak warga tetap bertahan di tempat pengungsian, tidak hanya karena kondisi rumah yang rusak tetapi juga karena trauma akibat gempa bumi dan tsunami yang pernah terjadi pada tahun 1992.
Pemerintah Provinsi NTT menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari mulai 15 hingga 28 Agustus 2026 guna mempercepat penanganan dampak bencana dan mempermudah koordinasi antar pihak terkait.
Imbauan Pemerintah dan Respons Penanganan
Deputi Bidang Pencegahan BNPB mengimbau warga yang masih mengungsi untuk segera melaporkan kondisi rumahnya jika mengalami kerusakan. Laporan dapat disampaikan kepada aparat desa, RT, RW, atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat agar pendataan untuk perbaikan rumah dapat dilakukan secara tepat dan cepat.
Badan SAR Nasional (Basarnas) juga terus menyiagakan personel di wilayah terdampak seperti Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat untuk mengantisipasi kebutuhan pencarian dan pertolongan jika diperlukan. Namun, hingga kini belum ada laporan orang hilang dari keluarga atau kerabat korban gempa.
Penanganan gempa ini terus dipantau dan data korban serta kerusakan masih dalam proses validasi untuk memastikan bantuan dan pemulihan dapat dilakukan secara efektif.
Informasi ini penting untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan memastikan respons penanganan bencana berjalan optimal demi keselamatan dan pemulihan wilayah terdampak.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










