Erupsi Gunung Anak Krakatau Diduga Jadi Penyebab Dentuman yang Terdengar di Tiga Provinsi
Suara Pecari, Bandung – Suara dentuman yang terdengar hingga Bandung Raya dan beberapa wilayah di Jawa Barat, Banten, serta Lampung pada Sabtu dini hari (5/9/2026) diduga berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Erupsi yang berlangsung sejak pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB tersebut memicu getaran yang terasa hingga kaca dan pintu rumah bergetar.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyampaikan bahwa suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat di tiga provinsi tersebut berkaitan erat dengan fenomena erupsi lava air mancur yang terjadi di Anak Krakatau. Meskipun jarak Bandung dari Gunung Anak Krakatau mencapai sekitar 700 kilometer, gelombang suara frekuensi rendah dapat merambat jauh melalui atmosfer dan membelokkan jalur suaranya sehingga terdengar cukup jelas di wilayah tersebut.
Fakta Erupsi Anak Krakatau dan Suara Dentuman
- Erupsi Anak Krakatau mulai meningkat sejak 2 Juli 2026, menyebabkan PVMBG menaikkan status aktivitas gunung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
- Aktivitas erupsi kembali terjadi pada 31 Agustus 2026 dan berlangsung terus pada malam 5 September hingga pagi hari berikutnya.
- Gelombang suara berfrekuensi rendah yang dihasilkan dari ekspansi pelepasan gas dan turbulensi aliran lava mampu merambat jauh, menyebabkan dentuman terdengar hingga Bandung Raya dan wilayah lainnya.
- Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Banten, juga mendengar suara gemuruh bersamaan dengan erupsi yang memuntahkan lava merah menyala.
- Fenomena lava fountain yang berlangsung terus-menerus merupakan karakteristik erupsi yang menghasilkan suara dentuman dan getaran kuat.
Penjelasan Berbeda dari BMKG
Meski Badan Geologi menduga kuat dentuman berasal dari erupsi Anak Krakatau, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung memberikan pandangan berbeda. Kepala BMKG Bandung, Suaidi Ahadi, menyatakan bahwa jarak antara Bandung dan Anak Krakatau terlalu jauh untuk suara erupsi terdengar hingga Kota Bandung secara langsung. Selain itu, BMKG tidak merekam adanya gempa atau aktivitas sesar aktif yang dapat menjelaskan dentuman tersebut di wilayah Bandung Raya pada waktu kejadian.
BMKG juga menyebutkan kemungkinan dentuman berkaitan dengan fenomena geofisika lain, seperti skyquake, yang merupakan suara ledakan misterius di atmosfer yang kadang terdengar tanpa sebab gempa atau letusan vulkanik.
Reaksi dan Dampak di Masyarakat
Fenomena dentuman ini menimbulkan kehebohan dan kepanikan di masyarakat Bandung Raya dan sekitarnya. Suara bergemuruh berulang kali sejak Sabtu malam hingga dini hari membuat warga khawatir dan mencari sumber suara tersebut. Berbagai laporan di media sosial mencatat getaran yang dirasakan pada jendela, pintu, dan dinding rumah.
Pihak berwenang menghimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum dikonfirmasi. BNPB juga meminta masyarakat tidak panik menanggapi erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih terpantau aktif.
Konteks dan Pentingnya Pemantauan Vulkanik
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api tipe A yang berada di Selat Sunda dan dikenal memiliki aktivitas vulkanik yang dapat berdampak luas. Pemantauan secara intensif oleh PVMBG dan Badan Geologi penting untuk mengantisipasi potensi bahaya bagi masyarakat di sekitar kawasan Selat Sunda dan wilayah terdampak lainnya.
Gelombang suara frekuensi rendah yang merambat jauh melalui atmosfer merupakan fenomena alam yang dapat terjadi pada letusan besar, seperti yang pernah terjadi saat letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883. Kejadian terbaru ini menjadi pengingat betapa kuat dan luas dampak aktivitas vulkanik di kawasan ini.
Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perubahan aktivitas gunung berapi demi keselamatan bersama.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










