PSI dan Ambisi ‘Kandang Gajah’ di Jateng: Antara Safari Politik Jokowi dan Kritik Pengamat
Suara Pecari, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali menjadi sorotan publik. Ambisi partai berlambang gajah ini untuk mengubah Jawa Tengah dari ‘kandang banteng’ menjadi ‘kandang gajah’ melalui safari politik Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) menuai beragam reaksi. Di sisi lain, pengakuan Sekjen PSI yang juga Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, terkait amplop dari Bupati Kuantan Singingi ikut memicu perdebatan di kalangan pengamat politik.
Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan, Sekjen PSI Raja Juli Antoni melaporkan penolakan gratifikasi berupa amplop yang ditinggalkan Bupati Kuantan Singingi, Suhardiman Amby. Pengamat politik STISIPOL Candradimuka Palembang, Ade Indra Chaniago, menyoroti pengakuan tersebut dengan nada sinis. “Fenomena korupsi sudah seperti cerita-cerita drama Korea. Mungkin politik sudah menjadi produk, artinya semua berlomba-lomba untuk jualan dengan branding,” ujarnya. Ade juga mengkritik peran Dewan Pembina PSI, Jokowi, yang dinilai lebih sibuk dengan urusan kekuasaan ketimbang mencari solusi atas persoalan bangsa. “Buat saya ini tanda-tanda sakit jiwa. Jadi sakit jiwa bangsa ini ditularkan seluruh elite hingga ke masyarakat kelas bawah,” tambahnya.
Sementara itu, langkah PSI yang ingin menjadikan Jawa Tengah sebagai basis baru mendapat respons dari Ketua DPP PDIP, Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul. Ia menyebut semua partai masih menahan diri karena Undang-Undang Pemilu belum disahkan. “Caleg-caleg ini pasti ngerem dulu. Mereka meng-hold uang-uangnya untuk nanti pertempuran ke depan,” ujarnya. Bambang Pacul juga menekankan bahwa keinginan PSI untuk mengubah citra Jateng masih harus dibuktikan di lapangan.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai ambisi PSI sulit terwujud jika hanya mengandalkan Jokowi. “Pengaruh Jokowi lebih personal, berbasis populis, dan berorientasi pada bantuan sosial. Pendekatan ini pragmatis dan dapat mendongkrak elektoral dalam waktu singkat, namun tidak mengakar di masyarakat,” jelasnya. Sebaliknya, basis dukungan PDIP di Jateng terbentuk melalui ikatan ideologis terhadap Bung Karno dan Megawati, yang melahirkan pemilih tradisional dengan loyalitas tinggi.
Di sisi lain, pengamat politik Ray Rangkuti meyakini safari politik Jokowi bersama PSI merupakan skenario jika anaknya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, tidak lagi menjadi wapres. “Ada target jangka pendek dan jangka panjang. Jangka panjangnya memastikan Gibran terus berada di level nasional. Target utamanya tetap bersama dengan Prabowo di pilpres yang akan datang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa skenario kedua adalah Gibran maju sebagai capres atau cawapres dari tokoh lain.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sendiri terus menggaungkan ambisinya di bawah kepemimpinan Kaesang Pangarep. Namun, berbagai kritik dan tantangan menghadang, mulai dari isu moralitas elite hingga persaingan politik yang ketat. Publik pun menanti apakah PSI mampu merealisasikan targetnya atau justru tenggelam dalam drama politik yang semakin kompleks.
Kesimpulannya, langkah PSI untuk memperkuat posisi politik melalui safari politik Jokowi dan target ‘kandang gajah’ di Jateng menghadapi tantangan serius, baik dari segi elektoral maupun moralitas. Partai Solidaritas Indonesia perlu membuktikan bahwa mereka tidak hanya mengandalkan popularitas tokoh, tetapi juga memiliki program yang mengakar di masyarakat. Tanpa itu, ambisi besar hanya akan menjadi wacana tanpa realisasi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










