Mengapa Jokowi Mendapat Gelar Raja di NTT dan Baginda di Lampung? Ini Penjelasan dari PSI
Suara Pecari, Jakarta – Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi, kembali menerima gelar adat saat melakukan kunjungan ke beberapa daerah pasca masa jabatannya berakhir. Terbaru, Jokowi dianugerahi gelar Saudara Raja Raja Timor dalam sebuah karnaval budaya di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 1 Agustus 2026.
Penghargaan serupa juga diterima Jokowi dari Kedatun Keagungan Lampung yang menganugerahkan gelar adat Baginda Pemuka Bangsa. Penyematan gelar-gelar adat ini menjadi simbol penghormatan masyarakat adat di berbagai wilayah atas kontribusi dan hasil kerja Jokowi selama memimpin Indonesia.
Makna Gelar Adat bagi Jokowi
Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, menjelaskan bahwa pemberian gelar adat tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan merupakan cerminan penghargaan masyarakat terhadap rekam jejak kepemimpinan Jokowi yang masih dirasakan manfaatnya hingga kini. Menurut Ahmad Ali, masyarakat tidak hanya mengingat pidato atau janji, tetapi lebih pada hasil pembangunan yang memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Di NTT, gelar Saudara Raja Raja Timor diberikan oleh para raja dari sejumlah kerajaan di Pulau Timor, seperti Amanatun, Malaka, Amanuban, Mollo, Biboki, Bikomi Nilulat, Amfoang, Kupang, dan Amarasi. Prosesi adat ini melibatkan penyerahan tongkat dan kain adat sebagai simbol bahwa Jokowi diterima sebagai bagian dari keluarga besar kerajaan di Pulau Timor.
Penghormatan tersebut dipandang sebagai bentuk apresiasi atas pembangunan infrastruktur dan pengembangan wilayah yang dirasakan langsung oleh masyarakat NTT selama kepemimpinan Jokowi. Contohnya adalah pembangunan bendungan seperti Raknamo, Rotiklot, Napun Gete, dan Temef, serta pengembangan jalan, pelabuhan, bandara, kawasan perbatasan, dan pariwisata, termasuk Labuan Bajo.
Gelar Baginda Pemuka Bangsa di Lampung
Sebelumnya, di Lampung, Jokowi dianugerahi gelar Baginda Pemuka Bangsa dari Kedatun Keagungan Lampung. Gelar ini merupakan penghormatan tertinggi yang diberikan atas pengabdian Jokowi selama memimpin Indonesia dan merupakan bagian dari tradisi muakhi yang melambangkan persaudaraan, penghormatan, dan doa bagi sosok yang dianggap berjasa.
Ahmad Ali menilai, kedua gelar adat ini memiliki pola yang sama, yaitu penghormatan yang datang bukan semata karena status Jokowi sebagai mantan presiden, tetapi karena masyarakat masih merasakan manfaat pembangunan dan perubahan signifikan yang telah diberikannya.
Konteks Safari Politik Jokowi
Selain penghormatan adat, kunjungan Jokowi ke NTT dan Lampung juga diisi dengan agenda politik yang melibatkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Safari politik ini dinilai sebagai upaya memperkuat elektoral PSI dengan mengonversi popularitas Jokowi menjadi dukungan politik, terutama menjelang Pemilu 2029.
Meski antusiasme masyarakat terhadap Jokowi tinggi, lembaga survei mengingatkan bahwa hal tersebut tidak otomatis berbanding lurus dengan dukungan elektoral bagi PSI. Konversi dukungan tersebut memerlukan upaya yang berkelanjutan dan strategis.
Dengan demikian, gelar adat yang diterima Jokowi sekaligus menjadi simbol bahwa karya dan pengabdiannya masih hidup dan diingat oleh masyarakat di berbagai daerah, khususnya yang merasakan manfaat pembangunan selama masa kepemimpinannya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.







