KNKT Rilis Hasil Investigasi Sementara Tabrakan Kereta di Bekasi
Suara Pecari | Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengungkapkan hasil investigasi sementara mengenai kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026. Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menyatakan bahwa informasi yang disampaikan merupakan data faktual dan belum termasuk analisis atau kesimpulan resmi mengenai penyebab kecelakaan tersebut.
Kecelakaan terjadi setelah KRL Commuter Line KA 5568A tiba di jalur 6 Stasiun Bekasi pada pukul 20.33 WIB dan menunggu KA Sawunggalih untuk melintas. KA Sawunggalih tiba di jalur 3 pada pukul 20.34 WIB dan keberangkatan kembali dilakukan pada pukul 20.38 WIB. KA 5568A kemudian diberangkatkan dari jalur 6 pada pukul 20.45 WIB dan tiba di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur pukul 20.48 WIB.
Beberapa detik setelah kedatangan KRL, insiden terjadi ketika KRL Commuter Line KA 5181 terlibat kecelakaan dengan taksi di dekat Stasiun Bekasi Timur, yang menyebabkan kerumunan warga. KA 5568A sempat diberangkatkan kembali namun terpaksa berhenti lagi karena kerumunan tersebut. Pada saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek melintas di jalur 3 dan tabrakan terjadi pukul 20.52 WIB.
Keterlambatan KA 5568A sekitar delapan menit dari jadwal semula, sementara KA Argo Bromo Anggrek melintas lebih cepat tiga menit dari jadwal. Soerjanto mengungkapkan bahwa masinis KA Argo Bromo Anggrek telah melakukan pengereman 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan dan juga membunyikan klakson sebagai peringatan.
Dalam investigasi, KNKT juga memeriksa sistem persinyalan dan komunikasi di jalur tersebut. Ditemukan bahwa ada tiga sistem persinyalan terintegrasi saat kejadian. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sinyal keluar Stasiun Bekasi menunjukkan aspek aman, namun sinyal pengulang menunjukkan aspek tidak aman. Masinis KA Argo Bromo Anggrek mengalami kesulitan dalam melihat sinyal pengulang pada malam hari akibat pencahayaan dari rumah warga dan lampu jalan.
Selain itu, KNKT menemukan adanya gangguan komunikasi radio antara kereta dan pengatur perjalanan stasiun. Gangguan ini berpotensi mempengaruhi keselamatan operasional kereta. Soerjanto menambahkan bahwa salah satu penyebab utama kecelakaan adalah sinyal Stasiun Bekasi tidak dapat mendeteksi keberadaan KA 5568A di Bekasi Timur.
Dengan hasil investigasi sementara ini, KNKT berharap masyarakat dapat memahami kondisi yang menyebabkan kecelakaan tersebut. Proses penyelidikan lebih lanjut akan terus dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai insiden ini dan untuk meningkatkan keselamatan transportasi kereta di masa mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











