Purbaya Yudhi Sadewa: Krisis Ekonomi 1998 Tak Akan Terulang di Indonesia

Purbaya Yudhi Sadewa: Krisis Ekonomi 1998 Tak Akan Terulang di Indonesia

Suara Pecari | Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998 tidak akan terulang. Ia menyatakan bahwa kondisi saat ini, yang ditandai dengan pelemahan nilai tukar rupiah, sangat berbeda dibandingkan dengan krisis moneter yang pernah terjadi. Purbaya menjelaskan bahwa depresiasi rupiah saat ini berada pada kisaran 4-5 persen, jauh lebih ringan dibandingkan dengan krisis sebelumnya yang sempat mencapai 42 persen.

Dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan pada 22 Mei 2026, Purbaya menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi yang baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,61 persen pada kuartal pertama tahun 2026. Ia juga menyebutkan bahwa sejumlah ekonom senior yang diundang oleh Presiden Prabowo sepakat dengan penilaian tersebut.

Di antara ekonom yang hadir, terdapat Burhanuddin Abdullah, mantan Gubernur Bank Indonesia, dan Lukita Dinarsyah Tuwo, mantan Menteri Koordinator Perekonomian. Mereka berpendapat bahwa tekanan pada nilai tukar rupiah saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor persepsi masyarakat. Purbaya menekankan pentingnya sosialisasi untuk menjelaskan keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi kepada publik.

Burhanuddin Abdullah menambahkan bahwa masyarakat tidak seharusnya menyamakan pelemahan nilai tukar saat ini dengan krisis yang terjadi di masa lalu. Ia menjelaskan bahwa meskipun nilai tukar berada di kisaran Rp 16.000-17.000, kenaikannya hanya sekitar 5 persen, dan tidak ada indikasi bahwa kondisi saat ini sama kritisnya dengan tahun 1998.

Purbaya juga mengungkapkan bahwa selama satu tahun pada tahun 2005, depresiasi rupiah hanya mencapai 3,4 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi saat ini masih jauh lebih baik dibandingkan dengan masa lalu. Ia menekankan bahwa pemahaman masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini perlu ditingkatkan agar tidak terjadi persepsi negatif yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi.

Dengan demikian, pemerintah berkomitmen untuk terus menjelaskan dan mensosialisasikan keadaan perekonomian kepada masyarakat, agar mereka memahami bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan tidak perlu khawatir terhadap kondisi yang ada saat ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan