Penurunan Kredit UMKM Menjadi Sorotan Bank Indonesia

Penurunan Kredit UMKM Menjadi Sorotan Bank Indonesia

Suara Pecari | Bank Indonesia (BI) mengamati adanya penurunan signifikan dalam penyaluran kredit kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) oleh perbankan. Hal ini terjadi di tengah peran penting UMKM yang berkontribusi sebesar 61,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Dhaha P. Kuantan, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit untuk UMKM mengalami penurunan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini terlihat di berbagai jenis bank, termasuk bank-bank BUMN, bank umum swasta, dan bank pembangunan daerah.

Data BI menunjukkan bahwa pertumbuhan total kredit perbankan untuk UMKM hingga April 2026 tercatat sebesar 17,16 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 17,49 persen dan tahun 2024 yang sebesar 19,24 persen.

Dhaha menekankan pentingnya perhatian terhadap kondisi tersebut, mengingat kontribusi besar UMKM dalam pertumbuhan kredit. Ia mengungkapkan, “Kita perlu melakukan upaya penguatan UMKM, agar bisa kembali menjadi motor penggerak pertumbuhan kredit dan ekonomi,” ujarnya.

Salah satu faktor penyebab penurunan kredit UMKM adalah tingginya risiko yang dihadapi oleh bank dalam menyalurkan kredit. Risiko ini mencakup potensi terjadinya kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) serta keterbatasan daya beli masyarakat menengah ke bawah.

Laporan BI mencatat bahwa NPL untuk kredit UMKM hingga April 2026 mencapai 4,62 persen, yang jauh lebih tinggi dibandingkan NPL kredit konsumsi yang sebesar 2,40 persen dan NPL kredit komersial yang tercatat 2,79 persen. Meskipun NPL kredit UMKM masih berada di bawah ambang batas aman yang ditetapkan OJK dan BI yaitu 5 persen, namun angka tersebut menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap sektor ini.

Di sisi lain, Kredit Usaha Rakyat (KUR) menunjukkan pertumbuhan yang positif dengan angka mencapai 32,5 persen pada bulan April 2026. Sebagai perbandingan, pertumbuhan KUR pada tahun sebelumnya tercatat sebesar 30,5 persen. Realisasi KUR hingga April 2026 mencapai Rp96,19 triliun, sementara target realisasi untuk tahun ini ditetapkan sebesar Rp295 triliun.

Dhaha menambahkan, “Ini yang kita syukuri. Harapannya, pertumbuhan KUR bisa lebih tinggi lagi. Sehingga dapat menopang pertumbuhan UMKM secara keseluruhan.” Ia juga mengharapkan program-program pemerintah seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih dapat memberikan dampak positif, sehingga perbankan lebih terdorong untuk menyalurkan kredit kepada UMKM yang terlibat dalam program-program tersebut.

Secara keseluruhan, kondisi penyaluran kredit untuk UMKM memerlukan perhatian khusus dari semua pihak, terutama mengingat peran vital UMKM dalam perekonomian nasional. Upaya penguatan dan dukungan terhadap sektor ini menjadi krusial agar UMKM dapat kembali berkontribusi secara optimal dalam pertumbuhan ekonomi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan