Harga Ikan di Pasar Lambaro Melonjak Akibat Cuaca Buruk: Nelayan Kesulitan, Pedagang Terjepit

Harga Ikan di Pasar Lambaro Melonjak Akibat Cuaca Buruk: Nelayan Kesulitan, Pedagang Terjepit

Suara Pecari, Harga ikan di Pasar Induk Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, mengalami lonjakan signifikan dalam pekan pertama Juli 2026. Kenaikan ini dipicu oleh cuaca buruk yang melanda perairan Aceh, mengakibatkan pasokan ikan dari nelayan berkurang drastis. Berdasarkan pantauan di lokasi, beberapa jenis ikan naik hingga Rp15.000 per kilogram, mempengaruhi aktivitas jual beli dan daya beli masyarakat.

Kenaikan Harga Ikan di Pasar Lambaro

Cuaca buruk seperti angin kencang dan gelombang tinggi telah menghambat aktivitas melaut nelayan di Aceh. Akibatnya, hasil tangkapan menurun drastis, sehingga harga ikan di tingkat pedagang ikut meroket. Berikut adalah perbandingan harga beberapa jenis ikan sebelum dan sesudah cuaca buruk:

Jenis IkanHarga Sebelum (Rp/kg)Harga Sesudah (Rp/kg)Kenaikan (Rp)
Tuna40.00055.00015.000
Tongkol35.00045.00010.000
Kembung30.00040.00010.000
Bandeng28.00035.0007.000

Kenaikan tertinggi terjadi pada ikan tuna, yang melonjak Rp15.000 per kilogram. Ikan tongkol dan kembung naik Rp10.000 per kilogram, sementara bandeng naik Rp7.000 per kilogram. Para pedagang mengaku tidak bisa mengambil untung besar karena harga beli dari nelayan juga ikut naik.

Penyebab Cuaca Buruk dan Dampaknya pada Nelayan

Kondisi Cuaca Ekstrem di Perairan Aceh

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa sejak akhir Juni 2026, perairan Aceh dilanda angin kencang dengan kecepatan mencapai 40 knot dan gelombang setinggi 3-5 meter. Kondisi ini tidak aman bagi nelayan untuk melaut, terutama yang menggunakan perahu kecil. Akibatnya, banyak nelayan yang memilih untuk tidak melaut atau hanya melaut di perairan dangkal yang hasilnya minim.

Penurunan Hasil Tangkapan Nelayan

Menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Besar, hasil tangkapan nelayan di wilayah tersebut turun hingga 40% dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini berdampak langsung pada pasokan ikan ke Pasar Induk Lambaro, yang merupakan pusat distribusi ikan terbesar di Aceh Besar.

Dampak pada Pedagang dan Konsumen

Pedagang Terjepit Antara Harga Beli dan Daya Beli

Pedagang ikan di Pasar Lambaro, seperti Amin, mengaku kesulitan karena harga beli dari nelayan tinggi, sementara daya beli masyarakat menurun. “Kami juga tidak bisa mengambil keuntungan banyak karena harga beli dari nelayan sudah tinggi. Pembeli juga berkurang karena harga mahal,” ujar Amin. Para pedagang berharap cuaca segera membaik agar pasokan normal kembali.

Konsumen Mengurangi Pembelian Ikan

Dampak kenaikan harga langsung dirasakan oleh konsumen. Beberapa pembeli mengaku mengurangi jumlah pembelian ikan atau beralih ke sumber protein lain yang lebih murah. “Biasanya beli ikan setiap hari, sekarang seminggu dua kali saja karena mahal,” kata seorang ibu rumah tangga, Sari. Hal ini menyebabkan aktivitas jual beli di pasar tidak seramai biasanya.

Upaya Pemerintah dan Harapan ke Depan

Pemerintah Kabupaten Aceh Besar melalui Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan berencana menggelar operasi pasar untuk menstabilkan harga. Selain itu, mereka juga akan memberikan bantuan kepada nelayan yang terdampak cuaca buruk. Namun, upaya ini masih terkendala oleh keterbatasan anggaran dan logistik.

Harapan Nelayan dan Pedagang

Nelayan berharap cuaca segera membaik agar mereka bisa melaut kembali dan meningkatkan hasil tangkapan. Pedagang berharap pasokan ikan kembali lancar sehingga harga bisa turun. Sementara konsumen berharap harga ikan kembali terjangkau seperti sebelumnya.

Cuaca buruk yang melanda perairan Aceh telah menimbulkan efek domino yang merugikan banyak pihak, mulai dari nelayan, pedagang, hingga konsumen. Kenaikan harga ikan di Pasar Induk Lambaro menjadi cerminan betapa rentannya sektor perikanan terhadap perubahan iklim. Diperlukan sinergi antara pemerintah, nelayan, dan pedagang untuk menciptakan sistem ketahanan pangan yang lebih kuat, sehingga goncangan seperti ini tidak terus berulang. Masyarakat pun diharapkan dapat beradaptasi dengan mencari alternatif sumber protein lain sambil menunggu situasi kembali normal.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *