Pasar Murah Pemko Tanjungbalai: Upaya Nyata Menjaga Stabilitas Harga dan Ketersediaan Pangan

Pasar Murah Pemko Tanjungbalai: Upaya Nyata Menjaga Stabilitas Harga dan Ketersediaan Pangan

Suara Pecari, Pemerintah Kota Tanjungbalai melalui Dinas Perikanan, Pertanian dan Pangan (PPP) menggelar Gerakan Pasar Murah (GPM) sebagai respons terhadap fluktuasi harga dan kekhawatiran akan kelangkaan bahan pokok. Kegiatan yang berlangsung sejak awal Juli 2026 ini menyasar seluruh kelurahan di enam kecamatan, menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global dan nasional.

Latar Belakang: Ancaman Inflasi Pangan dan Respons Cepat Pemda

Dalam beberapa bulan terakhir, harga beras di pasaran nasional menunjukkan tren kenaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pangan tahunan di atas 5%, terutama didorong oleh kenaikan harga beras yang mencapai 15% secara year-on-year. Kota Tanjungbalai, sebagai daerah yang sebagian besar pasokan pangan bergantung pada daerah penghasil seperti Sumatera Utara dan Jawa, tidak luput dari dampaknya. Wakil Wali Kota Tanjungbalai, Muhammad Fadly Abdina, menyatakan bahwa informasi mengenai langkanya beras dan tingginya harga di pasaran menjadi pemicu utama digelarnya GPM. “Kami telah melakukan monitoring ke Gudang Bulog untuk memastikan stok dan harga beras tetap aman bagi masyarakat,” ujarnya saat meninjau pelaksanaan di Kelurahan Sijambi, Kecamatan Datuk Bandar, Jumat 10 Juli 2026.

Mekanisme Pelaksanaan GPM: Jadwal, Lokasi, dan Kuota

Gerakan Pasar Murah dilaksanakan setiap hari secara bergilir di enam kecamatan: Datuk Bandar, Tanjungbalai Selatan, Tanjungbalai Utara, Sei Tualang Raso, Teluk Nibung, dan Datuk Bandar Timur. Setiap kelurahan mendapat giliran dengan jadwal yang telah ditentukan, sehingga seluruh warga berkesempatan membeli bahan pokok murah. Pemerintah menyediakan dua komoditas utama:

  • Beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) kemasan 5 kilogram, dijual seharga Rp58.000 per kemasan.
  • Telur ayam per papan (30 butir), dijual seharga Rp48.000 per papan.

Harga ini jauh lebih rendah dibandingkan harga pasar yang berkisar Rp63.000 untuk beras 5 kg dan Rp53.000 untuk telur per papan. Selisih harga yang signifikan ini menjadikan GPM sebagai program yang sangat dinantikan masyarakat.

Data Perbandingan Harga: GPM vs Pasar Ritel

Untuk memberikan gambaran lebih jelas, berikut perbandingan harga antara GPM dan harga eceran di pasar tradisional serta ritel modern:

KomoditasHarga GPMHarga Pasar TradisionalHarga Ritel ModernSelisih
Beras SPHP 5 kgRp58.000Rp63.000Rp65.000Rp5.000–7.000 lebih murah
Telur Ayam (30 butir)Rp48.000Rp53.000Rp55.000Rp5.000–7.000 lebih murah

Antusiasme Warga dan Kendala Pasokan

Respons masyarakat sangat positif. Salah seorang warga, Nisa, mengaku sangat terbantu. “Harga beras di sini hanya Rp58 ribu, sementara di pasar Rp63 ribu. Harapannya kegiatan seperti ini bisa diadakan setiap minggu,” ujarnya. Kepala Dinas PPP Kota Tanjungbalai, Muslim, mengungkapkan bahwa setiap pelaksanaan GPM menyediakan sekitar 2 ton beras SPHP dan 100 papan telur. Namun, tingginya antusiasme seringkali membuat stok cepat habis. “Kami harus menambah pasokan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” kata Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa program tersebut sangat diminati, namun juga menuntut koordinasi yang lebih baik dengan Bulog dan distributor agar ketersediaan barang terjaga.

Dampak Ekonomi dan Sosial: Meredam Inflasi dan Memperkuat Daya Beli

GPM tidak hanya meringankan beban harian masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas harga di tingkat lokal. Dengan adanya suplai beras murah, tekanan permintaan di pasar tradisional berkurang, sehingga harga eceran cenderung tidak naik lebih lanjut. Dari sisi sosial, program ini menjadi jaring pengaman bagi rumah tangga berpenghasilan rendah yang paling rentan terhadap gejolak harga pangan. Lebih lanjut, evaluasi terhadap mitra Rumah Pangan Kita (RPK) Bulog di Tanjungbalai diharapkan memperbaiki distribusi beras ke depannya. “Distribusi beras dari Bulog ke Tanjungbalai harus lebih baik agar tidak terjadi kelangkaan,” tegas Fadly.

Evaluasi dan Rencana Ke Depan

Pemerintah Kota Tanjungbalai berencana melanjutkan GPM setidaknya selama dua pekan penuh dengan jadwal yang telah disusun. Evaluasi berkala dilakukan untuk menyesuaikan jumlah pasokan dengan permintaan. Muslim menambahkan bahwa pihaknya juga menjajaki kemungkinan menambah komoditas lain seperti minyak goreng dan gula pasir jika anggaran memungkinkan. “Kami ingin memastikan semua kebutuhan pokok dapat dijangkau masyarakat,” tutupnya.

Penutup: Sinergi untuk Ketahanan Pangan Lokal

Gerakan Pasar Murah yang digagas Pemko Tanjungbalai menjadi contoh nyata bagaimana pemerintah daerah dapat merespons secara cepat dan tepat terhadap tantangan pangan. Melalui kolaborasi dengan Bulog, distribusi yang terencana, serta partisipasi aktif masyarakat, program ini tidak hanya menjaga stabilitas harga, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dari level rumah tangga. Ke depannya, konsistensi dan perluasan jangkauan GPM akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa setiap warga Tanjungbalai dapat bernapas lega di tengah tekanan ekonomi yang masih membayangi.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *