ADB Kucurkan USD 218 Juta untuk Bangun 37 Laboratorium BPOM RI

Suara Pecari – Asian Development Bank (ADB) mengalokasikan dana sebesar USD 218 juta atau sekitar Rp 3,9 triliun untuk mendukung pembangunan 37 laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang tersebar di seluruh Indonesia. Dana ini disalurkan melalui proyek Bolstering Product Oversight and Market Surveillance for Food and Drug Project (BPOM Project) dengan tujuan memperkuat kapasitas pengujian dan pengawasan produk pangan dan obat.

Dukungan untuk Peningkatan Kapasitas BPOM

Direktur ADB untuk Indonesia, Bobur Alimov, menyatakan dukungannya terhadap komitmen BPOM dalam menjaga standar global yang konsisten, seperti World-Listed Authority (WLA). Menurutnya, keberhasilan BPOM sangat bergantung pada sumber daya manusia dan peralatan teknologi yang digunakan di laboratorium pengujian.

Baca juga:

Proyek ini akan membantu memperluas jaringan laboratorium BPOM yang ramah lingkungan serta meningkatkan kapasitas regulasi. Selain pembangunan fisik laboratorium, proyek juga menyediakan peralatan dan mengembangkan sistem informasi digital untuk memudahkan pertukaran data dan analisis big data, mempercepat pengujian, dan meningkatkan pengawasan pasar berbasis risiko termasuk pengawasan lokapasar daring.

Laboratorium Ramah Lingkungan dan Digitalisasi

Laboratorium yang dibangun akan menerapkan prinsip ramah lingkungan dan tangguh (resilient), guna mendukung pembangunan berkelanjutan. Penggunaan energi seperti air dan listrik akan dioptimalkan untuk efisiensi operasional. Sistem digital akan semakin ditingkatkan untuk mendukung tata kelola pengujian dan pengambilan keputusan berbasis data risiko.

Peningkatan Sumber Daya Manusia dan Infrastruktur

Selain fasilitas, proyek ADB juga fokus pada peningkatan kapasitas teknis dan manajerial staf BPOM agar dapat menjalankan fungsi regulasi secara efektif. Rencana Strategis BPOM 2025-2029 menegaskan pentingnya laboratorium yang kuat dan digitalisasi tata kelola sebagai basis pengawasan yang efektif.

Fokus Lokasi: Makassar

Balai Besar BPOM Makassar merupakan salah satu lokasi penerima bantuan pembangunan laboratorium dari ADB dengan alokasi anggaran sekitar Rp 50 miliar. Kepala Balai Besar POM Makassar, Yosef Dwi Irwan Prakasa, menjelaskan bahwa laboratorium yang dibangun akan berorientasi pada efisiensi energi dan ramah lingkungan.

Baca juga:

Signifikansi dan Dampak Proyek

Penguatan laboratorium BPOM di Indonesia melalui dukungan ADB dipandang sebagai kunci untuk menjamin kualitas, keamanan, dan khasiat produk pangan dan obat. Sistem regulasi yang kuat diharapkan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat, mendorong inovasi, investasi, serta perdagangan.

Peningkatan kapasitas pengujian di tingkat lokal juga akan mengurangi kebutuhan rujukan sampel ke laboratorium pusat, mempercepat waktu penyelesaian pengujian, dan mengoptimalkan pengawasan pasar yang berbasis risiko.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *