Rumah Cerebral Palsy Dorong Pemerintah Perkuat Dukungan bagi Anak Penyandang CP
Suara Pecari – Rumah Cerebral Palsy mengajak pemerintah untuk memperkuat dukungan bagi anak-anak penyandang cerebral palsy (CP). Pernyataan ini disampaikan oleh Co-Founder Rumah Cerebral Palsy, Iis R. Soelaeman, dalam acara World Cerebral Palsy Day 2026 yang berlangsung di Atrium Mall Teraskota, BSD, pada 24 Oktober 2026.
Dukungan Pemerintah Diperlukan untuk Kualitas Hidup Anak Penyandang CP
Iis menegaskan bahwa peningkatan kualitas hidup anak dengan cerebral palsy tidak dapat hanya mengandalkan keluarga saja. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak, terutama kementerian terkait seperti Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Kesehatan. Dukungan dari pemerintah harus mencakup akses layanan kesehatan, pendidikan inklusif, fasilitas yang ramah bagi pengguna kursi roda, serta lingkungan sosial yang mendukung perkembangan anak.
Fokus pada Akses Kesehatan dan Pendidikan Inklusif
Pentingnya pendampingan dari tenaga kesehatan, seperti dokter dan terapis, menjadi sorotan utama. Selain itu, akses terhadap layanan terapi yang memadai juga menjadi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar anak-anak penyandang CP dapat berkembang secara optimal. Di bidang pendidikan, Iis menekankan perlunya sekolah inklusif yang mampu mengakomodasi kebutuhan khusus anak-anak dengan cerebral palsy sehingga mereka memiliki kesempatan yang setara untuk belajar.
Fasilitas Aksesibel dan Lingkungan Sosial yang Mendukung
Ketersediaan fasilitas yang aksesibel bagi pengguna kursi roda juga menjadi bagian penting dari dukungan yang harus diberikan. Lingkungan sosial yang inklusif dan mendukung sangat dibutuhkan agar anak-anak dengan cerebral palsy dapat beraktivitas dan mengembangkan kemampuan sesuai potensi masing-masing tanpa hambatan fisik maupun sosial.
Menghapus Stigma Negatif terhadap Anak Penyandang CP
Iis juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan label negatif kepada anak dengan cerebral palsy. Ia menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi dan tahapan perkembangan yang berbeda, sehingga perlakuan yang adil dan kesempatan berkembang tanpa diskriminasi sangat penting. Stigma yang melekat dapat membatasi kesempatan mereka untuk menunjukkan kemampuan dan berkembang secara maksimal.
Menurut Iis, dukungan kepada anak dengan cerebral palsy tidak boleh berhenti pada rasa iba saja, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk kepercayaan dan kesempatan yang setara dalam berbagai aspek kehidupan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










