Maroko Bukan Kejutan: Proyek 17 Tahun yang Mengubah Singa Atlas Jadi Raksasa Baru Sepak Bola Dunia
Suara Pecari, Maroko kembali menorehkan sejarah di Piala Dunia 2026. Timnas Singa Atlas sukses melangkah ke babak perempat final setelah menundukkan tuan rumah Kanada dengan skor telak 3-0 pada babak 16 besar, Sabtu (4/7/2026) waktu setempat. Kemenangan ini bukan sekadar hasil instan, melainkan buah dari proyek jangka panjang yang telah dirancang sejak 17 tahun lalu.
Keberhasilan Maroko menembus delapan besar Piala Dunia 2026 melanjutkan tren positif yang sudah mereka bangun sejak tampil mengejutkan hingga semifinal pada edisi 2022. Bagi sebagian pengamat, pencapaian ini mungkin terlihat seperti keajaiban. Namun, jika menilik perjalanan panjang Federasi Sepak Bola Maroko (FRMF), semuanya adalah hasil perencanaan matang dan konsisten.
Transformasi sepak bola Maroko dimulai pada 2009 ketika Raja Mohammed VI meluncurkan Akademi Sepak Bola Mohammed VI. Pemerintah menggelontorkan investasi lebih dari 65 juta dolar AS untuk membangun pusat pengembangan pemain muda berstandar internasional. Akademi ini menjadi fondasi utama regenerasi pemain, melahirkan bintang-bintang seperti gelandang Azzedine Ounahi yang baru saja mencetak brace saat melawan Kanada.
Ounahi menjadi pahlawan kemenangan Maroko atas Kanada. Dua golnya pada babak kedua memastikan langkah timnya ke perempat final. Menariknya, ini merupakan brace ketiga dalam karier Ounahi, dan semuanya ia persembahkan untuk Maroko. Pemain berusia 26 tahun itu menjadi contoh nyata keberhasilan sistem pembinaan pemain lokal yang dijalankan FRMF.
Selain akademi, Maroko juga aktif merangkul pemain diaspora. Pendekatan yang dilakukan bukan sekadar menawarkan kesempatan bermain, tetapi membangun rasa memiliki terhadap tanah leluhur. Strategi ini berhasil mendatangkan pemain berkualitas seperti Achraf Hakimi dan Brahim Diaz, yang kini menjadi tulang punggung tim.
Di balik lapangan, ada sosok Imane Khallad, istri kiper utama Yassine Bounou. Meski jarang tersorot, Imane adalah pendukung setia yang selalu hadir di tribun. Keharmonisan keluarga para pemain turut menjadi faktor pendukung konsistensi performa Maroko.
Kemenangan 3-0 atas Kanada juga memperpanjang rekor 34 laga tanpa kekalahan dalam waktu normal di semua kompetisi. Catatan ini menegaskan bahwa Maroko bukan lagi tim kuda hitam, melainkan kandidat kuat juara. Di babak perempat final, Maroko akan menghadapi Prancis pada Jumat (10/7/2026) dini hari WIB di Boston Stadium.
Kesimpulannya, Maroko telah membuktikan bahwa kesuksesan di pentas dunia bukanlah kebetulan. Proyek 17 tahun yang dimulai dari akademi hingga pendekatan diaspora telah mengubah Singa Atlas menjadi raksasa baru sepak bola dunia. Kini, seluruh mata tertuju pada langkah mereka selanjutnya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










