Korban Meninggal Insiden Ledakan KMP Aceh Hebat 2 Bertambah jadi Empat Orang, ASDP Pastikan Pendampingan Penuh
Suara Pecari, Sabang – Duka mendalam kembali menyelimuti insiden ledakan di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2. Mujibur Rahman, taruna DP IV Pembentukan Teknika Politeknik Pelayaran Malahayati asal Sigli, Kabupaten Pidie, meninggal dunia pada Senin, 6 Juli 2026, sekitar pukul 12.40 WIB setelah menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Dengan bertambahnya korban jiwa ini, total korban meninggal dunia akibat ledakan yang terjadi pada Jumat, 12 Juni 2026, saat kapal bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, menjadi empat orang. Sebelumnya, tiga korban lainnya yang telah meninggal adalah Fahri Herdi Eko, Muhammad Bilal Ramzi, dan Muhammad Zulfikar. Keempatnya merupakan taruna Politeknik Pelayaran Malahayati yang mengalami luka bakar parah akibat ledakan di ruang mesin kapal.
Kronologi Peristiwa
Ledakan terjadi pada Jumat, 12 Juni 2026, sekitar pukul 14.30 WIB, saat KMP Aceh Hebat 2 tengah bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Kapal milik PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) ini sedang dalam proses bongkar muat penumpang dan kendaraan. Ledakan keras terdengar dari ruang mesin, menyebabkan kepanikan di sekitar pelabuhan. Sebanyak 15 orang menjadi korban, terdiri dari 14 taruna Politeknik Pelayaran Malahayati yang sedang menjalani praktik kerja lapangan di atas kapal, dan seorang anak buah kapal (ABK). Seluruh korban dilarikan ke RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh untuk mendapatkan perawatan intensif.
Korban Luka dan Perawatan
Hingga saat ini, seluruh korban yang selamat masih menjalani perawatan di rumah sakit. Dari 15 korban, empat orang telah meninggal dunia, sementara 11 lainnya masih dalam kondisi kritis dengan luka bakar bervariasi. Tim medis RSUD dr. Zainoel Abidin terus berupaya maksimal untuk menyelamatkan nyawa para korban. Pihak rumah sakit juga telah mendatangkan dokter spesialis luka bakar dari Banda Aceh dan Jakarta untuk membantu penanganan.
| Nama Korban | Status | Asal |
|---|---|---|
| Mujibur Rahman | Meninggal (6 Juli 2026) | Sigli, Pidie |
| Fahri Herdi Eko | Meninggal | – |
| Muhammad Bilal Ramzi | Meninggal | – |
| Muhammad Zulfikar | Meninggal | – |
| 11 korban lainnya | Masih dirawat (kritis) | Berbagai daerah |
Pendampingan dari ASDP
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Banda Aceh, Andri Setiawan, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya Mujibur Rahman. “Atas nama Manajemen PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum. Kami berdoa semoga almarhum mendapat tempat terbaik, serta keluarga diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan menghadapi cobaan ini,” ujar Andri, Senin 6 Juli 2026.
Menurut Andri, sejak hari pertama insiden terjadi, ASDP terus memberikan pendampingan kepada korban dan keluarga, termasuk berkoordinasi dengan rumah sakit serta instansi terkait hingga proses pemulangan jenazah dan pemakaman. “Sejak insiden terjadi, ASDP terus hadir mendampingi proses penanganan korban, berkoordinasi dengan rumah sakit dan seluruh instansi terkait, serta mengawal kebutuhan keluarga, termasuk hingga proses pemulangan jenazah serta pemakaman,” katanya.
Ia menambahkan bahwa ASDP tetap mendukung proses penyidikan yang dilakukan Polda Aceh serta melakukan evaluasi terhadap aspek keselamatan operasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan keamanan layanan penyeberangan. “Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan standar keselamatan agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegas Andri.
Penyidikan dan Hasil Labfor
Penyidik Polda Aceh masih menunggu hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik (Labfor) terhadap komponen dan sistem di ruang mesin kapal. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar untuk mengungkap penyebab pasti ledakan sekaligus melengkapi proses penyidikan yang masih berlangsung. Kapolda Aceh, Irjen Pol. Drs. Ahmad Haydar, S.H., M.M., menyatakan bahwa pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk kru kapal, petugas pelabuhan, dan pihak ASDP. “Kami akan bekerja secara profesional dan transparan untuk mengungkap penyebab ledakan ini. Jika ditemukan unsur kelalaian atau pidana, kami akan proses sesuai hukum yang berlaku,” ujar Ahmad Haydar dalam konferensi pers.
Dampak dan Implikasi
Insiden ledakan KMP Aceh Hebat 2 ini menimbulkan dampak luas, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi industri pelayaran dan keselamatan transportasi laut di Indonesia. Beberapa dampak yang perlu dicermati antara lain:
- Dampak Sosial: Keluarga korban kehilangan pencari nafkah dan anggota keluarga. Masyarakat Aceh, khususnya keluarga taruna, berduka. Pemerintah daerah perlu memberikan santunan dan dukungan psikologis.
- Dampak Operasional: KMP Aceh Hebat 2 saat ini tidak beroperasi karena masih dalam proses penyidikan. Hal ini berdampak pada jadwal penyeberangan di Pelabuhan Ulee Lheue, terutama rute Banda Aceh–Sabang. ASDP telah mengalihkan penumpang ke kapal lain untuk sementara.
- Dampak Regulasi: Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut telah membentuk tim investigasi independen untuk mengevaluasi prosedur keselamatan di kapal ferry. Kemungkinan akan ada revisi standar operasional prosedur (SOP) terkait perawatan mesin dan pelatihan kru.
- Dampak Industri: Insiden ini menjadi alarm bagi perusahaan pelayaran di seluruh Indonesia untuk meningkatkan pengawasan keselamatan. Asosiasi perusahaan pelayaran nasional menyatakan akan mengadakan audit keselamatan secara serentak.
Respons Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Perhubungan telah berkoordinasi dengan ASDP dan Polda Aceh untuk mempercepat penanganan korban dan penyidikan. Gubernur Aceh, H. Nova Iriansyah, S.T., M.T., menyampaikan rasa duka cita dan memastikan bahwa pemerintah akan memberikan bantuan kepada keluarga korban. “Kami akan mengupayakan santunan dari pemerintah dan memastikan hak-hak korban terpenuhi,” ujar Nova.
Sementara itu, masyarakat Aceh dan organisasi mahasiswa menggelar aksi solidaritas di sekitar pelabuhan dan rumah sakit. Mereka membawa lilin dan spanduk bertuliskan dukacita serta tuntutan agar pihak berwenang mengusut tuntas kasus ini. Beberapa tokoh masyarakat juga meminta agar kapal-kapal tua yang tidak laik laut segera diperiksa dan diperbaharui.
Penutup Naratif
Ledakan di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 telah merenggut nyawa empat taruna muda yang sedang menimba ilmu di Politeknik Pelayaran Malahayati. Mereka adalah calon-calon penerus bangsa yang bercita-cita mengabdi di dunia pelayaran. Kepergian mereka menyisakan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga dan almamater, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Di tengah upaya penyembuhan para korban luka dan investigasi yang masih berlangsung, semua pihak berharap agar tidak ada lagi nyawa yang melayang akibat kecelakaan serupa. Semoga peristiwa ini menjadi momentum bagi perbaikan sistem keselamatan transportasi laut di Indonesia, sehingga para pelaut dan penumpang dapat berlayar dengan aman dan tenang. Selamat jalan, para taruna. Jasa dan pengorbanan kalian akan dikenang selamanya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










