Kronis Nyeri Perut di Tengah Laut, ABK Filipina Dievakuasi Tim SAR Gabungan Pangkalpinang
Suara Pecari, SUNGAILIAT — Seorang Anak Buah Kapal (ABK) asal Filipina bernama Picache (35) berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat setelah mengalami nyeri perut kronis saat bertugas di MV Jacob Oldendorff, sebuah kapal kargo berbendera Filipina yang tengah melintasi perairan Pulau Belitung, Rabu (1/7/2026) malam. Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) yang berlangsung kurang dari lima jam ini melibatkan puluhan personel dari berbagai instansi, menunjukkan kesiapsiagaan dan sinergi antarlembaga dalam menangani keadaan darurat di laut.
Kronologi Evakuasi Medis
Kejadian bermula pada pukul 17.00 WIB, saat kapal MV Jacob Oldendorff yang berlayar dari Tiongkok menuju Maroko melintasi perairan Belitung. Picache tiba-tiba mengeluhkan nyeri perut hebat yang tak tertahankan. Sadar akan keterbatasan fasilitas medis di kapal, Kapten Vu Tuan segera menghubungi Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas B Pangkalpinang pada pukul 17.47 WIB. Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan menyiagakan Tim SAR Gabungan.
Tahapan Operasi
| Waktu (WIB) | Kegiatan |
|---|---|
| 17.47 | Basarnas menerima laporan dari Kapten Vu Tuan |
| 19.30 | Briefing persiapan di Pelabuhan Tanjung Pandan |
| 20.10 | Tim bergerak menuju titik intercept menggunakan RIB 04 Basarnas |
| 20.45 | Tim sandar di lambung MV Jacob Oldendorff |
| 21.00 | Evakuasi korban ke RIB 04 selesai, tim bertolak kembali |
| 21.45 | Tiba di Pelabuhan Pelindo Tanjung Pandan, korban diserahkan ke medis darat |
Kondisi cuaca saat operasi relatif bersahabat dengan kecepatan angin 7 knot dari Tenggara dan tinggi gelombang 0,5 meter. Hal ini memudahkan manuver RIB 04 Basarnas untuk merapat ke kapal kargo yang berukuran jauh lebih besar. Tim medis dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjung Pandan yang ikut serta langsung melakukan pemeriksaan awal di atas kapal sebelum memutuskan untuk memindahkan Picache.
Respons Cepat dan Sinergi Antarinstansi
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas B Pangkalpinang, Mikel Rachman Junika, mengapresiasi respons cepat seluruh unsur yang terlibat. “Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh unsur Tim SAR Gabungan, baik dari personel USS Tanjung Pandan, KSOP, KKP, Pelni, Polairud, maupun TNI AL. Respons cepat dan sinergi yang solid di lapangan menunjukkan komitmen bersama kita dalam semangat Satu Jiwa Satu Rasa untuk mewujudkan pelayanan SAR yang profesional, modern, dan teruji,” ujarnya.
Operasi ini melibatkan berbagai pihak dengan peran masing-masing:
- Basarnas Pangkalpinang: Koordinator dan penyedia armada RIB 04.
- USS Tanjung Pandan: Dukungan personel dan logistik.
- KSOP (Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan): Koordinasi lalu lintas kapal.
- KKP Tanjung Pandan: Pelayanan medis di lokasi.
- Pelni: Bantuan fasilitas pelabuhan.
- Polairud dan TNI AL: Pengamanan dan dukungan operasi.
Dampak dan Implikasi
Kejadian ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan medis di kapal-kapal niaga yang melintasi perairan Indonesia. Meskipun kapal kargo internasional biasanya memiliki perlengkapan P3K, kondisi darurat seperti nyeri perut kronis memerlukan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan darat. Operasi evakuasi medis (medevac) seperti ini menjadi krusial untuk menyelamatkan nyawa.
Bagi industri pelayaran, insiden ini menjadi pengingat untuk memastikan setiap ABK memiliki asuransi kesehatan dan akses ke layanan medis darurat di pelabuhan-pelabuhan yang disinggahi. Selain itu, koordinasi yang baik antara otoritas maritim Indonesia dan kapal asing perlu terus ditingkatkan, terutama dalam hal komunikasi dan prosedur evakuasi.
Masyarakat pesisir, khususnya nelayan, juga mendapat pelajaran berharga. Rusdi, seorang nelayan asal Pangkalpinang, mengingatkan rekan-rekannya untuk selalu menjaga kesehatan dan membawa perlengkapan obat-obatan. “Di kapal itu kita harus siapkan obat karena kerja kita itu jauh di tengah laut. Jadi perlu waspada juga jaga kesehatan,” ujarnya.
Penanganan Pascaevakuasi
Setiba di Pelabuhan Pelindo Tanjung Pandan, Picache langsung diserahterimakan kepada petugas medis darat dan dibawa menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Utama Belitung untuk mendapatkan perawatan intensif. Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai diagnosis pasti penyebab nyeri perut yang dideritanya. Namun, tim medis setempat memastikan bahwa kondisi Picache stabil dan responsif terhadap pengobatan.
Kedutaan Besar Filipina di Jakarta telah dihubungi dan memberikan apresiasi atas respons cepat otoritas Indonesia. Mereka juga berkoordinasi dengan pihak perusahaan pelayaran pemilik MV Jacob Oldendorff untuk memastikan hak-hak Picache sebagai pekerja migran terpenuhi, termasuk biaya perawatan dan repatriasi jika diperlukan.
Penutup
Di tengah luasnya samudra, nyawa manusia tetap menjadi prioritas. Operasi evakuasi Picache membuktikan bahwa batas negara dan perbedaan bendera tidak menghalangi solidaritas kemanusiaan. Tim SAR Gabungan Pangkalpinang telah menunjukkan bahwa dengan kesigapan dan kerja sama, ancaman di laut dapat diatasi. Semoga Picache segera pulih dan kembali berlayar dengan selamat, dan semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak yang bekerja di atas kapal untuk selalu mengutamakan kesehatan dan keselamatan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










