Pura Mandhara Giri Semeru Agung: Simbol Harmoni Budaya Bali dan Jawa di Lereng Semeru
Piodalan Satunggil Warsa: Perayaan Akbar di Kaki Semeru
Suara Pecari, DENPASAR – Tradisi dan budaya Bali kembali menggema di lereng Gunung Semeru, Jawa Timur. Pemerintah Kota Denpasar bersama masyarakat Hindu melaksanakan Bhakti Penganyar dalam rangka Piodalan Satunggil Warsa di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Kabupaten Lumajang, bertepatan dengan Rahina Redite Pon Wuku Medangsia, Minggu (5/7/2026). Acara ini menjadi puncak rangkaian perayaan yang berlangsung selama 11 hari, mulai 29 Juni hingga 10 Juli 2026, dan dihadiri ribuan umat Hindu dari berbagai daerah, terutama Bali dan Jawa Timur.
Piodalan Satunggil Warsa tahun ini merupakan momentum penting bagi umat Hindu di Nusantara. Pura Mandhara Giri Semeru Agung, yang terletak di kawasan wisata Gunung Semeru, tidak hanya menjadi pusat spiritual, tetapi juga simbol persaudaraan lintas budaya. Kehadiran ribuan peziarah yang datang silih berganti selama 24 jam menunjukkan antusiasme dan kekhusyukan umat dalam menjalankan tradisi keagamaan.
Prosesi Khidmat: Tarian Sakral dan Persembahyangan
Rangkaian upacara diawali dengan pementasan Tari Rejang Renteng yang dibawakan oleh Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Denpasar. Tarian sakral ini kemudian dilanjutkan dengan Tari Rejang Taksu Bhuwana oleh PHDI Kota Denpasar, Tari Baris Gede oleh Forum Perbekel dan Lurah Kota Denpasar, serta Topeng Wali yang dipentaskan Paguyuban Seniman Kota Denpasar. Menariknya, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara turut ngayah dengan menarikan Topeng Keras, sebuah tarian yang melambangkan kekuatan spiritual dan kepemimpinan.
Diiringi kidung suci dan tabuh gambelan, seluruh prosesi berlangsung khusyuk sebelum ditutup dengan persembahyangan bersama yang dipuput oleh Ida Pedanda Gede Dwija Padang Rata dari Griya Kutri, Gianyar. Suasana khidmat terasa sejak awal hingga akhir, mencerminkan kedalaman spiritualitas umat Hindu yang hadir.
Makna di Balik Piodalan: Implementasi Tri Hita Karana
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menegaskan bahwa pelaksanaan piodalan bukan sekadar tradisi keagamaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat sradha bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan sesuai ajaran Tri Hita Karana. “Melalui pelaksanaan pujawali ini, mari kita tingkatkan sradha bhakti sebagai upaya menjaga harmonisasi antara parahyangan, pawongan, dan palemahan sebagai implementasi Tri Hita Karana,” ujarnya.
Tri Hita Karana, yang terdiri dari tiga elemen keseimbangan, menjadi fondasi utama dalam setiap upacara di Pura Mandhara Giri. Parahyangan (hubungan dengan Tuhan), pawongan (hubungan antarsesama), dan palemahan (hubungan dengan alam) diwujudkan melalui persembahyangan, gotong royong, dan pelestarian lingkungan sekitar pura.
Simbol Kebersamaan Lintas Daerah
Manggala Karya Piodalan, Cokorda Gede Indrayana, menjelaskan bahwa Pura Mandhara Giri Semeru Agung telah menjadi simbol persaudaraan umat Hindu di Nusantara. Keberadaan pura ini memadukan nilai-nilai Hindu Bali dan Hindu Jawa, sehingga setiap pelaksanaan Bhakti Penganyar selalu melibatkan pemerintah daerah dari berbagai kabupaten dan kota, khususnya di Jawa Timur. Tahun ini, Bhakti Penganyar dari Pemkot Denpasar dilaksanakan bersama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan Pemerintah Kota Surabaya. “Ini menjadi simbol kebersamaan umat Hindu lintas daerah,” katanya.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa perbedaan budaya tidak menjadi penghalang, melainkan justru memperkaya khazanah spiritual. Umat Hindu dari Bali dan Jawa saling berbagi tradisi, seperti tarian, kidung, dan tata cara persembahyangan, menciptakan harmoni yang indah di lereng Semeru.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat
Kehadiran Pura Mandhara Giri Semeru Agung memberikan dampak positif yang luas, baik secara spiritual, sosial, maupun ekonomi. Secara spiritual, pura ini menjadi pusat ziarah bagi umat Hindu di Pulau Jawa, memperkuat ikatan keagamaan dan identitas budaya. Secara sosial, acara seperti Piodalan Satunggil Warsa mempererat tali silaturahmi antarumat dari berbagai daerah, sekaligus menjadi ajang pertukaran budaya. Secara ekonomi, kedatangan ribuan peziarah selama 11 hari memberikan multiplier effect bagi perekonomian lokal, terutama sektor pariwisata, perhotelan, dan UMKM di sekitar Lumajang.
Pemerintah daerah setempat pun menyambut baik kegiatan ini sebagai bagian dari upaya promosi wisata religi. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang, dalam sambutannya, menyatakan bahwa event semacam ini mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke kawasan Gunung Semeru, yang sudah terkenal sebagai destinasi pendakian.
Kronologi dan Data Perayaan
Untuk memberikan gambaran lebih jelas, berikut adalah kronologi singkat Piodalan Satunggil Warsa 2026:
| Tanggal | Kegiatan | Keterangan |
|---|---|---|
| 29 Juni 2026 | Purnama Kasa – Awal Piodalan | Upacara pembukaan |
| 5 Juli 2026 | Bhakti Penganyar dari Pemkot Denpasar | Dihadiri Wali Kota dan Wakil Wali Kota |
| 5–10 Juli 2026 | Persembahyangan massal 24 jam | Ribuan umat dari berbagai daerah |
| 10 Juli 2026 | Penutupan Piodalan | Upacara pamungkas |
Selain itu, berikut adalah beberapa poin penting terkait perayaan ini:
- Total peserta diperkirakan mencapai 10.000 orang selama 11 hari.
- Melibatkan 3 pemerintah daerah: Denpasar, Sidoarjo, dan Surabaya.
- Menampilkan 5 jenis tarian sakral: Rejang Renteng, Rejang Taksu Bhuwana, Baris Gede, Topeng Wali, dan Topeng Keras.
- Dipuput oleh Ida Pedanda Gede Dwija Padang Rata, seorang sulinggih ternama dari Gianyar.
Penutup: Merajut Nusantara dalam Bingkai Spiritual
Pura Mandhara Giri Semeru Agung bukan sekadar bangunan suci di lereng gunung. Ia adalah simpul yang merajut keberagaman budaya Bali dan Jawa dalam bingkai spiritual Hindu. Di tengah arus modernisasi dan disintegrasi sosial, pura ini menjadi oase ketenangan dan persaudaraan. Ribuan umat yang datang silih berganti membawa doa dan harapan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keharmonisan bangsa. Seperti aliran lahar dingin Semeru yang menyuburkan tanah di sekitarnya, harmoni yang tercipta di pura ini diharapkan dapat menyuburkan persatuan di Nusantara.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










