Anggota DPR Dorong Sengketa Laut China Selatan Diselesaikan Lewat Dialog
Pentingnya Dialog dalam Penyelesaian Sengketa Laut China Selatan
Suara Pecari, Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel, menegaskan bahwa penyelesaian sengketa Laut China Selatan (LCS) harus ditempuh melalui jalur dialog antar negara yang terlibat. Menurutnya, perdamaian di kawasan tersebut sangat penting untuk menjaga stabilitas ASEAN, terutama dalam sektor perdagangan. “Sebagai negara sahabat, kami di Indonesia mendorong agar penyelesaian konflik Laut China Selatan bisa menggunakan jalur-jalur dialog,” ujar Rachmat Gobel dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).
Pernyataan ini muncul di tengah percepatan negosiasi Code of Conduct (COC) antara negara-negara ASEAN dan China. COC merupakan inisiatif diplomatik yang bertujuan mengelola sengketa batas wilayah di LCS agar tidak memicu eskalasi militer. Saat ini, proses diskusi telah memasuki fase pembahasan lanjutan (second reading) di bawah dorongan keketuaan ASEAN.
Latar Belakang Sengketa Laut China Selatan
Sengketa LCS melibatkan klaim tumpang tindih dari beberapa pihak, yaitu China, Taiwan, dan empat negara ASEAN: Brunei, Malaysia, Filipina, serta Vietnam. Kawasan ini kaya akan sumber daya alam, termasuk cadangan minyak dan gas bumi, serta menjadi jalur perdagangan strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Hindia. Ketegangan kerap muncul akibat aktivitas penangkapan ikan ilegal, pembangunan instalasi militer, dan patroli kapal penjaga pantai.
Pada 2016, Filipina membawa kasus ini ke Mahkamah Arbitrase PBB. Namun, keputusan yang dihasilkan tidak mampu menyelesaikan perbedaan secara efektif, malah memicu perpecahan pandangan di internal ASEAN. “Putusan Arbitrase sudah lama dan belum berhasil menyelesaikan masalah ini. Maka idealnya penyelesaian masalah LCS dilakukan dengan diplomasi langsung antar negara-negara yang terlibat,” tegas Gobel.
Peran Indonesia dalam Mediasi LCS
Meski Indonesia tidak terlibat langsung dalam sengketa, negara ini memiliki peran penting sebagai mediator. Gobel menyatakan, “Indonesia lewat berbagai upaya masih terus ikut membantu, khususnya dengan mempromosikan dialog perdamaian dalam konflik LCS.” Indonesia juga dapat menjembatani pertemuan antara negara-negara ASEAN dan China untuk mencari titik tengah terbaik.
Langkah diplomasi yang diusulkan mencakup dialog bilateral Government to Government (G2G), kerja sama multilateral, hingga pertemuan tatap muka yang menciptakan suasana harmonis. “Duduk satu meja dapat menciptakan suasana harmonis untuk negosiasi COC,” imbuh Gobel.
Dampak Stabilitas Kawasan terhadap Ekonomi ASEAN
Stabilitas di LCS memiliki implikasi langsung terhadap perekonomian ASEAN. Gobel, yang juga anggota Komisi VI DPR bidang perdagangan, menekankan bahwa perdamaian kawasan dapat menjadi kekuatan ASEAN di tengah ketidakpastian global. “Di saat konflik Timur Tengah yang melibatkan negara-negara barat terus menggerus sektor ekonomi di seluruh dunia, perdamaian kawasan dapat menjadi kekuatan ASEAN,” ungkapnya.
Berikut adalah data dampak potensial jika konflik LCS tidak segera diselesaikan:
| Aspek | Dampak Negatif | Dampak Positif jika Dialog Berhasil |
|---|---|---|
| Perdagangan | Gangguan jalur pelayaran, peningkatan biaya logistik | Lancarnya arus barang, biaya lebih rendah |
| Investasi | Ketidakpastian hukum, penundaan proyek | Meningkatnya kepercayaan investor asing |
| Pariwisata | Penurunan kunjungan wisatawan | Peningkatan pariwisata regional |
| Keamanan | Eskalasi militer, potensi konflik terbuka | Stabilitas keamanan jangka panjang |
Semangat Kekeluargaan dalam Negosiasi COC
Gobel mengajak semua pihak untuk mengedepankan semangat persahabatan antar-bangsa. “Kita adalah bangsa-bangsa yang menganut nilai-nilai kekeluargaan yang erat. Mengedepankan budaya ketimuran dapat membuka pintu perdamaian daripada langkah-langkah yang terlalu formal dan terkesan simbolik,” urainya. Pendekatan ini dianggap lebih efektif karena mayoritas negara yang terlibat memiliki akar budaya serumpun.
Langkah Konkret yang Diusulkan
- Mempercepat penyelesaian COC melalui pertemuan tingkat tinggi secara reguler.
- Mengaktifkan kembali saluran komunikasi bilateral antara negara-negara yang bersengketa.
- Mengadakan forum multilateral yang melibatkan akademisi, nelayan, dan pelaku usaha untuk memberikan masukan.
- Memanfaatkan peran Indonesia sebagai tuan rumah berbagai pertemuan ASEAN untuk memfasilitasi dialog.
Gobel juga menyoroti pentingnya menjaga perdamaian LCS bagi kepentingan masyarakat ASEAN. “Dengan begitu pertumbuhan ekonomi kawasan dapat terjaga, perdagangan di masing-masing negara tetap sehat, yang pada akhirnya membawa kemakmuran untuk masyarakat setiap negara ASEAN, termasuk Indonesia juga,” lanjutnya.
Penutup
Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, penyelesaian sengketa Laut China Selatan melalui dialog menjadi pilihan yang paling rasional dan manusiawi. Seruan Rachmat Gobel untuk mengedepankan semangat kekeluargaan dan diplomasi langsung bukan hanya sekadar retorika, melainkan sebuah kebutuhan mendesak. Jika berhasil, stabilitas kawasan akan terjaga, ekonomi ASEAN semakin kuat, dan masyarakat dapat menikmati kemakmuran bersama. Kini, bola ada di tangan para pemimpin ASEAN dan China untuk mewujudkan perdamaian yang telah lama dinanti.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









