Pelukan Ibu dan Ikhtiar Imunisasi di Tanah Rencong

Pelukan Ibu dan Ikhtiar Imunisasi di Tanah Rencong

Suara Pecari | Di Aceh, perjuangan imunisasi bukan hanya soal layanan kesehatan, melainkan juga tentang meyakinkan hati. Membuka pintu yang tertutup, dan menghadirkan kepercayaan di tengah keluarga.

Para bidan berjalan dari rumah ke rumah, mengetuk dengan sabar. Sementara para ibu menyimpan harapan agar anak-anak mereka tumbuh tanpa dibayangi penyakit yang seharusnya bisa dicegah.

Usulan pelayanan imunisasi di hari libur menjadi lebih dari sekadar perubahan jadwal. Ia adalah upaya merangkul para ayah agar turut hadir dalam keputusan penting bagi masa depan anak-anak mereka.

Sebab di balik setiap vaksin yang diberikan, ada cinta yang bekerja diam-diam. Cinta seorang ibu yang menjaga, seorang ayah yang mengizinkan, dan tenaga kesehatan yang tak lelah percaya bahwa setiap anak berhak tumbuh sehat.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono mengusulkan pelayanan imunisasi pada hari Sabtu atau Minggu. Strategi ini diambil guna meningkatkan cakupan vaksinasi anak yang masih rendah karena faktor ketiadaan izin dari pihak ayah di wilayah Aceh.

Dante menilai bahwa keputusan besar mengenai imunisasi anak sangat bergantung pada kehadiran serta izin dari pihak laki-laki di dalam keluarga. Kesibukan bekerja membuat para ayah sering kali tidak berada di rumah saat petugas kesehatan datang untuk berkunjung memberikan layanan.

Bagi Fatimah, imunisasi bukan sekadar suntikan rutin yang tercatat di buku kesehatan. Ia adalah ikhtiar sunyi seorang ibu yang ingin memastikan buah hatinya tumbuh kuat di tengah derasnya kecemasan, keraguan, dan berbagai bisik ketakutan tentang vaksin yang masih hidup di sekelilingnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan