Gotong Royong TMMD dan Warga, Pasang Reng Penyangga Atap Rumah Paidi: Wujud Kepedulian untuk Hunian Layak

Gotong Royong TMMD dan Warga, Pasang Reng Penyangga Atap Rumah Paidi: Wujud Kepedulian untuk Hunian Layak

Pendahuluan: Semangat Gotong Royong dalam Program TMMD

Suara Pecari, Di tengah hiruk-pikuk pembangunan nasional, program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) terus menjadi salah satu ujung tombak pemerataan pembangunan hingga ke pelosok. Pada Sabtu, 25 Juli 2026, Satgas TMMD bersama warga Dukuh Banjari RT 21 RW 08, Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, bahu-membahu memasang reng penyangga atap rumah milik Bapak Paidi. Kegiatan ini merupakan bagian dari Rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang menjadi prioritas TMMD ke-121.

Latar Belakang: Mengapa Rumah Bapak Paidi Menjadi Sasaran?

Bapak Paidi, seorang kepala keluarga berusia 55 tahun, selama belasan tahun tinggal di rumah berdinding anyaman bambu dan atap yang sudah rapuh. Hujan deras seringkali membuat lantai tanah becek, sementara angin kencang mengancam robohnya struktur bangunan. Program RTLH dari TMMD hadir setelah pendataan oleh Babinsa dan perangkat desa menunjukkan rumah Paidi termasuk dalam kategori sangat tidak layak huni. Melalui musyawarah desa, rumah Paidi ditetapkan sebagai salah satu dari 10 unit RTLH yang akan direhabilitasi pada siklus TMMD kali ini.

Kronologi Pemasangan Reng Penyangga Atap

Proses pemasangan reng dimulai pada pukul 07.00 WIB. Satgas TMMD yang terdiri dari 15 personel TNI bersama 30 warga setempat bergotong royong. Berikut tahapannya:

  • Pukul 07.00-08.00: Koordinasi dan pembagian tugas, serta pengumpulan material reng kayu kelas II yang telah disiapkan dari bantuan Baznas dan anggaran desa.
  • Pukul 08.00-09.30: Pembongkaran atap lama yang terbuat dari genteng tanah liat usang dan kayu keropos. Proses dilakukan hati-hati agar material masih bisa digunakan kembali.
  • Pukul 09.30-12.00: Pemasangan usuk dan reng baru. Setiap batang reng dipotong presisi dengan gergaji tangan, lalu dipasang dengan jarak 40 cm untuk kekuatan maksimal. Satgas memastikan reng terikat kencang pada balok gording menggunakan paku 10 cm.
  • Pukul 12.00-13.00: Istirahat bersama, menikmati hidangan sederhana yang disediakan ibu-ibu PKK.
  • Pukul 13.00-15.00: Penyelesaian pemasangan reng hingga seluruh bagian atap terpasang. Hasilnya, 120 batang reng berjajar rapi sebagai dasar pemasangan genteng.

Gotong Royong: Lebih dari Sekadar Pembangunan Fisik

Pemasangan reng bukan hanya soal teknis konstruksi, melainkan juga simbol kebersamaan. Pak Karno, salah satu warga, mengaku senang bisa membantu. “Rasanya seperti membangun rumah sendiri. Kita semua satu keluarga,” ujarnya. Komandan Satgas TMMD, Kapten Inf. Agus Prasetyo, menambahkan bahwa partisipasi warga mencapai 80% dari total tenaga kerja. “Ini bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah modernisasi,” tuturnya.

Dampak dan Implikasi Program RTLH

Rehabilitasi rumah Paidi membawa dampak multidimensi:

AspekDampak
SosialMeningkatkan solidaritas antarwarga dan memperkuat hubungan TNI dengan rakyat.
KesehatanAtap kokoh mencegah air hujan masuk, mengurangi risiko penyakit pernapasan akibat kelembaban.
EkonomiKeluarga Paidi dapat mengalokasikan biaya sewa rumah yang selama ini dikeluarkan untuk biaya pendidikan anak.
PsikologisRasa aman dan percaya diri meningkat, sehingga anak-anak lebih semangat bersekolah.

Program RTLH TMMD juga memicu multiplier effect. Data dari Desa Cukil menunjukkan bahwa setelah rumah Paidi selesai, tiga rumah tetangga mulai direnovasi secara mandiri. Hal ini sejalan dengan target pemerintah menekan angka RTLH nasional yang masih 1,2 juta unit pada 2025.

Keberlanjutan Program: Dari Reng hingga Hunian Layak

Pemasangan reng adalah tahap kritis. Setelah ini, Satgas dan warga akan melanjutkan pemasangan genteng, plafon, dan pengecatan dinding. Target penyelesaian seluruh pekerjaan adalah 14 hari ke depan. Bapak Paidi tidak bisa menahan haru. “Saya tidak pernah menyangka akan punya rumah layak. Terima kasih TNI dan warga,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

TMMD bukan sekadar program fisik, tetapi juga investasi sosial. Ke depan, Pemkab Semarang berencana menganggarkan dana pendamping untuk perbaikan infrastruktur lingkungan, seperti jalan setapak dan drainase di sekitar rumah Paidi. Dengan demikian, kualitas hidup warga Dukuh Banjari akan meningkat secara menyeluruh.

Penutup: Harapan Baru dari Reng Kayu

Setiap batang reng yang terpasang di atap rumah Paidi bukanlah sekadar kayu. Ia adalah simbol harapan, bahwa di balik keterbatasan, masih ada tangan-tangan yang terulur. Satgas TMMD dan warga telah menuliskan kisah gotong royong yang akan selalu dikenang. Kini, di bawah atap yang kokoh, keluarga Paidi dapat memimpikan masa depan yang lebih cerah. Program TMMD membuktikan bahwa pembangunan sejati adalah ketika setiap warga negara memiliki tempat berteduh yang layak, aman, dan nyaman. Dan itu, dimulai dari setapak demi setapak, dari reng demi reng.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *