Nepal Butuh Rp 88 T untuk Pulihkan Infrastruktur usai Banjir Bandang
Suara Pecari – Nepal diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp 88 triliun atau setara USD 5 miliar untuk membangun kembali infrastruktur yang rusak akibat banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah pegunungan negara tersebut pada akhir Agustus 2026.
Estimasi Biaya Rekonstruksi
Menteri Keuangan Nepal, Swarnim Wagle, menyatakan bahwa perkiraan kebutuhan dana untuk rekonstruksi ini mencapai antara USD 4 hingga 5 miliar, atau sekitar Rp 70,4 triliun hingga Rp 88 triliun dengan kurs Rp 17.600 per USD. Nilai ini hampir mencapai sepersepuluh dari ukuran perekonomian Nepal yang tercatat sebesar USD 45,5 miliar pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, angka tersebut masih bersifat perkiraan awal karena pemerintah Nepal masih melakukan penilaian menyeluruh terhadap total kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan banjir tersebut.
Dampak Banjir Bandang
Banjir bandang yang terjadi pada 26 Agustus 2026 di wilayah perbatasan Nepal dengan China mengakibatkan kerusakan parah. Beberapa kota rata dengan tanah, jembatan dan jalan hanyut terbawa arus, serta sejumlah pembangkit listrik tenaga air utama mengalami kerusakan. Bencana ini menyebabkan sedikitnya 469 korban meninggal dunia dan sekitar 1.200 orang masih hilang, termasuk ratusan wisatawan asing.
Kondisi geografis yang berat serta lumpur yang menutupi pemukiman warga menjadi tantangan besar dalam upaya penanganan dan pemulihan wilayah terdampak.
Perbandingan dengan Gempa Bumi 2015
Perkiraan biaya rekonstruksi akibat banjir bandang ini lebih rendah dibandingkan kebutuhan setelah gempa bumi dahsyat pada 2015 yang menghabiskan sekitar USD 9 miliar atau setara Rp 159,8 triliun. Gempa tersebut merupakan bencana terparah yang pernah tercatat di Nepal dengan korban jiwa hampir 9.000 orang dan lebih dari 500.000 rumah hancur.
Meskipun biaya rekonstruksi kali ini diperkirakan lebih rendah, banjir tetap menjadi pukulan besar bagi perekonomian Nepal yang bergantung pada remitansi, pariwisata, dan tenaga hidroelektrik. Kerusakan pembangkit listrik yang menyumbang lebih dari 12 persen kapasitas pembangkitan listrik nasional membawa dampak signifikan terhadap kegiatan ekonomi.
Tantangan Proses Pemulihan
Binod Chaudhary, satu-satunya miliarder Nepal dan Chairman Chaudhary Group, memperkirakan biaya pemulihan bisa mencapai USD 5 miliar. Ia menekankan bahwa tantangan pemulihan bukan hanya soal pembiayaan, melainkan juga waktu dan kondisi geografis yang sulit.
Chaudhary Group telah bekerja sama dengan pemerintah dan militer setempat dalam upaya penanganan dampak bencana, termasuk mendirikan pusat rehabilitasi bagi pengungsi, membangun rumah, serta mendukung bisnis dan sekolah terdampak.
Situasi Terkini dan Upaya Penanganan
Banjir bandang ini dipicu kemungkinan oleh mencairnya gletser di wilayah pegunungan. Kerusakan infrastruktur yang melumpuhkan aktivitas masyarakat dan perekonomian menjadi fokus utama penanganan. Pemerintah dan berbagai pihak terus melakukan evaluasi dan upaya rekonstruksi untuk mengembalikan kondisi wilayah terdampak secepat mungkin.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










