Pegawai SPPG yang Olok-olok Siswa Korban Keracunan MBG di Karo Dipecat

Pegawai SPPG yang Olok-olok Siswa Korban Keracunan MBG di Karo Dipecat

Suara Pecari, YogyakartaBadan Gizi Nasional (BGN) Regional Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberhentikan seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bantul yang mengolok-olok siswa korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Keputusan pemecatan ini diambil sebagai respons atas tindakan tidak etis pegawai tersebut yang membuat video olok-olok terhadap siswa yang menjadi korban keracunan makanan program MBG. Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, menyatakan bahwa tindakan tersebut sangat disayangkan dan tidak mencerminkan nilai-nilai profesionalisme yang harus dijunjung dalam pelaksanaan program MBG.

Penegasan Etika dan Profesionalisme dalam Program MBG

Wirandita menegaskan bahwa selain kemampuan teknis, seluruh jajaran yang terlibat dalam Program MBG wajib memiliki etika, empati, sensitivitas, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi. Kejadian ini menjadi pelajaran penting agar seluruh pegawai memahami bahwa setiap pernyataan, terutama yang disampaikan di ruang publik atau media sosial, harus mempertimbangkan dampak sosial dan rasa kemanusiaan.

Dalam hal ini, keamanan pangan dan perhatian terhadap masyarakat yang terdampak menjadi fokus utama. Wirandita mengimbau agar seluruh pegawai SPPG menunjukkan sikap empati dan menghormati korban serta tidak menjadikan insiden tersebut bahan olok-olok atau candaan.

Respons Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga menyoroti video yang viral tersebut. Ia menyayangkan tindakan pegawai SPPG yang mengolok-olok korban dan mengajak masyarakat untuk menjaga ruang publik yang aman dan ramah, terutama bagi anak-anak. Gibran menegaskan pentingnya menghindari perundungan terhadap anak-anak yang sedang mengalami masa sulit.

Selain itu, Gibran memberikan apresiasi kepada tim medis dan instansi kesehatan yang menangani korban keracunan MBG, serta memastikan bahwa kedua siswi korban, Agnesia dan Febiona, telah pulih dan kembali ke rumah masing-masing di Kabupaten Karo untuk melanjutkan aktivitas sekolah.

Penguatan Kualitas Pelayanan Program MBG

Wirandita juga menekankan bahwa kejadian ini harus menjadi momentum bagi seluruh jajaran BGN Regional DIY untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas pelayanan. Fokus kerja diarahkan pada peningkatan keamanan pangan, disiplin pelaksanaan prosedur operasional standar (SOP), pengawasan yang ketat, serta komunikasi yang baik kepada masyarakat penerima manfaat program MBG.

Hal ini penting karena perhatian masyarakat terhadap program MBG semakin meningkat, sehingga seluruh pegawai harus memberikan pelayanan terbaik dan menjawab kepercayaan tersebut dengan kinerja yang profesional dan penuh empati.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa sikap empati dan tanggung jawab sosial adalah bagian tak terpisahkan dari budaya kerja dalam pelayanan publik, terutama dalam program yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat seperti MBG.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *