Tren Belanja Berubah, Lapak Pakaian di Pasar Tradisional Sepi Pembeli

Tren Belanja Berubah, Lapak Pakaian di Pasar Tradisional Sepi Pembeli

Suara Pecari, Kediri — Pemandangan kontras terlihat di lorong-lorong Pasar Tradisional Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada Jumat, 10 Juli 2026. Puluhan lapak pakaian yang biasanya ramai dengan tawar-menawar kini sunyi. Para pedagang duduk melamun, sesekali menatap ponsel, atau tertidur di antara tumpukan kain. Suhariyanti, yang sudah berjualan sejak 2001, mengaku omzetnya terus merosot sejak pandemi Covid-19. “Dapat satu pembeli saja seperti mukjizat,” keluhnya. Fenomena ini bukan sekadar cerita lokal, melainkan cerminan perubahan besar dalam perilaku belanja masyarakat Indonesia.

Dari Ramai Menjadi Sepi: Saksi Bisu Digitalisasi

Pasar Ngadiluwih bukan satu-satunya yang merasakan dampak. Di berbagai pasar tradisional di Jawa Timur, lapak pakaian mulai ditinggalkan. Data dari Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional (APPT) menunjukkan penurunan jumlah pengunjung hingga 40% dalam lima tahun terakhir. “Puncaknya terjadi setelah pandemi, ketika kebiasaan belanja online semakin mengakar,” ujar Ketua APPT Cabang Kediri, Ahmad Zaini. Sementara itu, platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop mencatat lonjakan transaksi fashion hingga 70% pada periode yang sama.

TahunRata-rata Pengunjung Harian Pasar Tradisional (per lapak)Transaksi Fashion Online (triliun rupiah)
201950-70 orang12,5
202120-30 orang25,8
202315-20 orang40,2
20255-10 orang55,0

Kronologi Pergeseran: Dari Pandemi ke Kebiasaan Baru

Pandemi Covid-19 menjadi titik balik. Ketika pembatasan sosial diberlakukan, masyarakat terpaksa beralih ke belanja online. Setelah pandemi mereda, kebiasaan itu tidak hilang. “Saya dulu belanja baju ke pasar setiap minggu. Sekarang cukup dari rumah, lebih hemat waktu dan tenaga,” ujar Dewi, warga Kediri yang kini aktif berbelanja di platform live streaming. Ditambah lagi dengan kemudahan pembayaran seperti paylater dan transfer bank, konsumen semakin dimanjakan. Teodhora Ayu, pelaku bisnis fashion online asal Kediri, menambahkan, “Harga di online shop lebih murah karena produsen langsung menjual. Promo ongkir juga menarik.”

Dampak dan Implikasi: Ekonomi Lokal Tertekan

Dampaknya tidak hanya dirasakan pedagang. Pasar tradisional yang menjadi pusat ekonomi warga sekitar ikut lesu. Banyak lapak tutup, mengurangi pendapatan daerah dari retribusi. “Kami khawatir jika terus begini, pasar tradisional hanya tinggal kenangan,” ungkap Lurah Ngadiluwih, Budi Santoso. Sementara itu, lapangan kerja di sektor ritel konvensional menyusut. Di sisi lain, pertumbuhan e-commerce justru membuka peluang baru, namun tidak semua pedagang mampu beradaptasi.

Faktor-faktor yang Mendorong Perubahan

  • Kemudahan akses internet dan penetrasi smartphone yang tinggi.
  • Fitur live shopping yang memungkinkan konsumen melihat detail produk secara virtual.
  • Promo ongkos kirim dan diskon eksklusif dari platform e-commerce.
  • Fitur paylater yang memudahkan pembayaran tanpa kartu kredit.
  • Perubahan gaya hidup masyarakat yang menginginkan kepraktisan.

Upaya Bertahan: Pelatihan Digital untuk Pedagang Pasar

Menyikapi situasi ini, pemerintah daerah bersama pihak swasta mulai menggelar pelatihan literasi digital bagi pedagang pasar tradisional. “Kami ajarkan cara membuat akun di marketplace, fotografi produk sederhana, hingga strategi live streaming,” jelas Rina, fasilitator dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kediri. Selain itu, platform khusus seperti ‘Pasar Digital Ngadiluwih’ tengah dirancang untuk menghubungkan pedagang dengan konsumen secara online. Harapannya, pedagang tidak hanya bertahan, tetapi juga bisa bersaing di era digital.

Namun, tantangan masih besar. Banyak pedagang berusia lanjut yang gagap teknologi. “Saya lebih nyaman jualan langsung, biar bisa lihat muka pembeli. Tapi mau tidak mau harus belajar,” kata Suhariyanti. Sementara itu, generasi muda seperti Teodhora justru melihat peluang. “Pedagang pasar harus rebranding. Mereka punya keunggulan produk lokal dan interaksi personal yang tidak bisa ditiru e-commerce sepenuhnya.”

Penutup: Antara Tradisi dan Modernitas

Pasar tradisional bukan sekadar tempat berbelanja, melainkan ruang interaksi sosial yang telah mengakar dalam budaya Indonesia. Namun, arus digitalisasi tak terbendung. Jika tidak ada adaptasi, pasar tradisional bisa kehilangan relevansinya. Kolaborasi antara pedagang, pemerintah, dan platform digital menjadi kunci. Seperti kata pepatah, “Jika tidak bisa melawan arus, berenanglah bersamanya.” Saatnya pasar tradisional berbenah, tanpa kehilangan jati dirinya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *