Agrinas Palma Nusantara Diversifikasi: Tanam Kedelai, Singkong, Jagung untuk Swasembada Pangan dan Energi

Agrinas Palma Nusantara Diversifikasi: Tanam Kedelai, Singkong, Jagung untuk Swasembada Pangan dan Energi

Suara Pecari, PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), yang selama ini dikenal sebagai pengelola perkebunan kelapa sawit, kini mendapat mandat baru yang strategis: menanam kedelai, singkong, dan jagung dalam skala besar. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat swasembada pangan dan energi nasional. Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara, Abdul Ghani, mengungkapkan rencana tersebut dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Gedung Parlemen, Jakarta, pada Senin (6/7/2026).

Latar Belakang Diversifikasi

Selama ini, Agrinas Palma Nusantara fokus pada budidaya kelapa sawit dan produksi minyak sawit mentah (CPO). Namun, dengan semakin mendesaknya kebutuhan pangan dan energi terbarukan, perusahaan BUMN ini diperluas mandatnya. Pemerintah menargetkan swasembada kedelai, jagung, dan singkong untuk mengurangi ketergantungan impor, sekaligus mendukung program biodiesel B50 dan bioetanol E10. Abdul Ghani menegaskan, penanaman kedelai dan jagung difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, sedangkan singkong akan diolah menjadi bioetanol sebagai campuran bahan bakar.

Target Luas Lahan dan Produksi

Dalam paparannya, Agrinas Palma Nusantara menetapkan target ambisius hingga tahun 2030. Berikut rincian luas lahan dan produksi yang direncanakan:

KomoditasLuas Lahan (hektare)Target Produksi (ton)
Kedelai450.0001.200.000
Singkong300.0007.500.000
Jagung250.0002.500.000

Selain itu, perusahaan juga akan memperluas kebun kelapa sawit seluas 400.000 hektare dengan target produksi CPO 1,8 juta ton dan minyak goreng 174.000 ton.

Produksi Biodiesel dan Bioetanol

Dalam sektor energi, Agrinas Palma Nusantara membidik produksi 600.000 ton biodiesel pada tahun 2030, yang diperkirakan dapat memenuhi 2-5% kebutuhan nasional dalam skenario B50. Sementara untuk bioetanol, target produksi mencapai 185.000 kiloliter, menyumbang 15-20% kebutuhan dalam skenario E10. Untuk mewujudkannya, perusahaan akan mereaktivasi pabrik biodiesel di Rengat, Riau, yang memiliki kapasitas 600.000 hektare lahan sawit. Pabrik ini ditargetkan beroperasi akhir tahun depan. Selain itu, akan dibangun pabrik bioetanol baru yang mengolah singkong, dengan kapasitas produksi 185.000 kiloliter pada 2030.

Dampak dan Implikasi

Langkah diversifikasi ini memiliki dampak luas:

  • Ketahanan Pangan: Produksi kedelai dan jagung dalam negeri diharapkan mengurangi impor, sehingga memperkuat ketahanan pangan nasional.
  • Energi Terbarukan: Bioetanol dari singkong dan biodiesel dari sawit akan mendukung transisi energi dan mengurangi emisi karbon.
  • Ekonomi Petani: Keterlibatan BUMN diharapkan memberikan kepastian pasar dan harga bagi petani lokal, khususnya di wilayah sekitar lahan.
  • Investasi dan Lapangan Kerja: Pembangunan pabrik baru dan reaktivasi pabrik lama akan menyerap tenaga kerja dan mendorong investasi di sektor hilir.

Namun, tantangan juga mengemuka. Ketersediaan lahan yang sesuai, kesuburan tanah, dan ketersediaan air menjadi faktor kritis. Selain itu, diperlukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat untuk menghindari konflik lahan. Abdul Ghani menyatakan pihaknya akan melakukan studi kelayakan dan pendekatan partisipatif.

Kronologi dan Langkah Selanjutnya

Rapat kerja dengan Komisi VI DPR pada 6 Juli 2026 menjadi titik awal sosialisasi rencana ini. Selanjutnya, Agrinas Palma Nusantara akan menyusun peta jalan detail, termasuk identifikasi lahan, perizinan, dan kemitraan dengan petani. Reaktivasi pabrik biodiesel Rengat ditargetkan rampung pada akhir 2027. Sementara pembangunan pabrik bioetanol dijadwalkan mulai konstruksi pada 2028 dan beroperasi penuh pada 2030.

Langkah ini sejalan dengan Instruksi Presiden tentang Percepatan Swasembada Pangan dan Energi. Dukungan dari Kementerian BUMN, Kementerian Pertanian, dan Kementerian ESDM menjadi kunci keberhasilan.

Penutup

Diversifikasi Agrinas Palma Nusantara menandai babak baru BUMN perkebunan yang tidak hanya bergantung pada sawit, tetapi juga berkontribusi langsung pada dua sektor vital: pangan dan energi. Jika berhasil, model ini dapat menjadi contoh bagi BUMN lain untuk mengoptimalkan lahan dan sumber daya demi kepentingan nasional. Masyarakat pun menanti realisasi target-target ambisius ini, yang jika terwujud, akan membawa Indonesia selangkah lebih dekat menuju swasembada pangan dan energi yang berkelanjutan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *