Didik Rachbini Ungkap Tantangan Ekonomi yang Diwarisi ke Prabowo
Suara Pecari – Ekonom senior Didik J. Rachbini mengungkapkan tantangan besar yang harus dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia. Meskipun telah terjadi kemajuan signifikan sejak krisis ekonomi 1998, Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain yang berkembang dalam lima dekade terakhir, terutama dalam hal pendapatan per kapita dan pemerataan kesejahteraan.
Dua pidato Presiden Prabowo di DPR pada Agustus 2026 menunjukkan arah ekonomi yang semakin jelas, yaitu menggerakkan seluruh kekuatan ekonomi nasional untuk meningkatkan pertumbuhan, lapangan kerja, dan kesejahteraan yang merata. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, menilai pidato tersebut sebagai upaya pemerintah untuk menyatukan berbagai sektor seperti dunia usaha, pasar modal, perbankan, BUMN, dan masyarakat menjadi mesin pertumbuhan bersama.
Tantangan Ekonomi yang Diwarisi
Didik Rachbini menjelaskan bahwa Indonesia pernah mengalami masa sulit pada 1998 dengan pendapatan per kapita yang sangat rendah, sekitar US$ 455. Pemerintahan Presiden B.J. Habibie berhasil menstabilkan ekonomi dan politik dengan berbagai kebijakan, termasuk penurunan nilai tukar rupiah dan pembentukan UU Bank Indonesia Independen serta UU Anti-Monopoli. Selanjutnya, pemerintahan Gus Dur dan Megawati memperkuat perkembangan ekonomi hingga Indonesia masuk G-20 dengan pendapatan per kapita sekitar US$ 5.000.
Namun, dibandingkan negara seperti Korea Selatan yang memiliki pendapatan per kapita tujuh kali lipat lebih tinggi setelah 50 tahun, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mencapai kesejahteraan yang adil dan setara. Kesenjangan kelas menengah juga menjadi perhatian penting dalam proses transformasi ekonomi nasional.
Arah Strategi Ekonomi Presiden Prabowo
Pidato Presiden Prabowo menekankan pentingnya peran sektor swasta dan sinergi seluruh sumber daya nasional dalam pembangunan ekonomi. Pemerintah tidak hanya mengandalkan APBN, tetapi juga menggerakkan dunia usaha, pasar modal, sistem keuangan, BUMN, dan sumber daya alam sebagai bagian dari mesin pertumbuhan ekonomi. Inisiatif seperti Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), Danantara Development Management Fund, Indonesia Financial Center (IFC), bursa komoditas strategis, bank emas, dan reformasi pasar modal menjadi bagian dari upaya ini.
Fakhrul Fulvian menilai langkah ini penting untuk mengembalikan kepercayaan sektor swasta agar investasi dapat meningkat nyata, sehingga menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian, pemerintah di bawah Presiden Prabowo berupaya membangun optimisme dan arah yang lebih jelas dalam pembangunan ekonomi nasional, yang tidak hanya bergantung pada kebijakan fiskal pemerintah, tetapi juga pada peran aktif berbagai pemangku kepentingan ekonomi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










