Inovasi 43 Perusahaan AS di RI Diklaim Ciptakan Nilai Ekonomi Rp 434 T
Suara Pecari, Jakarta – Inovasi yang dilakukan oleh 43 perusahaan Amerika Serikat (AS) di Indonesia berhasil mencatat nilai ekonomi mencapai Rp 434 triliun atau sekitar USD 24,8 miliar. Hal ini terungkap dalam Peluncuran Laporan Bisnis AS untuk Indonesia (BISA) 2026 yang diselenggarakan di The Westin, Jakarta, pada Rabu, 16 September 2026.
Dampak Inovasi dan Investasi Perusahaan AS
Menurut Marc Mealy, Executive VP of Research dan Chief Policy Officer US-ASEAN Business Council (USABC), inovasi yang digagas perusahaan AS tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi besar, tetapi juga memberikan dampak langsung kepada masyarakat Indonesia. Laporan BISA 2026 mencatat 91 inovasi yang dilakukan sejak Januari 2020 hingga Januari 2026, yang mencakup investasi, program, dan kemitraan yang berkontribusi signifikan terhadap kehidupan masyarakat.
Marc menjelaskan bahwa fokus utama inovasi adalah meningkatkan keterampilan masyarakat, memperkuat bisnis, dan mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Indonesia.
Rincian Inovasi dan Sektor Terkait
Wanda Firmansyah, Strategic Communications Lead USABC, menjelaskan bahwa nilai ekonomi Rp 434 triliun berasal dari 28 inisiatif inovasi yang diinisiasi oleh perusahaan AS. Secara keseluruhan, 43 perusahaan AS telah melakukan 91 inovasi selama enam tahun terakhir.
Dari total inovasi tersebut, 41 persen berkontribusi pada pembangunan sumber daya manusia dengan jutaan masyarakat mendapatkan pelatihan digital, termasuk lebih dari 4 juta perempuan dan lebih dari 1 juta peserta pelatihan digital. Digitalisasi menjadi fokus utama dalam memperluas akses bagi pekerja, pelajar, keluarga, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan.
Selain itu, 22 persen inovasi mendorong ketahanan energi, konservasi, praktik bertanggung jawab, efisiensi sumber daya, dan pengurangan limbah. Sementara 37 persen inovasi berkontribusi pada peningkatan daya saing bisnis.
Mayoritas inovasi terkonsentrasi pada sektor energi dan pertambangan, termasuk minyak, gas, serta industri makanan dan minuman, yang mencakup sekitar 58 persen dari total inovasi.
Konteks Inovasi di Indonesia
Ketua Apindo, Shinta Kamdani, menyoroti bahwa tingkat inovasi di kalangan pelaku usaha Indonesia masih tergolong rendah. Ia menegaskan pentingnya menempatkan inovasi sebagai prioritas utama untuk memperkuat daya saing dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Survei Apindo pada awal 2025 menunjukkan bahwa 97 persen perusahaan di Indonesia belum menganggap R&D (Research and Development) sebagai prioritas utama. Sebanyak 50 persen perusahaan belum memiliki rencana untuk melakukan kegiatan R&D, 28 persen masih mempertimbangkan, dan hanya 22 persen yang sudah memiliki rencana jelas.
Dampak Jangka Panjang dan Peluang
Inovasi yang dilakukan perusahaan AS di Indonesia tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan dan memperkuat kapasitas bisnis lokal. Hal ini berpotensi memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.
Dengan pengalaman dan praktik inovasi yang telah terbukti, terdapat peluang bagi pelaku usaha Indonesia untuk meningkatkan fokus pada inovasi sebagai strategi utama dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di era ekonomi digital dan globalisasi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









