Impor KRL Bekas Jepang Dinilai Jadi Solusi Darurat, tapi INKA Perlu Didukung

Suara Pecari – Rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk mengimpor rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) bekas dari Jepang dinilai sebagai solusi darurat dalam memenuhi kebutuhan armada yang meningkat pesat. Namun, langkah ini harus diiringi dengan penguatan industri perkeretaapian dalam negeri, khususnya PT Industri Kereta Api (INKA), agar ketergantungan pada impor bisa dikurangi.

Solusi Darurat untuk Mengatasi Kebutuhan Armada

<pMenurut Djoko Setijowarno, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), impor KRL bekas dari Jepang dapat menjadi opsi sementara yang efektif mengingat peningkatan jumlah penumpang KRL Commuter Line terus berlangsung. Kondisi ini membuat kebutuhan armada mendesak, sementara kapasitas produksi INKA belum cukup untuk memenuhi permintaan dalam waktu singkat.

Baca juga:

Djoko menyebutkan bahwa kondisi ini merupakan dilema karena menunggu produksi dari INKA membutuhkan waktu, sementara jumlah penumpang terus bertambah. Oleh karena itu, impor KRL bekas dapat dipertimbangkan sebagai solusi jangka pendek.

Perlunya Dukungan Pemerintah untuk INKA

Meski impor KRL bekas bisa membantu dalam jangka pendek, Djoko menekankan pentingnya dukungan pemerintah terhadap pengembangan INKA. Dukungan tersebut berupa penyediaan modal untuk riset, pengembangan teknologi, serta peningkatan kualitas produksi. Ia juga mengharapkan peran Danantara, badan pengelola investasi, untuk mendukung pengembangan industri strategis nasional, termasuk perkeretaapian.

Menurut Djoko, pengadaan kereta dari luar negeri sebaiknya tidak hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan armada, tetapi juga menjadi kesempatan bagi tenaga ahli dan industri dalam negeri untuk mempelajari teknologi yang digunakan. Hal ini dapat meningkatkan kemampuan teknis INKA dan mempercepat pengembangan produk kereta api nasional.

Potensi dan Produk INKA

Djoko mencontohkan beberapa produk perkeretaapian yang telah dikembangkan oleh INKA, seperti Light Rail Transit (LRT) Jabodebek dan kereta bandara, sebagai bukti potensi industri dalam negeri yang dapat terus berkembang jika mendapat dukungan memadai.

Tantangan Kapasitas dan Konektivitas Transportasi

Selain masalah jumlah armada, Djoko mengingatkan bahwa keterbatasan kapasitas KRL juga terkait dengan fasilitas pendukung transportasi umum, termasuk layanan pengumpan atau feeder. Pertumbuhan kawasan permukiman di wilayah timur Jabodetabek, misalnya, belum diimbangi dengan penambahan kapasitas angkutan umum serta integrasi transportasi yang baik dari kawasan tempat tinggal menuju stasiun KRL.

Baca juga:

Oleh karena itu, peningkatan jumlah armada harus diselaraskan dengan perbaikan konektivitas dan integrasi sistem transportasi agar masyarakat lebih mudah mengakses dan menggunakan angkutan umum.

Kesimpulan

Impor KRL bekas dari Jepang dapat menjadi solusi sementara untuk mengatasi kekurangan armada di tengah peningkatan jumlah penumpang. Namun, penguatan industri perkeretaapian dalam negeri, khususnya INKA, melalui dukungan pemerintah sangat penting agar ketergantungan pada impor kereta dapat dikurangi. Selain itu, peningkatan kapasitas angkutan umum dan integrasi transportasi juga harus diperhatikan agar sistem transportasi publik di Jabodetabek dapat berjalan optimal.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *