Restrukturisasi Besar-besaran, Danantara Bidik Laba Bersih BUMN Sentuh Rp 360 T

Suara Pecari – Danantara Indonesia tengah melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia dengan target laba bersih mencapai Rp 360 triliun pada tahun 2026. Restrukturisasi ini menjadi aksi korporasi terbesar di dunia yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan keuntungan perusahaan pelat merah.

Langkah Restrukturisasi dan Konsolidasi

Kepala Badan Pengelola BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa pada tahun 2026, Danantara akan mengkonsolidasikan 200 perusahaan BUMN, menutup 213 perusahaan yang tidak produktif, serta melakukan restrukturisasi pada 15 perusahaan dan mendivestasi 208 aset nonbisnis inti. Proses ini sudah berjalan dan diharapkan selesai akhir tahun ini.

Baca juga:

Hingga kini, Danantara telah merampingkan 364 perusahaan pelat merah dari total 1.074 perusahaan BUMN. Jumlah perusahaan yang ditutup meliputi entitas kecil yang selama ini merugi, termasuk unit usaha di sektor hotel, rumah sakit, dan anak perusahaan BUMN besar seperti PT Telkom Indonesia dan PT Pertamina.

Perubahan Model Bisnis dan Peningkatan Keuntungan

Perubahan model bisnis yang diterapkan Danantara berhasil meningkatkan performa keuangan BUMN. Contohnya, PT Pupuk Indonesia mencatat kenaikan laba bersih hingga 233 persen dalam enam bulan terakhir, sementara Semen Indonesia mencatat kenaikan keuntungan sebesar 427 persen.

BUMN lainnya juga menunjukkan peningkatan laba, seperti PT Danareksa sebesar 110 persen, PTPN III mencapai 55 persen, dan PT Pertamina naik 48 persen. Total keuntungan BUMN selama delapan bulan pertama tahun 2026 mencapai Rp 214,9 triliun, meningkat 18,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Target dan Tantangan Keuangan

Danantara menargetkan laba bersih BUMN mencapai Rp 360 triliun atau setara USD 20 miliar pada akhir tahun 2026. Target tersebut sudah memperhitungkan penyesuaian penurunan nilai aset (impairment) yang selama 18 bulan terakhir mencapai Rp 135 triliun akibat pembukuan keuangan yang sebelumnya tidak akurat.

Restrukturisasi ini termasuk langkah memperbaiki tata kelola dan model bisnis yang diharapkan dapat memperkuat posisi BUMN di pasar dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Baca juga:

Dampak Restrukturisasi untuk Ekonomi Nasional

Restrukturisasi besar-besaran ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kinerja keuangan BUMN tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Dengan efisiensi yang lebih baik dan fokus pada bisnis inti, BUMN dapat menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi dan penyedia layanan publik yang lebih optimal.

Selain itu, upaya ini juga akan membenahi struktur perusahaan pelat merah yang selama ini dinilai kurang efisien, sehingga menciptakan iklim bisnis yang lebih sehat dan berdaya saing tinggi.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *