Tragedi Maling Ayam di Bali: Massa Main Hakim Sendiri, Polisi Tetapkan 5 Tersangka
Suara Pecari, Seorang pria berinisial KD tewas setelah dikeroyok massa di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, karena diduga mencuri ayam. Peristiwa maling ayam ini memicu gelombang keprihatinan dari berbagai pihak, termasuk Wakil Ketua DPR RI dan anggota Komisi III DPR, serta mendorong polisi untuk mengusut tuntas kasus pengeroyokan yang merenggut nyawa tersebut.
Menurut keterangan polisi, KD diduga tertangkap basah saat mencuri ayam milik warga. Emosi massa langsung memuncak dan terjadi pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Insiden maling ayam ini sontak menjadi perhatian publik karena anak korban yang masih kecil menyaksikan jasad ayahnya, meninggalkan trauma mendalam.
Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati mengimbau masyarakat untuk tidak main hakim sendiri. "Setiap dugaan tindak pidana harus diserahkan kepada aparat penegak hukum. Tindakan main hakim sendiri bertentangan dengan prinsip negara hukum dan berpotensi menimbulkan pelanggaran baru," ujarnya, Senin (27/7/2026). Ia juga meminta kepolisian mengusut kasus ini secara objektif dan transparan.
Senada dengan Sari, anggota Komisi III DPR Abdullah mendesak polisi menangkap pelaku pengeroyokan. "Tidak boleh ada satu pun pihak yang terbukti melakukan atau turut serta dalam pengeroyokan lolos dari pertanggungjawaban hukum," tegasnya. Ia juga menekankan bahwa keadilan tidak lahir dari aksi main hakim sendiri, melainkan melalui proses hukum yang berkeadilan.
Polres Tabanan bergerak cepat. Kasi Humas Polres Tabanan Iptu Ni Luh Putu Wiwik Endrayani mengungkapkan bahwa lima tersangka telah ditetapkan, yaitu MJ (29), WS (38), KB (21), MK (58), dan ND (53). Kelimanya adalah warga Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya. "Penyidik masih mendalami peran masing-masing dan kemungkinan adanya tersangka lain," ujar Kapolres Tabanan AKBP I Putu Bayu Pati.
Di tengah proses hukum, solidaritas warga mengalir deras. Donasi sebesar Rp190 juta berhasil dikumpulkan untuk pendidikan kedua anak KD. Pegiat media sosial Ary Ulangun mengatakan dana tersebut ditempatkan dalam deposito agar dapat digunakan secara optimal untuk masa depan anak-anak. "Harapan para donatur, dana ini benar-benar bisa mengamankan masa depan anak-anaknya," tuturnya.
Sementara itu, psikolog Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinsos P3A Kabupaten Buleleng, Tasya Yumika, mendampingi keluarga korban. Ia mengungkapkan anak-anak KD mengalami trauma psikis, gangguan kecemasan, dan kesulitan tidur sejak kejadian. "Di jam-jam subuh mungkin terbangun, dengan situasi lingkungan yang sunyi pasti beberapa hal ingat bapaknya," jelasnya.
Kasus maling ayam yang berujung tewas ini menjadi pelajaran berharga. Masyarakat diimbau untuk selalu mengedepankan nilai kemanusiaan dan menyerahkan urusan hukum kepada aparat yang berwenang. Dengan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pengeroyokan, diharapkan keadilan dapat ditegakkan tanpa menimbulkan korban jiwa lagi di masa depan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










