Setelah Dua Hari, Kebakaran Hutan di Muara Enim Berhasil Dipadamkan
Kebakaran Hutan di Muara Enim Berhasil Dipadamkan Setelah Dua Hari
Suara Pecari, Muara Enim – Setelah berjibaku selama dua hari, petugas gabungan akhirnya berhasil memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Desa Gumai, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Kebakaran yang mulai terdeteksi pada Sabtu, 4 Juli 2026, ini menghanguskan lahan seluas sekitar 1 hektare. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengonfirmasi bahwa api berhasil dipadamkan pada Minggu, 5 Juli 2026, berkat kerja keras Tim Manggala Agni Daops Sumatera XVI Lahat bersama BPBD Kabupaten Muara Enim.
Kronologi Kebakaran
Kebakaran pertama kali dilaporkan oleh warga Desa Gumai pada Sabtu sore. Api dengan cepat menjalar di lahan yang didominasi semak belukar dan lahan gambut tipis. Tim Manggala Agni yang langsung dikerahkan ke lokasi menemukan titik api yang cukup luas. Pada hari pertama, petugas berhasil memadamkan sekitar 0,25 hektare, namun api masih terus merambat karena kondisi angin dan vegetasi yang kering. Pemadaman darat menjadi fokus utama, mengingat lokasi yang sulit dijangkau kendaraan besar.
Berikut adalah kronologi singkat peristiwa kebakaran:
| Tanggal | Waktu | Kejadian |
|---|---|---|
| 4 Juli 2026 | Siang | Kebakaran mulai terdeteksi di Desa Gumai |
| 4 Juli 2026 | Sore | Tim Manggala Agni tiba di lokasi dan memulai pemadaman |
| 5 Juli 2026 | Pagi | Pemadaman intensif dilanjutkan, 0,25 hektare berhasil dipadamkan |
| 5 Juli 2026 | Sore | Api berhasil dipadamkan total, tersisa asap tipis |
Upaya Pemadaman yang Menantang
Proses pemadaman tidak berjalan mudah. Ferdian Krisnanto menjelaskan bahwa vegetasi yang terbakar didominasi semak belukar di atas lahan gambut tipis dengan kedalaman sekitar 80 cm. Karakteristik lahan gambut membuat api sulit dipadamkan karena dapat membakar di bawah permukaan. Petugas mengerahkan berbagai peralatan, termasuk selang hisap, selang penyalur, dan mesin pompa mini striker. Untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses, petugas juga menggunakan sepeda motor. “Kami menggunakan segala cara agar api tidak meluas,” ujar Ferdian.
Berikut adalah daftar peralatan yang digunakan dalam pemadaman:
- Selang hisap dan selang penyalur
- Mesin pompa mini striker
- Sepeda motor untuk medan sulit
- Kendaraan operasional pendukung
Dampak dan Implikasi Kebakaran
Kebakaran ini menghanguskan lahan seluas 1 hektare yang berstatus Area Penggunaan Lain (APL) dan merupakan milik Desa Gumai. Meskipun tidak ada korban jiwa, kebakaran menimbulkan dampak lingkungan, seperti hilangnya vegetasi dan potensi polusi udara akibat asap. Masyarakat sekitar sempat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah saat asap tebal. Selain itu, kebakaran ini menjadi peringatan dini menjelang musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung hingga September 2026.
Ferdian menambahkan bahwa pihaknya akan terus melakukan pemantauan di sekitar area yang terbakar untuk meminimalisir kebakaran lanjutan. “Kami imbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena cuaca kering sangat mendukung penyebaran api,” tegasnya.
Analisis: Ancaman Karhutla di Sumatera Selatan
Kebakaran di Muara Enim bukanlah kejadian isolatif. Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi rawan karhutla di Indonesia. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa pada tahun 2025, luas lahan terbakar di Sumsel mencapai 5.000 hektare. Dengan masuknya musim kemarau, risiko kebakaran semakin tinggi. Faktor utama penyebab karhutla adalah aktivitas manusia, seperti pembakaran lahan untuk pertanian, serta faktor alam seperti sambaran petir. Pemerintah daerah telah menyiagakan tim Manggala Agni dan BPBD di berbagai titik rawan.
Berikut adalah perbandingan luas kebakaran di Sumatera Selatan beberapa tahun terakhir:
| Tahun | Luas Terbakar (hektare) | Jumlah Kejadian |
|---|---|---|
| 2024 | 3.200 | 120 |
| 2025 | 5.000 | 180 |
| 2026 (sampai Juli) | 1.200 | 45 |
Penutup
Keberhasilan memadamkan kebakaran di Muara Enim dalam dua hari merupakan bukti kesigapan petugas gabungan. Namun, peristiwa ini menyisakan pesan penting: ancaman karhutla masih mengintai, terutama di musim kemarau. Kesadaran masyarakat untuk tidak membakar lahan menjadi kunci utama pencegahan. Dengan pemantauan berkelanjutan dan edukasi, diharapkan kebakaran serupa dapat diminimalisir. Semoga langit Muara Enim tetap biru, bebas dari asap karhutla.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










